Dalam waktu itu, perubahan terjadi pada tata gerak Swandaru yang kini lebih cenderung berloncatan setiap kali berpindah tempat. Ledakkan cambuknya memang tapi ujungnya mampu melubangi tanah lapang hingga sedalam sebuku jari. Itu kekuatan wadag yang sangat besar.
Ki Hariman seperti mendapatkan gambaran yang jelas bahwa penguasaannya atas ilmu orang bercambuk memang belum seluwes meski hampir sekuat Swandaru. Walau begitu, dia tetap merasa lega karena pada kenyataan sebenanya isi kitab Kyai Gringsing memang menyimpan dan memungkinkannya untuk mencapai tataran puncak kanuragan.
Tak lama setelah Swandaru memainkan senjata, Ki Hariman pun mengurai pula senjata yang sama. Mungkin ada sedikit perbedaan pada ukuran panjang tapi itu tidak mempengaruhi keseimbangan.
Setelah kemampuan Ki Hariman memainkan cambuk, Swandaru sadar bahwa dirinya harus berhati-hati. Yah, mereka menggunakan tata gerak dasar yang serupa, menggerakkan senjata dengan cara yang sama. Ditambah keadaan lain: Ki Hariman tidak hanya mempelajari satu jalur ilmu, melainkan sudah ada simpanan dari jalur perguruan yang lain.
Swandaru melompat mundur tiga atau empat langkah, Ki Hariman pun beringsut pula.
Itu adalah jarak yang cukup memadai jika perkelahian dilanjutkan dari jarak yang pertengahan. Mereka saling mengamati dan mungkin sama-sama menunggu salah satu menyerang terlebih dulu.
Swandaru dan Ki Hariman mengeser langkah ke samping.
Sekejap kemudian, mereka sama-sama meloncat sambil mengayunkan cambuk. Swandaru cepat mengubah serangannya menjadi tebasan mendatar diikuti gerak tubuh yang tangkas dan sangat cepat.
Ki Hariman tidak mempunyai pilihan selain menyambut serangan Swandaru dengan cara mengadu kekuatan.
Dua ujung cambuk pun bertabrakan!
Ledakan besar terjadi! Suara letusan itu mampu membuat telinga menjadi tuli seketika. Beberapa orang terguling karena ngeri dan juga melindungi pendengaran mereka. Sebagian yang lain melompat, lalu beringsut setapak demi setapak dari tepi tanah lapang.
Namun keadaan yang berbeda justru terjadi pada Ki Astaman dan Ki Garjita. Bagi dua orang ini, pertarungan Swandaru melawan Ki Hariman adalah jalan untuk mengetahui kedalaman penguasaan masing-masing atas ilmu yang bersumber dari jalur Kyai Gringsing.
Ketika dua ujung cambuk saling bertabrakan, hal itu jelas bukan suatu kebetulan, melainkan bukti ketajaman ilmu dari tiap-tiap orang. Udara pun menghentak seperti kaca yang jatuh lalu pecahannya bertebaran liar menyapu sekitar.
Baik Ki Astaman maupun Ki Garjita. keduanya mengangguk-angguk penuh arti lalu bertukar pandang. Nyatalah dalam timbangan mereka bahwa kemampuan dasar yang diperoleh dari kitab memang berbeda dengan yang diajarkan secara langsung.
Ki Hariman memiliki pengalaman yang cukup untuk menutup kekurangan dari pengetahuannya yang bersumber pada kitab. Dengan bekal itu, ia menjadi lawan yang sangat tangguh bagi Swandaru.
Gerakan Ki Hariman pun mengejutkan Swandaru. Meski gerak dasarnya masih bersumber dari jalur yang sama, pengembangannya nyaris tidak dapat dipercaya. Dia lebih berani mengambil keputusan untuk bertarung pada jarak yang sangat dekat—bahkan mungkin kurang dari setengah panjang cambuk.
Udara yang terkipas dari ayunan cambuknya pun mulai terasa panas.
Dalam keadaan itu, ledakan cambuk Swandaru tidak lagi terdengar menggelegar seperti gludug yang memecahkan dinding langit, tapi berubah menjadi dentuman halus dengan getaran yang sanggup merontokkan seisi rongga dada.
“Baik, ini sudah cukup,” kata Swandaru dalam hati.
Sebelum mata sempat berkedip, murid Kyai Gringsing itu pun mengerahkan kekuatan sepenuhnya. Dengan pemahaman atas semua ajaran gurunya, Swandaru mampu mencapai puncak kekuatan ilmunya. Ujung cambuknya tampak membara, dan udara yang mengelilinginya ikut terasa panas.
Hawa panas itu berpusar mengelilingi gelanggang. Sungguh, hawa yang tercipta terasa demikian menyengat seperti api yang menyala hingga rumput di bawahnya mulai mengering lalu berubah hitam tanpa tersentuh api. Tenaga cadangan yang terlontar liar dari sabetan cambuk Ki Hariman bahkan mampu mematahkan ranting yang berjarak lima atau tujuh langkah dari lingkar pertarungan.
