0%
Still working...

Membidik 12 – Siasat Tanpa Perlu Lawan

Dironda 4 kali

“Sungguh menarik!” seru Agung Sedayu. “Apabila jalan pintas itu dibuat oleh prajurit peronda, maka semestinya kita dapat mengetahui keberadaan mereka. Karena nalar saya mengatakan seharusnya kita telah mendengar gerak gerik mereka di sekitar jalan itu. Namun yang terjadi tidaklah demikian. Tidak selamanya nalar dapat mengamati sesuatu yang tengah atau telah berlangsung. Maksud saya begini, sekalipun jalan itu dibuat oleh para peronda maka Kakang juga mengetahuinya lebih awal lalu mengamankan keadaan di sekitarnya. Pengamatan Kakang sebagai tumenggung tentu mampu melihat ruang yang lebih luas dari sekedar jalan setapak.”

“Aku memang telah mendapatkan laporan dari mereka tetapi jalanan itu bukanlah jalan yang telah dapat dilalui sewajarnya. Sejauh engkau melintasinya hingga Sangkal Putung, menurut mereka pada saat itu, yang ada hanyalah ranting-ranting yang patah dan sedikit jejak kaki,” Untara kemudian memaparkan penemuan para peronda mengenai keadaan jalanan.

Selepas menyelesaikan kata-katanya, Untara menutupnya dengan pesan tegas, “Pengamanan dan pengamatan telah kami terapkan, namun ada kemungkinan dan mungkin hanya satu-satunya yang tersedia. Bahwa kita menghadapi lawan yang telah mengamati keadaan di sepanjang poros Jati Anom dan Sangkal Putung. Bila kita memang tidak dapat mengetahuinya, itu karena mereka telah melakukan pengintaian untuk masa yang cukup lama.”

“Pada masa seperti sekarang ini, pengintaian atau segenap yang ada pada kita tidak dapat menjadi penentu kemenangan,” kata Agung Sedayu yang cepat menanggapi pemikiran Untara. “Persoalan sebenarnya adalah kita tidak mengetahui kedudukan Raden Atmandau, dan kita sepakat tentang itu. Kemudian, kita juga tidak mengetahui jumlah orang-orang yang siap mengangkat senjata demi Raden Atmandaru. Apakah kita dapat membuat keduanya sebagai batasan?”

Tidak ada orang yang menolak kesimpulan Agung Sedayu. Seluruhnya menyatakan setuju meski tanpa kata-kata yang diucapkan. Walau terbit semacam kesangsian terhadap rencananya sendiri, namun Agung Sedayu meneguhkan niat bahwa bahaya selalu ada karena mereka adalah prajurit Mataram. Kekhawatirannya pada bahaya yang mengancam pasukan Mataram tidak akan lebih kecil dari musibah yang akan diterima oleh rakyat Jati Anom dan Sangkal Putung. Bahkan Mataram dapat saja menjadi lebur apabila ia mendengar suara-suara sangsi yang masih berteriak lantang di dalam hatinya.

Sinar matahari menerobos tipis dengan cara miring melewati ranting dan daun tumbuh-tumbuhan di wilayah Jati Anom. Hari belum beranjak menuju siang sehingga permukaan daun-daun basah masih terlihat berkilau. Agung Sedayu belum merasa lelah saat menepiskan kesangsian yang perlahan sirna dari hatinya.

“Kita tidak perlu memaksakan diri untuk mencari tempat mereka bersembunyi,” kata Agung Sedayu. “Namun kita akan menampilkan pada mereka suatu upaya pencarian yang terkesan sangat keras.”

“Hal itu segera sampai pada pemimpin kelompok mereka,” sahut Untara, “pengurangan jumlah prajurit adalah kepastian dalam pikiran mereka.” Untara memandang wajah satu demi satu orang-orang di sekitarnya. “Aku pikir pengerahan prajurit justru mendatangkan kesulitan karena banyak jalan yang harus kita awasi sementara jumlah prajurit telah susut.”

“Tidak seperti itu, Kakang,” Agung Sedayu berujar. “Para pengawal pedukuhan dapat mengenakan pakaian yang serupa dengan prajurit Mataram. Mungkin itu dapat mengelabui pandangan mata petugas sandi Raden Atmandaru. Bisa jadi mereka akan mencari tahu jalan masuk bantuan dari Mataram, mungkin juga mereka akan turun mengorek penjelasan dari pategalan dan orang-orang di sawah, mungkin juga mereka bergabung dengan para pedagang di pasar-pasar yang ada di Jati Anom.” Setelah meletakkan kedua lengannya di meja kayu, Agung Sedayu melanjutkan dengan yakin, “Tetapi mereka tidak akan mendapatkan yang mereka inginkan.”

