Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 9

“Baik, aku setuju.” Untara menegaskan kemudian, “Paman,  Sabungsari dan engkau , Prastawa. Mungkin yang dimaksud Agung Sedayu adalah kita tidak terjebak dalam perdebatan tentang Pangeran Ramapati. Benar begitu?”

Agung Sedayu mengangguk lalu ia berkata, “Adalah pilihan yang sangat membingungkan apabila kita diperintahkan untuk memilih antara Panembahan Hanykrawati dan Raden Atmandaru. Apalagi jika Raden Atmandaru dapat membawa bukti-bukti yang menguatkan kedudukan dirinya. Tetapi kita harus mengamati seluruh keadaan jika Raden Atmandaru benar-benar telah menyatakan diri.”

“Saya belum sepenuhnya memahami jalan pikiran Anda, Senapati,” Sabungsari menggetarkan bibirnya.

“Mataram telah melampaui masa sulit ketika ia memulai kehidupan di Alas Mentaok. Setiap orang yang datang ke ibu kota hanya membawa satu harapan yaitu kemuliaan. Mereka akan menempuh jalan terjal untuk mewujudkan mimpi. Lalu semua berakhir pada satu kata, kehormatan.” Agung Sedayu berhenti sejenak untuk meninjau ulang pemikiran yang telah tersimpan rapi di dalam benanknya.

Selanjutnya, “Pada masa sekarang, Panembahan Hanykrawati tidak terlalu disibukkan dengan daerah-daerah yang ingin melepaskan diri. Ini berbeda keadaan jika kita membandingkan dengan zaman ayah beliau. Kakang Untara dan Paman Widura tentu masih mengingatnya dengan baik.

“Perang dan pertempuran adalah suasana yang kita jumpai nyaris sepanjang tahun, bahkan mungkin sepanjang Panembahan Senapati memerintah negeri ini. Lalu tiba-tiba muncul Raden Atmandaru. Kita tidak mengetahui desa asalnya, tanah kelahirannya atau bahkan nama perguruannya. Tidak ada satu pun dari kita yang mendapatkan keterangan yang lebih lengkap.”

“Kita hanya mengetahui sebuah nama, Panembahan Tanpa Bayangan,” Prastawa mengetuk udara dengan suara lirihnya.

“Bahkan kita tidak dapat mencari tempat pengikutnya berkumpul. Tentu saja itu memalukan kita semua,” kini Untara bersuara dengan nada sedikit geram.

“Maka dari itu, saya ingin kembali ke masa lalu. Kita mempunyai batas waktu yang dapat dimanfaatkan untuk menyibak gelap yang terhampar di hadapan kita selama ini,” kata Agung Sedayu.

Kebanyakan orang di dalam ruangan itu telah mempunyai pendapat namun mereka memilih untuk tidak mengutarakan. Ki Lurah Sanggabaya cenderung mengikuti arah pemikiran atasannya, begitu pula Prastawa yang mempunyai alasan khusus untuk tidak banyak berkata-kata. Prastawa mengakui segala keterbatasan gerak pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Para pengawal tidak dilatih secara khusus untuk menjadi petugas sandi. Mereka adalah orang-orang yang bekerja sebagaimana yang lain. Kehidupan di sawah, tegal, kebun dan pasar adalah kehidupan harian para pengawal Menoreh. Atas alasan itulah, Prastawa tidak mengatakan sesuatu yang berada di luar jangkauan pengamatannya.

Untara berkata kemudian, “Engkau telah mempunyai kesimpulan,”

“Dapat dikatakan seperti itu, Kakang,” sahut Agung Sedayu, “namun itu belum memadai untuk dapat dianggap sebagai pemikiran akhir.” Ia menoleh pada Ki Lurah Sanggabaya. Lalu katanya, “Ki Lurah mungkin sudah mendapat laporan terakhir sebelum Anda datang ke Jati Anom. Atau mungkin Anda mempunyai pendapat yang dapat melengkapinya?”

Ki Lurah Sanggabaya menhela napas panjang, ia harus dapat mengendapkan dan mengatur kata-kata agar tidak terjadi salah paham setelah Utara menunjukkan kegeraman. “Ki Wijil mengatakan bahwa ia memang melihat pergerakan orang yang terbagi dalam kelompok kecil. Bukan satu atau dua iring-iringan tetapi cukup banyak. Tetapi menurutnya memang cukup sulit untuk membedakan rombongan kecil itu adalah sekumpulan orang bersenjata atau para pedagang. Kita paham bahwa para pedagang pun terkadang membawa pengawal bersenjata. Dan dapat dikata, masih menurut Ki Wijil, mereka adalah orang-orang biasa yang mengadakan perjalanan jauh.”

“Lalu, menurut Anda, keadaan semacam itu tidak membahayakan?” tanya Ki Widura.

“Belum cukup untuk dianggap sebagai kelompok orang yang berniat untuk mengacau,” jawab Ki Lurah Sanggabaya, “menurut saya, itu adalah sebuah kewajaran dan biasa dilakukan pada masa sekarang bahwa rombongan pedagang pun menyertakan orang-orang yang mampu membela diri.”

“Kita menghadapi seseorang yang mungkin setara dengan kecerdasan Ki Patih Mandraka,” kata Untara kemudian.

“Saya setuju,” sahut Agung Sedayu. “Bagaimana mereka dapat mencapai Lemah Cengkar dan menyembunyikan keberadaan? Itu sesuatu yang harus dapat dipecahkan. Sungguh.”

Related posts

Leave a Comment