Padepokan Witasem
KBA

Bambang Tiwikrama 1

Dikisahkan cerita ini oleh Sawung Telo padaku saat matahari enggan beranjak dari singgasana. Kisah tentang dia, dia adalah lelaki yang dipanggil orang-orang di desanya sebagai Bambang Tiwikrama. Sawung Telo pernah mengatakan padaku bahwa ia tidak mengerti alasan di balik nama Tiwikrama. “Bahkan dengan nama Bambang pun tidak dapat menggambarkan kebagusan wajahnya,” ujar Sawung Telo pada suatu ketika.

Bambang Tiwikrama. Itu adalah nama yang diucapkannya setiap kali ada orang bertanya. Itu bukan nama pemberian dari orang tuanya. Bambang Tiwikrama lahir di sebelah utara hutan Madumangsa pada hari Selasa dengan pasaran Kliwon. Ia bersuara atau mulai dapat berbicara pada saat musim berada di bawah naungan Batara Sakri. Namun ia bukan anak Maharaja Watugunung.

“Pengkhianatan!” geram Bambang Tiwikrama setelah mendengar betapa orang-orang ramai berbahas tentang keburukan yang tidak pernah ia lakukan. Petruk menyimak dengan seksama. Menurut Petruk, Bambang Tiwikrama lebih mirip Naruto jika gagal menjadi The Last Hokage. “Beda tipis. Naruto berkumis tipis dan dapat dihitung dengan jari keriting, sedangkan Bambang? Ia berkumis tebal,” kata Petruk tapi Gareng tampak tidak peduli.

“Itu fitnah. Fitnah. Fitnah. Fitnah!” panjang teriak Bambang sambil mengepalkan tangan. “Banyak kata yang berlarian ke segala penjuru setelah mereka berpusar seperti pusaran air laut, kemudian mereka beterbangan mencari ibu susuhing angin. Ucapan mereka menggema serupa dengan tambur yang dipukul tanpa irama dan nada.”

“Pernahkah engkau mendengar kata-kata mereka?” Petruk bertanya sambil mengiris hidungnya agar menjadi lebih pendek.

“Tidak.” Kata Bambang kemudian, “Aku hanya dapat melihat kereta perang dengan sepasang prajurit di atasnya. Mereka telah menarik busur. Mereka berbusung dada. Mereka…” Mendadak Bambang bungkam.

Suasana begitu sunyi. Waktu berhenti bergerak.

“Apabila engkau tidak berani mengangkat senjata untuk berdiri berhadapan, maka satu-satunya jalan bagimu untuk membalaskan sakit hati adalah menggunting dalam lipatan. Lakukan itu jika tidak ada lagi jalan yang dapat menuntunmu menuju lorong panjang yang gelap.” Suara Petruk mengalun dari atas kepala angin.
“Bagaimana mungkin?” gerak tanya bibir Bambang.
“Hanya itu yang dapat dilakukan oleh para ksatria. Orang-orang pemberani tidak pernah meninggalkan gelanggang perang sebelum darah mengering, mereka enggan beranjak sebelum padang menjadi subur karena siram basah darah prajurit. Apabila engkau berada di dalam kurun itu, maka persendian tulangmu akan terasa nyeri, bibirmu akan kering, pita suaramu akan terputus dan bulu kulitmu akan meremang.
“Saat itu, mungkin engkau akan berkata, ‘Aku tak mampu lagi berdiri.’
“Tetapi hatimu akan menolak jika engkau membawanya pergi. Maka lihatlah pada satu sisi, akan terlihat olehmu sebaris orang-orang yang mengaku sebagai darah dagingmu, kerabatmu atau saudaramu. Lantas, berpalinglah ke sisi yang lain. Kemudian bertanyalah, apakah engkau mencari kemenangan ataukah engkau ingin disebut sebagai pemenang?”

Bambang Tiwikrama. Lelaki yang gemar berkubang lumpur. Ia adalah seekor kerbau tak bertanduk.

Ia menjawab, “Aku tidak mencari kemenangan dan bukan pula seorang pemenang.” Bambang terperanjat. “Petruk? Bagaimana tiba-tiba ia menjadi bijaksana? Apakah karena hidung yang tidak lagi panjang? Ataukah kini ia berubah menjadi Pinokio? Petruk oh Petruk.”
Bambang berjalan mengelilingi Petruk yang duduk bersandar pada sebatang pohon randu alas. Kemudian kata Bambang, “Engkau datang ke tempat ini bukan sebagai tumbal atau sesaji yang sedap bagi raksasa penunggu hutan Madumangsa.”

“Tetapi kau dapat melihat belasan gelang emas berjajar memenuhi seluruh bagian tanganku. Lihatlah!”

Bambang mengibaskan tangan. Ia menolak untuk melihat lebih dekat karena sebuah pesan masuk dari perangkat telepon genggamnya. Dari sebuah Whatsapp Grup ada satu pesan [Ndang mulih, cak. Ono purel nglairno]

Di tengah ayunan kaki yang lebar, mungkin dapat dikatakan sebenarnya Bambang setengah berlari, ia mengingat dengan keras bahwa sesungguhnya ia tidak pernah bergaul dengan purel. “Lalu apa hubungan dengan purel yang melahirkan?” Bambang bertanya dalam hatinya.

Dua jam kemudian, ia telah memangku boneka yang diakui oleh purel itu sebagai anak dari lendir yang disebar Bambang.

“Oh kegilaan apakah ini?” Bambang memperhatikan boneka. “Ini jelas boneka plastik,” desisnya. Kemudian ia mengangkat wajah lantas mengedarkan pandangan pada orang-orang yang duduk berjajar rapi di hadapannya. Menunggu titah sang prabu, Bambang Tiwikrama.

“Kalian telah berbaris rapi dalam duduk. Di depanku, saat ini. Aku tidak meragukan kesetiaan kalian dan perjuangan selama ini telah cukup memberiku bukti. Kalian bicara tentang sesuatu yang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata, tetapi aku? Kalian harus tahu bahwa aku menginginkan kejayaan, kehormatan dan pengakuan tinggi.

“Perlu kalian pahami bahwa aku tidak pernah membunuh. Tidak meniduri perempuan dengan cara sembarangan. Tidak pula bersetubuh dengan sembarang perempuan. Lantas bagaimana boneka ini kalian katakan sebagai anakku?”

“Tuan,” berkata seorang lelaki yang telah diizinkan untuk bicara. “Kami mengenal Anda dan pengakuan Anda itu adalah kebenaran. Tetapi kelahiran boneka dari rahim seorang purel itu juga sebuah kebenaran.”

Bambang tidak menunjukkan air muka yang berbeda. Ia masih berwajah garang dan seakan siap menelan semua orang yang berada di dekatnya.

“Seonggok daging ternyata mampu melahirkan 100 orang Kurawa,” masih berkata lelaki itu.

Namun Bambang memangkasnya. “Siapakah kamu?”

“Aku adalah Sawung Telo.”

“Bicaralah!”

“Aku pun berdiri dengan sedikit pongah. Kau tahu aku kan?” senyum Sawung Telo padanya yang masih ndlongop. “Baiklah, aku lanjutkan ceritanya.”

Radio Sawung Telo berbunyi lagi.

“Tuan tentu tidak dapat menerima kenyataan yang terpapar jelas di bawah penglihatan Anda. Mana mungkin, mustahil, impossible adalah tiga kata yang sudah pasti ada di benak Tuan.

“Tuan Bambang, setelah Pandawa berhasil memenangkan perang di Kurusetra, apakah itu berarti mereka tidak mendapatkan hukuman atau akibat? Bagaimana perasaan seorang kakak ketika membunuh adiknya sendiri? Bagaimana perasaan seorang ibu yang bermusuhan dengan anaknya? Tentu kita sangat sulit merasakannya apabila kita tidak berada di dalam keadaan yang sama. Begitu pula denganku. Aku tidak dapat mengerti perasaan Anda, tetapi mampu memahami penolakan Anda.”

“Engkau bicara seperti baling-baling bambu Doraemon.”

“Itulah kenyataannya, Tuan. Kadan gkita bahagia dengan jalan yang memutar. Ada kalanya kita menjadi Nobita, meski tak jarang kita adalah Azula dari Kerajaan Api. Namun di balik itu semua, kita selalu mencoba bahagia dengan keadaan yang sedang dijalani. Bukankah begitu?”

“Engkau ingin berkata bahwa membunuh adalah kenikmatan? Pemerkosaan itu menyenangkan?”

“Tuan, Sencaki adalah seorang ksatria besar. Kita mengenal Kumbakarna sebagai seorang pahlawan. Namun Anda sedang berada dalam keadaan yang unik. Ini seperti Yesus yang lahir tanpa ayah, seperti Adam yang tiba-tiba ada tanpa orang tua, seperti Hanoman yang muncul dari batu hitam.”

“Gendeng! Kau campur aduk antara kisah nyata dengan rekaan.”

“Lha kita sendiri kan juga sedang direka oleh penulisnya? Sampean lali ta Cak? Kita ini kan juga kisah fiksi yang ditulis lalu dapat dibaca secara nyata. Sik ta, sakjane sing gendeng iki aku opo sampean sih?”

“Baik, baik. Wong gendeng iku bebas.” Bambang menahan geram. “Lanjutkan!”

Related posts

Leave a Comment