Padepokan Witasem
Prosa Liris

Liris : Petaka Harta (Legenda Pulau Bali)

Kemiskinan menghantuiku dan hanya judi satu satunya yang bisa mengangkatku cepat kaya raya. Tapi nyatanya harta yang tak seberapa telah tandas.

“Terperangkap dalam kubang kemiskinan ” kataku pada Ayah.

“Apa daya anakku, aku hanya si tua renta. Tak bisa memberi apa-apa.”

“Aku ingin bertapa saja agar bisa cepat kaya” kataku menimpali ayah.

loading...

Benakku berjuta mimpi
Bermain dengan kemilau emas dan bermandi bulir berlian akan sangat menyenangkan.

Berdayangkan para wanita yang selama ini mencibirku.
Bercumbu dengan para selir yang tak henti menghujaniku dengan ciuman.

Beristrikan putri raja Doha yang rupawan bak bidadari dari Khayangan bukankah sangat membahagiakan.
Keelokan tubuhnya terbayang, gerai rambutnya yang bagai mayang terurai. Sangat mempesona dan menggairahkan.

Berpengawal teman sepermainanku pastilah penuh kegembiraan.
Dan ayah pun akan bangga memilikiku sebagai putranya.
Manik Angkeran yang kaya raya.

Ayah menjawab keinginanku. Ia memintaku mendatangi Naga Besakih. Meski terkejut, aku harus tempuh perjalanan itu.
Berbekal genta emas sebagai pemanggil Naga Besakih aku menuju hutan.

Perjalanan yang panjang tapi sedikit terabaikan karena benakku bermain impian bersanding dengan sang Putri. Dan pikiran teracuni dengan keinginan bercumbu penuh kelembutan dengan wanita yang sangat kucintai. Terbayang bagaimana wangi tubuhnya melekat peluh kenikmatan dan mendaki puncak penuh hasrat.

“Akh!” desahannya akan menyentak ragaku.

Sepanjang jalan benak masih saja tergoda menjual genta tapi entah mengapa langkah kaki tetap saja ke hutan belantara.

Akh, sialan aku terlupa membawa obor sebagai penerang. Aku tak berpikir bila malam menyergap sementara onak duri dimana-mana.

Dan aku harus melalui tebing yang curam menuju gua. Aku harus bergegas agar tak kemalaman di perjalanan.
Keletihan mendera seketika berbuah kegembiraan karena dibalik rimbun perdu terlihat gua.

Naga Besakih ada di dalam gua dengan yang penuh emas dan permata.

Dengan kelicikanku bisa memperdaya Naga Besakih.

Aku membunuh Naga Besakih dengan pedang yang berkilau. Merah darah Naga Besakih makin menjadikan pedang itu menyala terang.

Aku terpana!

“Durjana kau Manik Angkeran, aku berniat memberikan hartaku tapi kau ingin membunuhku! ” Murka Naga Besakih.

Dari tempat ini, aku yang bernama Manik Angkeran, bersuara padamu dari dalam timbunan emas.

 

Persembahan Dahlina. Martapura tempatnya bermukim. Dalam Legenda Pulau Bali, pena menggurat lembar lontar.

Wedaran Terkait

Songsong Bukan Puisi

admin

Sikil nJeber..

admin

Puisi :Peluk Senja di Lereng Lawu

admin

Puisi :  Aku Dalam Birumu

amazingdhee

Puisi : Tertikam Rasa/Lina Boegi

admin

Puisi : Temaram/Winy

admin

2 comments

Dahlina 19/05/2019 at 00:18

Berkat mata elang ngeliat aja deretan sampah. Dan karena cabikan para rex…dan dengan kesabaran ki Guru membimbing maka liris ini bisa tergores dari penaku yang mampet.
Terimakasih

salam hormat,
upik abu

Reply
ki banjar asman 20/05/2019 at 00:18

Karena kita adalah Anu! Terima kasih sudi nengok.

Reply

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.