Padepokan Witasem
Bab 6 Pengepungan

Pengepungan 2

Tempaan keras keprajuritan menjadikan kemampuan pasukan khusus yang awal mulanya adalah orang pilihan dari perguruan kanuragan semakin meningkat kemampuannya. Seorang dari mereka setara dengan empat atau lima prajurit biasa, maka dengan begitu kemampuan mereka sangat mengerikan bagi lawan-lawannya.

Serangan hebat pasukan khusus mampu menutupi kekurangan mereka dalam jumlah. Oleh karena itu pengikut Ki Arumpaka menjadi terkejut dengan serangan demi serangan yang datang bergelombang seperti ombak lautan.

Jumlah pengikut mereka semakin berkurang karena luka-luka dan tidak dapat melanjutkan perkelahian sehingga keadaan itu mencemaskan dua orang pemimpin dari kelompok Ki Arumpaka. Pasukan khusus semakin leluasa dalam bertempur dan satu demi satu berdatangan mengepung rapat dua pemimpin Ki Arumpaka.

Selanjutnya perkelahian itu menjadi berat sebelah ketika dua orang itu tidak dapat melepaskan diri dari kepungan rapat pasukan khusus. Ujung senjata pasukan khusus sedikit banyak mampu menyentuh kulit lawannya dan menggores luka panjang yang mengalirkan darah.

Korban-korban mulai berjatuhan terutama dari pengikut Ki Arumpaka yang kebanyakan sudah tidak mampu berdiri meneruskan perkelahiannya. Sementara korban yang terluka dari pasukan khusus masih terus bertempur dengan sengit meski sekedar menutup celah atau sesekali melepaskan serangan jarak jauh.

Toh Kuning meneriakkan perintah yang semakin membuat gerak pasukan khusus hampir tidak terbendung lagi. Maka selanjutnya yang terjadi adalah para pengikut Ki Arumpaka menuai keterbatasan ruang gerak. Keberhasilan pasukan khusus yang mendesak lawannya tanpa banyak menewaskan lawan telah menjadi satu catatan sendiri dalam hati lawannya, termasuk dua pemimpin Ki Arumpaka. Maka hampir serentak mereka menjatuhkan senjata dan menyerah.

Ki Arumpaka yang masih berdiri tegak di serambi depan berkata lantang pada pengkutnya,“Kalian adalah orang-orang bodoh yang mudah menyerah!”

“Kami tidak ingin mati.”

“Lalu bagaimana dengan usaha kalian sebelumnya?”

“Aku anggap itu adalah kebodohan,” jawab Singayuda.

Seiring dengan hilangnya suara Singayuda ditelan angin, tiba-tiba telapak tangan Ki Arumpaka mendorong ke arahnya. Suara angin menderu mengiringi hentakan tenaga inti yang dilontarkan Ki Arumpaka dari jarak jauh. Namun tiba-tiba terdengar bunyi ledakan seolah-olah tenaga inti Ki Arumpaka membentur besi tebal. Seketika ia menoleh pada Toh Kuning yang rupanya melepaskan tenaga inti guna membendung hawa pukulan Ki Arumpaka.

“Hanya satu dua orang muda yang mampu berbuat seperti itu di tlatah Kediri,” gumam Ki Arumpaka dalam hati. Ia telah mendengar apabila ada orang muda berkepandaian tinggi bergabung dalam pasukan khusus Selakurung. “Tentu orang itu benar-benar luar biasa jika ia adalah prajurit Kediri,” masih Ki Arumpaka bergumam dalam hatinya,“ di tengah waktu yang terbagi dengan kegiatan sebagai prajurit, ia masih mampu mencapai tingkat demikian tinggi.” Ki Arumpaka dapat memperkirakan ketinggian ilmu lawannya yang masih muda itu. Ia harus bertempur dengan seluruh kepandaian yang ia miliki.

Rentetan bentakan dahsyat menjadi awal terjangan Ki Arumpaka. Suara Ki Arumpaka mengguncang dada orang yang mendengarnya. Toh Kuning merasakan tubuhnya terguncang hebat saat tenaga inti yang terkandung dalam suara itu mulai membentur tubuhnya. Pada saat yang bersamaan, tubuh Ki Arumpaka melesat seperti kilat disertai lecutan cambuknya mulai meledak dan mematuk leher Toh Kuning. Dengan keris yang telah berada dalam genggaman, Toh Kuning menyambut ujung cambuk Ki Arumpaka dengan sebuah tusukan. Bunyi ledakan kembali terdengar menggelegar. Kini yang terjadi adalah ujung kedua senjata berbenturan sangat hebat. Bunyi yang ditimbulkan sungguh menggoncang dada.

Pertempuran itu pun berlangsung semakin dahsyat. Kedua jenis senjata saling beradu di medan. Desing suara senjata saat menyambar terasa menyakitkan telinga. Keduanya saling menyambar, saling mendorong dan saling mendesak.

Cambuk Ki Arumpaka berputar-putar sangat cepat mengurung Toh Kuning yang telah meningkatkan daya tahan tubuhnya. Toh Kuning berusaha mengambil kelebihan yang dimilikinya maka ia kemudian berusaha mempersempit jarak tempurnya. Tiba-tiba satu loncatan pendek ia mendekat seraya menebaskan kerisnya menyerang lambung.

Related posts

Pengepungan 9

kibanjarasman

Pengepungan 8

kibanjarasman

Pengepungan 7

kibanjarasman

Pengepungan 6

kibanjarasman

Leave a Comment