“Kekuatan kita belum dapat menandingi daya serbu Pajang yang sebenarnya. Aku pikir, gagasanmu adalah sebuah alasan bodoh untuk bunuh diri. Mpu, malam ini adalah malam pernikahan anakku. Aku tidak ingin merusak kebahagiaannya.”
Mpu Rawaja tertawa pendek. “Kau katakan tidak ingin merusak suasana hatinya, tetapi kau akan tetap menjalankan rencana jika Angling Dhyaksa ada di sini. Betapa licik dan keji dirimu, Ki Juru! Dan sebenarnya engkau harus tahu bahwa anakmu akan mengetahui seluruhnya. Apakah sesaat lagi atau esok hari? Entahlah. Tapi kau tidak akan mampu lari kenyataan itu. Terlebih jika kau lihat sorot mata yang penuh cinta pada lelaki muda itu. Lihatlah! Kau akan tahu cinta di hatinya telah merambat lebih dalam. Dan sekarang, lihatlah dirimu, kau katakan bahwa tak ingin mengacaukan kebahagiannya. Tetapi aku tidak peduli. Aku bukan orang yang licik ataupun keji. Aku hanya seseorang yang akan tetap menjalankan rencana dengan segala akibat yang muncul meski itu adalah kematian anakku sendiri. Urusanmu adalah dengan anakmu, bukan denganku.”
Pandang mata Ki Juru Manyuran tajam menusuk dada Mpu Rawaja. Namun ia tidak mengatakan sesuatu. Dia membenarkan sebagian kata-kata pemimpin Padepokan Sanca Dawala itu.
Bahkan, “Kita adalah orang yang sama, kutu busuk! Aku juga tidak peduli, dan aku telah menyiapkan jalan bagi Sumba Sena untuk menduduki Tanah Menoreh. Yang menjadi perbedaan di antara kita adalah kau tidak tahu rencanaku selanjutnya. Sedangkan menyingkirkan dari jalan itu mudah apabila aku telah menjadi seorang adipati.” Pikiran Ki Juru Manyuran telah menyusun sebuah rencana susulan. Dan ia memang mampu melakukannya.
Tanah lapang yang berada di dekat rumah Ki Juru Manyuran semakin dipadati orang. Nyi Kirana dan beberapa orang telah mendekati tanah lapang. Dengan tanda tertentu, kain hijau yang diselempangkan, mereka membaur dalam kerumunan kecuali Nyi Kirana. Dia sadar jika tidak dapat tampil di hadapan banyak orang karena satu alasan, ada orang-orang padepokan Sanca Dawala di tengah kerumunan.
Sementara Resi Gajahyana mengambil jalan memutar dan mengambil kedudukan di sekitar bagian belakang rumah Ki Juru Manyuran.
Seorang penghubung utusan Nyi Kirana telah menemukan mereka, katanya,”Eyang, Nyi Kirana telah berada di dekat lapangan. Ia menunggu berita dari Eyang.”
“Yang pertama harus dia lakukan adalah menarik Bondan beserta istrinya keluar dari kericuhan. Katakan padanya, aku akan membuka jalan bagi mereka.” Resi Gajahyana mengeluarkan butiran kecil yang mengeluarkan bau aneh. Kemudian dia berkata, “Benda ini akan meledak di udara dan itu adalah arah kalian menuju jalan keluar.”
Utusan itu mengangguk. Dia kemudian minta diri disertai dua orang lainnya dari kelompok Resi Gajahyana. Guru Bondan ini memilih letak yang tepat. Mereka berada di keliling banyak pohon yang tidak begitu rapat, namun tanaman yang lebih pendek mampu melindungi bayangan mereka.
Sementara mereka dapat melihat seluruh bagian belakang rumah Ki Juru Manyuran dengan leluasa.
Tiba-tiba sebuah siulan panjang terdengar nyaring dari sisi kanan tanah lapang. Tak lama kemudian, siulan lain mengikutinya. Banyak orang bersorak karena mengira lengkingan bernada tinggi itu adalah bagian dari pertunjukan yang berada di atas panggung. Sebuah sendratari yang menceritakan kisah seorang raja di masa lalu. Raja yang dikenang sebagai seorang pemikir dan panutan yang teladan.
Siulan bernada tinggi itu mempunyai lagu yang indah. Bahkan seolah menunjukkan bahwa siulan itu bagian dari kegiatan di atas panggung. Beberapa orang terpukau karena keindahan suara yang melantun dan merayap di udara. Sebagian penari terlihat bersemangat memainkan peran karena pikiran yang sama, sebuah kejutan dari pengatur lakon.
Tetapi di bawah panggung, ketegangan merambati raut wajah Ki Juru Manyuran. Dia mendengar dengan seksama dan terkejut karena ia memang mengenalnya. Ia semakin terkesiap dan desir darahnya berhenti melaju.
“Mpu Rawaja!” Tetapi orang yang dia maksudkan telah menghilang dari sisinya. Sebenarnya dia tidak terlalu terkejut lalu kehilangan kendali diri. Bahkan dia merasa seperti menemukan jawaban.
“Bukan aku yang akan menjadi incaran orang-orang Pajang, tetapi Mpu Rawaja. Dia tidak dapat mengendalikan diri dan itu akan mendatangkan bahaya bagiku.” Ki Juru melirik ke arah Siwagati. Dan di matanya, Siwagati belum menunjukkan sebuah perubahan. Siulan yang indah itu ternyata tidak mampu menarik perhatian Siwagati yang masih menghadap Bondan. Segenap hati Siwagati telah bersimpuh di dalam jiwa Bondan.
