Padepokan Witasem
Panembahan Tanpa Bayangan

Sayoga 5

Ki Jagabaya tampak mulai mengkhawatirkan keadaan para pengawal. Ia sadar jika perempuan lanjut usia itu menjadi marah maka akan mudah membunuh para pengawal. ”Berhentilah bermain-main dengan senjata. Mungkin saja malam ini akan membawa satu bencana bagiku dan pedukuhan kita. Dan aku ingin kalian tetap hidup menjadi saksi!” seru Ki Jagabaya pada para pengawal.
Jantung para pengawal mendentum lebih kencang. Gema suara menggedor gendang telinga mereka. Beberapa orang menjadi pucat karena kata-kata Ki Jagabaya.
Setapak Ki Jagabaya berkisar maju, ia mengacungkan telunjuk ke arah Sayoga. Lalu serunya, “Awas serangan!”
Ketika dilihatnya Ki Jagabaya bersiap meluncurkan serangan, Ki Wijil akhirnya membuka suara. Katanya, “Ki Jagabaya. Kami tidak mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi padamu. Lalu kau tiba-tiba berkata kematianmu akan menjadi musibah bagi pedukuhan. Sebenarnya kami tidak mempunyai kepentingan apapun dengan pedukuhanmu. Tidak ada satu orang pun yang kami kenal di pedukuhan.” Kemudian ia menutup ucapannya dan berdiri tegak penuh waspada.
Namun sebelum ia membuka mulutnya lagi, tiba-tiba seseorang berkata, “Atau karena kau seorang jagabaya, lalu merasa berhak menyerang kami dengan alasan untuk keamanan? Aku menantangmu, Ki Jagabaya!” Sayoga memotong ucapan ayahnya.
“Kalian begitu pandai memutar kenyataan. Jika bukan kalian, lalu siapa yang berani bermalam di tepi hutan ini? Kegiatan kalian telah jelas membuktikan kalian memendam maksud tertentu sehingga berani bermalam di tempat ini,” kata Ki Jagabaya.
Sayoga semakin kesal dan marah dengan tuduhan Ki Jagabaya. Dengan geram ia lantang bersuara, “Kenyataan mana yang telah berputar balik? Ki Jagabaya, di hadapan pengawalmu sebaiknya kau dapat menjaga batasan. Kami sekeluarga dapat saja dengan mudah melarikan diri setelah mengalahkan kalian semua. Atau bahkan sama sekali tidak akan bermalam. Tetapi ayahku mengajarkan untuk tidak menghindari persoalan yang datang. Baiklah, katakan apa yang kau inginkan!”
“Aku melihat kalian berhenti di bawah sebuah pohon. Bukankah kalian dapat bertanya pada kami semua tentang apa yang sedang terjadi? Tetapi kalian meninggalkan kerumunan itu dengan diam-diam. Itu memberi arti jika memang benar kalian terlibat dalam kejahatan yang bergelayut di pedukuhan ini,” Ki Jagabaya berkata lebih keras.
“Salah! Ki Jagabaya terlalu gegabah menganggap kami sebagai bagian penjahat. Namun begitu, kami akan bertahan demi kehormatan dan harga diri,” balas Sayoga.
“Harga diri? Semenjak kapan para penjahat mempunyai harga diri? Sayoga, ikutilah aku sampai ayahmu membuktikan jika kalian tidak bersalah.” Ki Jagabaya bergeser lagi ke depan. Sementara itu ia juga memberi aba-aba pada para pengawal untuk lebih rapat mengepung keluarga Ki Wijil.
Para pengawal pedukuhan setapak demi setapak bergerak lebih dekat.
Nyi Wijil memandang berkeliling dengan pengawasan tajam. ” Mendekatlah jika kalian ingin berpisah dalam usia yang masih muda,” desis tajam Nyi Wijil menebar ancaman.
Orang-orang yang mengepung mereka saling bertukar pandang dan menunggu perintah Kang Minto. Tetapi rupanya Kang Minto masih menantikan isyarat dari Ki Jagabaya.

Suasana senyap dan mencekam semakin menancap ke jantung banyak orang. Langit menyirami hutan dan daerah sekitar dengan rintik-rintik air yang tidak begitu rapat. Dalam waktu itu Ki Wijil belum berkata-kata lagi. Seperti batu cadas di lereng gunung, ia berdiri tegak memandang lurus KI Jagabaya. Ki Wijil dibayangi dengan keraguan mengenai orang yang mengaku sebagai Ki Jagabaya.
“Ki Jagabaya, aku ingin sedikit bercakap denganmu,” kata Ki Wijil menapaki rumput yang basah oleh gerimis, “sedikit menjadi terang bagiku jika benar apa yang ada dalam dugaanku.”
“Katakanlah, Ki Sanak.”
“Mengingat kembali keadaan kita di masa Pajang. Aku rasa kau adalah seorang lurah termuda yang saat itu diwisuda oleh Sultan Hadiwijaya.”
“Kau belum kehilangan nalar, Ki Sanak. Sekarang aku katakan padamu agar anak muda yang mengaku sebagai anakmu juga mengetahui siapa dirimu di masa lalu. Ceritakan kepadanya jika akhirnya kau lebih memilih mengikuti anjuran Ki Juru Martani untuk keluar dari tlatah Pajang. Kau menjauh dari ajakan untuk membalas kematian Arya Penangsang. Kau benar- benar licik, Ki Wijil.”

Related posts

Singkat tentang Panembahan Tanpa Bayangan

kibanjarasman

Sayoga 8

kibanjarasman

Sayoga 7

kibanjarasman

Sayoga 6

kibanjarasman

Leave a Comment