Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 8

“Kita tidak berada di ruang ini untuk menentukan hari pertempuran. Tidak juga untuk melakukan pengamatan di Lemah Cengkar. Apabila kalian bertanya tentang itu, tentang pengamatan, tentang kedudukan mereka, aku pikir sebaiknya kalian melakukannya sendiri. Ini bukan perintah seorang tumenggung, tetapi pendapat Untara.”

“Kakang,” Agung Sedayu menjadi orang pertama yang menanggapi Untara, “Mengenai kematangan mereka bersiasat, itu sudah cukup jelas. Dan saya pikir tidak akan seorang pun yang membantah itu. Artinya di sini, kita harus mengakui bahwa mereka mungkin akan menjadi lawan yang sangat tangguh. Selain dipenuhi oleh orang-orang berilmu tinggi, keteguhan mereka dalam menjalankan rencana akan menjadi penentu akhir. Mungkin kita akan kalah. Mungkin Mataram memang harus melepaskan Tanah Menoreh dan Jati Anom. Namun sebelum itu terjadi, saya mengusulkan bahwa sebaiknya Menoreh diberi peran sebagai sayap pemukul.”

“Jika Tanah Perdikan Menoreh ditempatkan sebagai sayap pemukul, lalu bagaimana dengan Sangkal Putung?” Ki Lurah Sanggabaya mengingatkan.

Untara memalingkan wajahnya pada Agung Sedayu. Meski sebenarnya ia dapat memutuskan persoalan itu tetapi pendapat Agung Sedayu tidak dapat diabaikan karena pengalamannya sebagai pemimpin pasukan khusus jelas kan memberi pengaruh yang sangat penting.

Sesaat murid Kiai Gringsing ini menebar pandangan seolah ia menunggu seseorang untuk berkata terlebih dahulu, tetapi itu tidak terjadi. Kemudian ia berkata, “Sudah barang tentu Sangkal Putung tidak mempunyai sosok yang dapat dijadikan pemimpin untuk menghadapi masalah ini. Maksudku, dengan ketiadaan adi Swandaru di sana maka segalanya seolah menjadi sulit.” Sejenak ia berhenti. Ia telah memikirkan persoalan itu pada sisa malam di dalam biliknya. Lanjut Agung Sedayu kemudian, “Penempatan gelar dari Tanah Perdikan sudah pasti harus mampu mencakup kekosongan yang ada.

 

“Kekosongan yang ditinggalkan oleh kakang Swandaru,” desis Prastawa.

“…dan kekosongan rantai perintah,” tukas Untara.

Agung Sedayu memandang wajah kakaknya dengan kening berkerut. Ia risau jika benar-benar terjadi perselisihan di antara keturunan Panembahan Senapati. Selain hubungannya yang dekat dengan orang yang dulu bergelar Raden Ngabehi Loring Pasar, ia juga mempunyai ikatan yang baik dengan Panembahan Hanykrawati. Sebagai seorang senapati, Agung Sedayu tidak mempunyai keraguan untuk membela Mataram. Namun sebagai orang yang mengenal Panembahan Senapati? Agung Sedayu tidak ingin menempatkan diri dalam pergumulan batin yang samar. Langkah-langkah hatinya semakin kerap berderap di setiap lintasan pikirannya.

“Apakah kita mempunyai banyak waktu untuk kembali ke masa silam?” tiba-tiba Agung Sedayu membelokkan bahasan.

Pagi itu menjadi awal hari yang tidak dapat dilupakan oleh orang-orang Jati Anom. Wajah cerah dan bersemangat menghiasi setiap permukaan tanah pedukuhan yang bertetangga dengan Sangkal Putung. Walau mereka dilanda ketakutan dan kecemasan yang nyaris memuncak, namun semua telah berlalu. Sebagian orang masih membenahi jalan-jalan berlapis batu.Sebagian batu berserakan, sisa-sisa kebakaran masih berserak di sejumlah tempat.

Di dalam bilik Untara, senyap telah menyergap perasaan orang-orang yang berada di dalamnya. Keadaan yang sangat berbeda dengan suasana di luar barak prajurit. Pertanyaan Agung Sedayu seolah mempunyai kekuatan untuk mengubah bilik kerja Untara menjadi kuburan. Setiap orang mengalami kesulitan untuk mengutarakan isi pikiran, bahkan mungkin untuk bernapas pun mereka menemui kesukaran.

“Apakah engkau bermaksud untuk menelisik asal usul Raden Atmandaru?” suara Untara menguak keheningan.

Sejenak Agung Sedayu menatap wajah kakaknya kemudian katanya, “Tidak. Saya ingin berpegang pada kabar yang didengungkan oleh pengikut Raden Atmandaru : bahwa dia adalah anak dari Panembahan Senapati. Saya pikir kita tidak cukup mempunyai waktu untuk berbantahan tentang perihal itu.”

“Lanjutkan,” kata Ki Widura.

“Kita tidak mengetahui secara pasti keseharian Panembahan Senapati, dan itu adalah kebenaran tunggal. Jadi saya meminta semua orang yang berada di tempat ini agar dapat menerima berita itu sebagai kenyataan,” lanjut Agung Sedayu.

“Bukankah itu berarti kita berperan sebagai pemecah keyakinan rakyat Mataram?” Ki Widura bertanya dengan alis bertaut.

“Bukan seperti itu, Paman. Pendapat itu kita terima hanya sebatas luas bilik ini,” kata Agung Sedayu lalu mengalihkan pandang pada Untara.

Related posts

Leave a Comment