Kobaran Api
Sejauh itu Bondan juga tidak ingin mengubah letak perhatiannya. Baginya, Siwagati adalah hadiah terindah dari semesta dan dewa-dewa. Dia tidak ingin melewatkan waktu yang menjejak dengan pasti untuk memutar kehidupannya, termasuk malam perkawinannya.
Lamat-lamat dia mendengar suara yang berbeda. Pendengaran Bondan secara cepat bekerja dan memberi berita yang tidak menyenangkan.
“Itu suara kaki berderap cepat.” Tetapi dia tidak ingin mengejutkan Siwagati. Bondan perlahan menoleh ke arah suara lalu melihat kerumunan tersibak. Bondan mengalihkan pandang matanya ke arah lain, dia juga melihat pergerakan yang sama. Beberapa tempat seperti terbelah dan memberi jalan bagi sekelompok orang yang bergerak mendekati pelaminan. Sinar yang sedikit terang membuat penglihatan Bondan dapat menangkap satu perbedaan. Selempang kain hijau!
“Ada dua kemungkinan. Aku mengenali wajah beberapa orang yang mengenakan selempang hijau. Tetapi aku masih asing dengan kelompok yang lain. Dan apa gerangan yang akan terjadi di tempat ini?” kata Bondan dalam hati.
Sepertinya Siwagati pun menyadari perubahan yang terjadi di depan mereka. Selintas dia melirik suaminya dan bahasa tubuh Bondan memberi tanda bahwa sebuah dinding tebal akan melindunginya dari bahaya. Siwagati merasa lega tetapi dia adalah Siwagati, seorang gadis yang menyimpan kekuatan dahsyat sebagai murid Ki Sarwa Jala.
“Aku mengenali beberapa dari mereka yang berselempang hijau. Apakah kamu mengenali yang lain, Siwagati?”
Siwagati mengangguk. “Dua di sebelah kiri adalah pengawal kademangan. Tetapi aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Ayah dan ibu tidak memberi tahu tentang perubahan ini.”
“Bisa jadi, itu bukan perubahan yang diketahui oleh ayahmu. Sebaiknya kita bersiap dengan segala kemungkinan.”
Siwagati berseru tertahan. “Saya tidak mengenakan kain panjang seperti yang Kakang kenakan.”
“Maksudmu?”
“Lupakan! Aku tidak bermaksud apa-apa.” Wajah Siwagati merona merah. Sejenak dia lupa diri bahwa dirinya masih berbalut baju pengantin. Kain panjang berlukis sungai dan pepohonan erat membungkus dua kakinya. “Aku akan kesulitan untuk bergerak cepat.”
“Baiklah, kita sebaiknya berusaha terlihat tenang.” Bondan mencuri pandang istrinya yang terlihat semakin berkilau ketika semburat merah berpendar menghias wajahnya.
Tiba-tiba!
“Tangkap perempuan itu dan singkirkan semua orang Pajang,” Bentakan nyaring menutup perintah yang disarankan oleh seseorang sisi kanan panggung.
Sebuah bayangan melesat deras, lincah melewati kerumunan orang, bahkan dia tak segan mendorong jatuh setiap orang yang dianggapnya menghalangi gerakannya.
“Kakang!” jerit pelan Siwagati. Meski dia adalah wanita muda yang mempunyai watak keras. Tetapi Siwagati belum pernah menghadapi keadaan kacau seperti malam pernikahannya ini. Belasan orang mendadak mengacungkan senjata. Bondan menarik Siwagati ke belakang punggungnya. Bondan masih mengamati perkembangan yang dengan cepat mendadak berubah. Kebahagiaan keluarga Ki Juru Manyuran dan orang-orang Pajang tiba-tiba beralih menjadi jerit tangis.
Kerumunan itu terbelah mendadak, seperti kain tua yang disayat dari tengah. Orang-orang mundur tanpa aba-aba, sebagian terseret arus ketakutan, sebagian lain terpaku, dan dalam sekejap tercipta ruang kosong di jantung tanah lapang—sebuah lingkar sunyi di tengah hiruk-pikuk. Debu terangkat dari pijakan kaki yang berlarian, bercampur bau keringat dan asap obor.
Dari celah kerumunan itu, sekelompok orang melangkah cepat menuju panggung. Gerak mereka terukur dan saling melengkapi. Dua orang melemparkan obor ke sudut panggung, yang lain menumpahkan bahan mudah terbakar ke tiang-tiang kayu. Tidak ada teriakan, tidak ada keraguan—seolah pekerjaan itu telah dilatih sebelumnya.
Api menyambar cepat. Lidah-lidah merah menjilat kain hiasan dan bilah bambu, merambat ke balok-balok panggung. Dalam hitungan napas, cahaya jingga memantul liar di wajah-wajah yang panik. Panas mulai memukul kulit, asap hitam menggulung ke udara malam, dan panggung sendratari—tadi simbol pesta dan kehormatan—berubah menjadi pusat kobaran yang menandai pecahnya kekacauan.
Para penari dan penabuh gamelan melompat turun meninggalkan panggung. Beberapa orang segera berbuat onar di bagian lain. Mereka membuat porak poranda bangku dan meja para pedagang yang mengais rejeki di sekitar rumah Ki Juru Manyuran.
Ratusan orang berlarian menyelamatkan barang dagangan. Di antara mereka, ada yang berusaha meninggalkan tempat untuk mengamankan nyawa. Saat itu puluhan orang telah mengayunkan senjata untuk menakuti orang lain, bahkan sebagian telah melukai orang yang ingin membela diri.
