Membidik 7

Pagi itu menjadi awal hari yang tidak dapat dilupakan oleh orang-orang Jati Anom. Mereka melalui malam dengan rasa takut luar biasa, kemarahan yang memuncak, dan kebingungan yang tiada tara. Musuh yang tidak diketahui wujudnya tiba-tiba memanaskan Jati Anom yang tengah dilanda udara dingin lereng Merapi. Tetapi ketika hari berganti, wajah cerah dan bersemangat menghiasi setiap permukaan tanah pedukuhan yang bertetangga dengan Sangkal Putung. Walau mereka dilanda ketakutan dan kecemasan yang nyaris memuncak, namun semua telah berlalu. Sebagian orang masih membenahi jalan-jalan berlapis batu. Sebagian batu berserakan, sisa-sisa kebakaran masih berserak di sejumlah tempat dan asap masih mengepul tetapi kekuatan hati orang-orang Jati Anom akan menyibak segalanya. Mereka akan bangkit dalam waktu dekat.

Di dalam bilik Untara, senyap telah menyergap perasaan orang-orang yang berada di dalamnya. Keadaan yang sangat berbeda dengan suasana di luar barak prajurit. Pertanyaan Agung Sedayu seolah mempunyai kekuatan untuk mengubah bilik kerja Untara menjadi kuburan. Setiap orang mengalami kesulitan untuk mengutarakan isi pikiran, bahkan mungkin untuk bernapas pun mereka menemui kesukaran.
“Apakah engkau bermaksud untuk menelisik asal usul Raden Atmandaru?” suara Untara menguak keheningan.
Sejenak Agung Sedayu menatap wajah kakaknya kemudian katanya, “Tidak. Saya ingin berpegang pada kabar yang didengungkan oleh pengikut Raden Atmandaru : bahwa dia adalah anak dari Panembahan Senapati. Saya pikir kita tidak cukup mempunyai waktu untuk berbantahan tentang perihal itu.”
“Lanjutkan,” kata Ki Widura.
“Kita tidak mengetahui secara pasti keseharian Panembahan Senapati, dan itu adalah kebenaran tunggal. Jadi saya meminta semua orang yang berada di tempat ini agar dapat menerima berita itu sebagai kenyataan,” lanjut Agung Sedayu.
“Bukankah itu berarti kita berperan sebagai pemecah keyakinan rakyat Mataram?” Ki Widura bertanya dengan alis bertaut.
“Bukan seperti itu, Paman. Pendapat itu kita terima hanya sebatas luas bilik ini,” kata Agung Sedayu lalu mengalihkan pandang pada Untara.
“Baik, aku setuju.” Untara menegaskan kemudian, “Paman, Sabungsari dan engkau , Prastawa. Mungkin yang dimaksud Agung Sedayu adalah kita tidak terjebak dalam perdebatan tentang Pangeran Ramapati. Benar begitu?”
Agung Sedayu mengangguk lalu ia berkata, “Adalah pilihan yang sangat membingungkan apabila kita diperintahkan untuk memilih antara Panembahan Hanykrawati dan Raden Atmandaru. Apalagi jika Raden Atmandaru dapat membawa bukti-bukti yang menguatkan kedudukan dirinya. Tetapi kita harus mengamati seluruh keadaan jika Raden Atmandaru benar-benar telah menyatakan diri.”
“Saya belum sepenuhnya memahami jalan pikiran Anda, Senapati,” Sabungsari menggetarkan bibirnya.
“Mataram telah melampaui masa sulit ketika ia memulai kehidupan di Alas Mentaok. Setiap orang yang datang ke ibu kota hanya membawa satu harapan yaitu kemuliaan. Mereka akan menempuh jalan terjal untuk mewujudkan mimpi. Lalu semua berakhir pada satu kata, kehormatan.” Agung Sedayu berhenti sejenak untuk meninjau ulang pemikiran yang telah tersimpan rapi di dalam benanknya.
Selanjutnya, “Pada masa sekarang, Panembahan Hanykrawati tidak terlalu disibukkan dengan daerah-daerah yang ingin melepaskan diri. Ini berbeda keadaan jika kita membandingkan dengan zaman ayah beliau. Kakang Untara dan Paman Widura tentu masih mengingatnya dengan baik.
“Perang dan pertempuran adalah suasana yang kita jumpai nyaris sepanjang tahun, bahkan mungkin sepanjang Panembahan Senapati memerintah negeri ini. Kekacauan kerap terjadi meski tidak segera menjadikan Mataram sebagai wilayah yang berkuasa dalam kemiskinan. Lalu tiba-tiba muncul Raden Atmandaru. Kita tidak mengetahui desa asalnya, tanah kelahirannya atau bahkan nama perguruannya. Tidak ada satu pun dari kita yang mendapatkan keterangan yang lebih lengkap.”
“Kita hanya mengetahui sebuah nama, Panembahan Tanpa Bayangan,” Prastawa mengetuk udara dengan suara lirihnya.
“Bahkan kita tidak dapat mencari tempat pengikutnya berkumpul. Tentu saja itu memalukan kita semua,” kini Untara bersuara dengan nada sedikit geram.
“Maka dari itu, saya ingin kembali ke masa lalu. Kita mempunyai batas waktu yang dapat dimanfaatkan untuk menyibak gelap yang terhampar di hadapan kita selama ini,” kata Agung Sedayu.
Kebanyakan orang di dalam ruangan itu telah mempunyai pendapat namun mereka memilih untuk tidak mengutarakan. Ki Lurah Sanggabaya cenderung mengikuti arah pemikiran atasannya, begitu pula Prastawa yang mempunyai alasan khusus untuk tidak banyak berkata-kata. Prastawa mengakui segala keterbatasan gerak pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Para pengawal tidak dilatih secara khusus untuk menjadi petugas sandi. Mereka adalah orang-orang yang bekerja sebagaimana yang lain. Kegiatan di sawah, tegal, kebun dan pasar adalah kehidupan harian para pengawal Menoreh. Atas alasan itulah, Prastawa tidak mengatakan sesuatu yang berada di luar jangkauan pengamatannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *