Padepokan Witasem
KBA

Pasir Putih

Tidak berhenti mengingat meski menjauh. Ketika sedih telah berlalu, orang berkata mengenai sesuatu yang berbeda.

Aku bertemu dengan seorang pengembara. Tidak terlihat wajah lusuh dan kusam apabila kau menilainya sebelum bertemu. Aku melihatnya seperti malaikat berwujud manusia. Sedikit ia bicara. Sedikit ia bergumam. Diam? Itu bukan keadaan yang tepat.

Pasir putih. Butir berkilau melekat pada ujung kainnya. Ia tidak beralas kaki. Tidak juga bertutup kepala. Ia seorang pengelana.

Kepadaku, ia menulis syair yang ditorehkan di atas pasir setengah basah.

“Seseorang pergi meninggalkanku dengan merenggut segalanya. Ia tidak berkata tentang cinta tetapi sebuah rasa yang sulit dipahami.”

Aku melihat sang pengelana kembali berjalan, menyusur garis pantai, lalu berjalan di atas balok-balok gelombang yang tidak merata. Ia bertutur tentang sepi, sendiri, sunyi, padaku.

Related posts

Wong Edan

Ki Banjar Asman

Tanpa Tudung

Ki Banjar Asman

Satu Kata Saja

kibanjarasman

Rengkuh Ombak Panarukan

Ki Banjar Asman

Leave a Comment