Padepokan Witasem
Kepak Sayap Angsa

Mata Senja

Dia bernama Rinjani. Perempuan menjelang senja dengan garis kecantikan yang masih terpancar nyata. Kecantikan yang tak pernah luntur seperti kasihnya yang terjaga untuk seorang belahan jiwa. Ribuan senja berlalu. Ribuan mata telah meredup. Perempuan itu menyeduh dua cangkir kopi, seperti biasa. Meletakkannya dengan hati-hati di atas meja dengan taplak bergambar bunga. Rinjani memilih untuk ditemani dua cangkir kopi yang tebarkan aroma sunyi. Sebuah kursi di hadapan dibiarkannya tanpa penghuni.
Selalu begitu.
Selalu sunyi.
Tahun demi tahun berganti, melukis garis-garis di sudut bibir dan matanya. Senja demi senja berlari, sementara dia tetap mengeja kisahnya sendiri.
Menjelma sahabat saat harap nyaris sekarat. Menjadi dirinya saat dia lepaskan segala luka dan kecewa. Namun ada satu hal yang membuatnya kuat, cinta. Cinta untuk lelaki yang berpuluh tahun pergi tanpa kabar berita. Hanya sepatah kata yang membelai lembut telinga, kala sang kekasih mengurai pelukan sesaat sebelum kepergiannya.
“Tunggu aku, Rinjani. Aku pasti kembali.”
Sepatah kata itu serupa mantra. Saat dia lelah merangkai sunyi, sepatah kata itu datang menguatkannya. Dia menyeduh harapan dalam dua cangkir kopi pekat. Cintanya merekah seperti saat ini, manakala beranda dan senja serasi dalam pandang.


Maospati, 05 Juli 2020 (Lina Boegi)

Related posts

Leave a Comment