“Karena kita yang membuat pakaian lalu mengenakannya pada para pengawal?” tanya Sabungsari.

“Benar,” Agung Sedayu menegaskan, “lantas kita mengalihkan atau membuat pergerakan secara bergilir. Pengawal padesan akan terus menerus berpindah tempat, dari dusun ke dusun, dari sawah ke sawah. Bergantian. Aku harap yang muncul di benak mereka adalah bala bantuan Mataram telah datang dan menyebar ke banyak penjuru.”

“Apakah itu juga akan berlaku di Menoreh?” Prastawa membuka suara.

Agung Sedayu mengalihkan mata pada pemimpin pengawal Tanah Perdikan, kemudian ucapnya, “Ya. Engkau dapat melakukannya dengan bantuan Ki Sanggabaya. Pasukan khusus akan berbaur dengan para pengawal tanpa ada perbedaan pada pakaian dan lainnya. Kita buat semuanya serupa dengan Mataram. Dalam jumlah tertentu dan waktu yang terukur, mungkin mereka benar-benar dapat dikelabui.”

 “Sejujurnya saya sedikit khawatir dengan keadaan para pengawal,” desah Prastawa. “Mereka telah lama meninggalkan senjata meskipun saat ini kesiagaan mulai bangkit, tetapi itu belum cukup untuk menutup gerak lawan.”

“Prastawa,” kata Untara, “selama bertahun-tahun aku telah melihat kalian bertempur. Aku menjadi saksi kebangkitan kalian ketika Ki Tambak Wedi berhasil merebut pedukuhan induk. Aku dan Agung Sedayu turut berada di dalam barisan kalian ketika terjadi pengepungan Madiun. Aku kira tidak semestinya engkau mengungkapkan seperti itu.“

Agung Sedayu menambahkan ucapan Untara. Ia berpikir bahwa Prastawa harus diingatkan tentang sejarah Menoreh di masa lampau. “Panembahan Senapati sering mengatakan perihal baik mengenai para pengawal Tanah Perdikan. Aku masih ingat saat beliau mengusulkan adanya barak pasukan khusus di Menoreh. Beliau menimbang kemampuan Ki Gede Menoreh dan watak para lelaki di sana. Pergolakan, perseteruan dan peperangan berulang-ulang mengarahkan tajamnya senjata ke tanah kelahiranmu, Prastawa. Dan kalian dengan berani mengangkat dada untuk melewati itu semua. Sekarang, engkau dapat melihatnya. Engkau ditemani oleh anak-anak yang tumbuh sebagai pria yang perkasa. Maka tidak perlu ada keraguan tentang keadaan para pengawal. Sekali-kali tidak ada.”

Prastawa tergetar hatinya sepanjang Untara dan Agung Sedayu melontarkan kata-kata yang menghempaskannya ke masa lalu. Ia teringat ketika memilih untuk bergabung dengan Ki Tambak Wedi namun pengampunan dari Ki Gede dapat diraihnya. Lalu ia mulai berkembang dan perlahan mendapatkan kepercayaan tinggi dari penguasa Menoreh sebagai kepala para pengawal Tanah Perdikan. Sekalipun kedudukan itu tidak termasuk dalam jajaran keprajuritan Mataram, tetapi pemangku keamanan Tanah Perdikan Menoreh selalu mendapat tempat istimewa di dalam lingkaran prajurit Mataram. Selain kemampuan bertempur orang per orang, penguasaan gelar perang oleh para pengawal Menoreh juga tidak kalah dari tataran tertentu prajurit Mataram.

“Bila demikian, “ucap Prastawa, “tidak ada yang perlu saya khawatirkan.”

“Kalau pengawal Menoreh telah membaur dengan pasukan khusus, tentu kemampuan mereka akan cepat meningkat karena kita tahu kehebatan anak buahmu dalam menyerap pengetahuan baru,” Ki Widura berujar agar Prastawa semakin yakin dan besar hati.

  • Membidik menjadi syarat untuk dapat turut serta bergabung dalam keprajuritan Mataram.
  • Pada saat-saat terakhir, seseorang mengatakan ada kebenaran yang sedang disembunyikan oleh para pemimpin prajurit Demak. Dia mengucapkan kalimat itu di saat armada Demak merasa telah menunggu perintah terlampau lama ketika Lamun Parastra 30.
  • Situasi angkatan perang Demak tidak kalah sulitnya dengan yang dihadapi pengiring Bondan yang terpaksa kembali ke Pajang. Jalan setapak itu diapit sebuah tebing di sisi kiri mereka, dan pohon-pohon kecil di samping kanan. Dan di bawah pohon itu adalah turunan yang curam saat terjadi Malam Petaka 12.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.