Namun Swandaru, dengan tekad kuat untuk membuktikan kepantasan jalur ilmunya, tidak kalah dahsyat. Tebasan sendal pancing dari cambuknya tidak lagi sekadar meninggalkan lubang-lubang dangkal, tapi membentuk garis panjang seperti parit dangkal. Seandainya sapuan itu benar-benar menggapai Ki Hariman, mungkin tubuh orang itu dapat terbelah.
Kesungguhan Swandaru dalam berlatih, menggali kedalaman bagian kitab yang masih diingatnya, ditambah wejangan Kyai Gringsing yang telah mendarah daging, benar-benar menampakkan hasil nyata. Bahkan, Swandaru sendiri sempat terkejut melihat perkembangan kemampuannya yang ternyata melampaui perkiraan sendiri.
“Luar biasa,“ desis Ki Astaman dalam hati.
Maka pengamatannya pun seolah menjadi penegas bahwa sudah seharusnya Swandaru yang duduk sebagai pemimpin perguruan. Tidak perlu ada sandiwara meski seandainya berakhir dengan adanya pemenang pada perang tanding itu.
Penilaian yang sama ternyata juga telah dibuat oleh Ki Garjita. Bahkan dia terpesona dengan kedahsyatan Swandaru.
“Ini, sangat jauh saat dia baru keluar dari Sangkal Putung,” ucapnya dalam hati.
Walau begitu, dua orang tersebut sama-sama belum sepakat pada hasil akhir pertarungan Swandaru melawan Ki Hariman.
Decak kagum dan mata terbelalak terjadi pada setiap orang yang menyaksikan perkelahian dahsyat itu. Sebagian orang yang jarang melihat Swandaru berlatih dan belum banyak mengetahui jati dirinya pun tiba-tiba muncul kebanggaan dalam hati.
“Apakah mereka ini masih manusia…?” gumam seseorang dalam hatinya, napasnya pendek seperti sedang merasa terancam.
“Kalau aku berada di tengah itu, mungkin sudah hancur sejak awal,” bisik yang lain dengan pandangan mata terpusat pada gelanggang seakan tidak berkedip.
“Aku tidak lagi dapat mengikuti gerak mereka semua… hanya bayangan dan warna merah bergantian dengan hijau,” seorang lagi menggeram lirih dalam batin.
Beberapa orang saling berpandangan dengan wajah pucat.
“Salah satu saja dari mereka yang menjadi ketua, yah, sangat pantas untuk dipilih,” terlintas dalam hati seorang pemuda, yang sebelumnya masih menyimpan keraguan. “Tapi apakah harus ada yang mati?”
Dan tanpa mereka sadari, rasa bangga perlahan tumbuh di dalam dada—bangga karena berada di lingkar yang sama dengan orang-orang seperti Swandaru maupun Ki Hariman. Terutama Swandaru karena mereka sangat jarang melihatnya dalam keseharian. Namanya hanya disebut tanpa disertai kehadiran nyata di tengah-tengah mereka.
Ketika Mataram Menjelang Senja
Di waktu yang nyaris tak terpisahkan dari pertarungan sengit Swandaru, mungkin terjadi pada hari yang sama atau hanya berjarak sekejap dalam hitungan hari—langit telah bergeser tipis di antara fajar dan awal subuh.
Dalam keadaan demikian, seorang utusan dari Kepatihan datang bergegas menemui Pangeran Purbaya.
Kedatangan yang tidak biasa tapi putra Panembahan Senapati itu kuasa untuk menolak atau mengabaikannya.
“Dari Nyi Ageng Banyak Patra,” kata utusan itu.
Pangeran Purbaya sedikit merunduk, sementara lengannya bergerak pelan memberi isyarat agar utusan melanjutkan.
“Ki Patih sudah tidak dapat lagi ditinggalkan. Keadaan beliau semakin menurun,” sambung utusan Kepatihan. “Karena itu, Nyi Ageng memohon agar Sinuhun berkenan melonggarkan Ki Tumenggung Agung Sedayu untuk lebih banyak berada di Kepatihan, mengingat kemampuannya dalam pengobatan.”
Pangeran Purbaya mengangguk. Dengan suara lirih tapi penuh ketegasan, dia berkata, “Atas nama Sinuhun, perkenan diberikan.”
Utusan Kepatihan tidak memerlukan penjelasan tambahan, maka secepat itu pula dia meminta diri kembali ke Kepatihan, beringsut mundur setapak demi setapak.
Seorang prajurit segera masuk atas panggilan Pangeran Purbaya, lalu keluar kembali membawa satu perintah untuk Agung Sedayu: atas perintah Pangeran Purbaya dan sepengetahuan Sinuhun, Ki Tumenggung diminta bergeser ke Kepatihan hingga waktu yang akan ditentukan kemudian.
