Padepokan Witasem
Bab 6 Lembah Merbabu

Lembah Merbabu 16

Meskipun Ki Getas Pendawa tidak ingin tergesa-gesa untuk menuntaskan perlawanan para penentang, tetapi ia teringat Adipati Pajang yang mungkin saja menghadapi keadaan yang berbeda dengannya. Maka sesaat kemudian, tandang Ki Getas Pendawa menggetarkan hati lawan-lawannya. Sepasang ranting itu kemudian berputar lebih kuat bahkan setiap kali terjadi benturan maka hampir dapat dipastikan senjata lawannya akan terlepas.

Para pengeroyok Ki Getas Pendawa telah memperhitungkan tingkat ilmu dari paman Adipati Pajang itu, bahkan mereka mempunyai penilaian tersendiri atas keberadaan sepasang ranting yang panjangnya tak lebih dari sejangkauan tangan. Namun kenyataannya adalah Ki Getas Pendawa telah melampaui dugaan mereka. Sekilas memang terlihat ganjil bahwa sepasang ranting itu tidak patah saat membentur senjata yang terbuat dari besi dan kuningan, tetapi Ki Getas Pendawa adalah orang berkepandaian tinggi sehingga ranting kayu pun mempunyai kelebihan ketika berada dalam tangannya.

Betapa kemudian mereka mengalami sendiri bahwa benteng Ki Getas Pendawa sangat sulit ditembus meski empat orang itu telah mencapai puncak ilmu mereka. Para pengikut Batara Keling merasa kedudukan tidak lagi seimbang, namun mereka masih menunggu perintah Rambesaji untuk melakukan tekanan secara bersamaan.

Bahkan sering  kali Rambesaji harus menahan geram perasaan ketika lengannya kesemutan seriap benturan terjadi. “Ini benar-benar tidak boleh terjadi karena akulah yang terbaik!”

Setiap kali mereka melakukan tekanan, Ki Getas Pendawa selalu dapat menjaga keseimbangan perkelahian. Bahkan lambat laun mereka terdesak oleh Ki Getas Pendawa yang mulai menapak lapis lebih tinggi.

“Mereka memberiku keterangan yang salah,” geram Rambesaji dalam hatinya. Sebelumnya ia memperkirakan bahwa iring-iringan Adipati Pajang akan dapat dibinasakan dengan mudah. Laporan yang diterima Rambesaji menyatakan bahwa Adipati Hadiwijaya adalah satu-satunya orang berilmu tinggi dalam rombongan itu.

Meskipun demikian, Rambesaji dan kawan-kawannya belum menunjukkan tanda-tanda untuk menyerah. Beberapa kali mereka berusaha menyerang bersama-sama, tetapi serangan mereka seperti tidak menimbulkan pengaruh yang berarti bagi pertahanan Ki Getas Pendawa. Dengan sebuah tanda yang hanya dikenali oleh kalangan mereka sendiri, Rambesaji dan kawan-kawannya kemudian melompat surut.

Udara di sekitar lingkar pertempuran yang tidak seimbang dari segi jumlah itu kemudian berubah-ubah. Dalam waktu singkat, udara menjadi hangat lalu dengan tajam meningkat semakin panas lalu kemudian secara mendadak beralih menjadi sejuk dan dingin. Perubahan udara itu berlangsung begitu cepat dan silih berganti dari panas menjadi dingin, dari dingin menjadi panas. Debu-debu mengepul tinggi meskipun tidak ada pergerakan dari lima orang yang berada dalam lingkaran perkelahian itu. Daun-daun kering berputar-putar seperti tertiup oleh badai kecil yang melanda kawasan luar dari hutan kecil yang terletak jauh di luar kota Pajang.

Secara mendadak berulang kali udara panas saling mendesak dan mendorong udara dingin. Benturan yang tidak tampak oleh mata biasa itu memang membingungkan. Yang terjadi sebenarnya adalah Rambesaji dan kawan-kawannya bergantian mendesak Ki Getas Pendawa dengan udara yang berlainan watak, sementara dalam ada itu, Ki Getas Pendawa mempertahankan diri dengan tenaga inti yang sama sekali tidak mengeluarkan sifat panas dan dingin. Di sinilah kehebatan Ki Getas Pendawa yang sebenarnya, ia mampu membelit dan membenturkan gabungan tenaga inti yang berlainan tanpa disadari oleh lawan-lawannya.

Dalam benturan-benturan seperti itu, lawan-lawan Ki Getas Pendawa mengira berhasil menembus benteng pertahanan cucu Prabu Brawijaya.

Beberapa kejap mata kemudian, tiba-tiba Ki Getas Pendawa lenyap dari pandangan. Dalam suasana gelap, bayangan tubuh Ki Getas Pendawa sudah tidak dapat terlihat lagi meski Rambesaji telah mengerahkan puncak ilmunya untuk mempertajam penglihatannya. Barisan pengepung Ki Getas mendadak berubah menjadi tidak teratur, mereka kebingungan memperkirakan kedudukan Ki Getas Pendawa yang seperti lenyap ditelan bumi. Indra pendengaran mereka juga tidak dapat menangkap getar bunyi yang ditimbulkan Ki Getas saat bergerak.

Related posts

Leave a Comment