Dironda 37 kali
Ancaman Ki Garu Wesi semakin nyata ketika perkemahan orang-orang asing berdiri di perbatasan Tanah Perdikan Menoreh. Agung Sedayu segera menghimpun para perwira dan menyusun siasat yang tidak biasa, demi melindungi rakyat tanpa harus menyeret mereka ke dalam perang terbuka.
Di balik ketenangan Menoreh, pasukan khusus diam-diam membangun pertahanan. Kelompok-kelompok kecil disebar, benteng pendem dipersiapkan, dan setiap gerak lawan dipantau dengan cermat. Semua dilakukan tanpa memperlihatkan sedikit pun tanda kegelisahan.
- Pertemuan demi pertemuan untuk persiapan ini dapat disimak melalui saluran intelijen Mataram yang sudah dibukukan dan disebarkan melalui Rapat Siasat Tertutup (AST 06) . Menarik juga karena ternyata kelompok Ki Garu Wesi ini mengincar sasaran lebih sangar. Dan itu terkuak di Geger Alas Krapyak nantinya.
Sementara itu, Ki Garu Wesi mulai menyadari bahwa lawannya bukan sekadar pendekar tangguh, melainkan pemimpin perang yang memahami siasat. Kegelisahan itu melahirkan rencana baru yang jauh lebih licik: menyusup dan menyebar sebelum melancarkan kekacauan di jantung Menoreh.
Di kediaman Ki Gede Menoreh, berbagai pertimbangan terus dimatangkan. Agung Sedayu harus memilih antara menunggu langkah lawan atau mengambil tindakan yang berisiko menyalahi kewenangan. Setiap keputusan dapat menentukan nasib Tanah Perdikan.
Saat malam semakin dekat, kedua pihak telah bergerak dengan rencana masing-masing. Pertempuran belum dimulai, tetapi permainan akal dan kesabaran telah membuka babak yang menentukan.
- Menjelang hari H, di Pajang, eh ndilalah ada juga kisah lain yang intinya gemar memberontak. Dan kita akan bicara pada masa Majapahit. Perkenalkan, Bondan yang lumayan mapan ketika ada Badai dari Grajegan
