Padepokan Witasem
Bab 9 Rawa-rawa

Penculikan 17

Di bawah temaram cahaya merah, Patraman mencoba mengenali penyerangnya. Ia merasa mengetahui dasar gerakan dan bentuk tubuh lelaki muda yang berkelahi garang di hadapannya. Ia lebih leluasa mengamati karena tidak terlalu sibuk dalam perkelahian yang tidak seimbang dalam jumlah. Perhatiannya tertuju pada baju Gumilang yang melekat sejumlah tanda yang dikenalnya.

Hatinya berdesir dan jantungnya berdentang lebih keras. Ia melayang pada satu masa belasan tahun silam. Pada saat itu hampir semua anak para petinggi kerajaan mendalami ilmu keprajuritan dan olah kanuragan. Ingatan mengabarkan padanya bahwa dahulu di masa latihan itu ada seorang anak muda yang mahir menggunakan berbagai macam senjata. Memainkan busur seperti pedang dan belati yang terkadang terlihat seolah patukan puluhan ular.

Keraguan dan kecemasan kini merayap dalam dada Patraman. Tidak ada jalan untuk berbalik badan. Tidak ada pilihan selain menuntaskan rencananya. Untuk sebuah cita-cita, tekad Patraman dalam hatinya.

“Apakah ia tidak sedang salah memilih lawan? Meski keputusanku dan setiap rencana adalah kebenaran tetapi anak ini…. Ia akan membayar semua harga!” Desir gelisah hati Patraman beringsut lenyap, dengan sedikit ia berharap agar yang dipikirkannya tidak terjadi, Patraman kembali mengobarkan api dari dalam jantungnya..

Patraman menerjang Gumilang dari samping kiri. Ia melihat Laksa Jaya dalam keadaan terdesak, ujung pedangnya seolah mempunyai mata dan begitu cepat memburu Gumilang. Sedikit bergeser ke belakang, Gumilang berhasil menghindari serangan Patraman, kemudian ia membelokkan ujung belatinya menusuk lambung Patraman. Serangan yang tidak disangka-sangka ini memaksa Patraman beralih surut ke belakang.

Kedudukan yang sedikit berubah itu dimanfaatkan  Gumilang. Ia mengalihkan serangan ke Laksa Jaya yang baru saja berdiri dan menata ulang gerakannya. Sekejap kemudian Laksa Jaya kembali terdesak hebat.

Gulungan pedang Gumilang diselingi sabetan pendek belatinya menjadi sebab keringat dingin mulai membasahi Laksa Jaya. Kedua senjata ini mengepungnya dari berbagai penjuru dan tidak ada ruang baginya untuk menyelamatkan diri kecuali berharap bantuan Patraman.

Keresahan melanda hatinya saat Gumilang secara tiba-tiba mengubah alur serangan. Dengan berjalan jongkok secara cepat, belati Gumilang mengejar sepasang kakinya. Di tengah kesibukannya menghindari belati, pedang Gumilang pun tak kalah gesit menyambar bagian atas tubuhnya.

Patraman tercekat melihat pemandangan yang terjadi di depan matanya namun ia hanya berputar-putar untuk mencari titik lemah Gumilang. Sabetan pedang Gumilang berhasil dielakkan Laksa Jaya namun kakinya terlambat menghindari dari belati yang mematuk sangat cepat.

Betis Laksa Jaya menganga lebar.

Darah segera tersembur keluar dari pembuluh yang robek lalu menggenangi kain yang membalut kakinya. Belum sampai sekejap mata, Gumilang mengarahkan ujung pedangnya ke leher Laksa Jaya.

Sekelebat pedang berhasil membelokkan arah senjata Gumilang. Pedang yang bergagang keemasan ini lantas beralih melanda Gumilang seperti terjangan badai yang menghantam tebing.

Demi menjaga jarak dan mengamati lawan barunya, Gumilang berjungkir balik ke belakang.

Langkah surut Gumilang ini menggeser lingkaran perang tanding di antara mereka. Jarak semakin dekat dan terpisah dua tombak dari tempat Arum Sari duduk menetap.

Gumilang cepat berpikir bahwa dengan lumpuhnya Laksa Jaya justru akan dapat membawa petaka baru. Ia tahu jika lawan yang masih segar ini sedikit lebih tinggi dari Laksa Jaya. Maka ia memancing Patraman agar lebih dekat dengan Arum Sari. Dengan demikian Gumilang lebih mudah mengamati perkembangan yang terjadi di sekitar Arum Sari.

Tatap mata tajam Gumilang segera mengenali pemegang pedang bergagang keemasan.

“Patraman?”

“Benar. Bukankah engkau adalah Gumilang? Seorang bintara muda yang banyak digandrungi oleh para gadis di Tumapel? Sungguh sial karena wajahmu akan tersayat dan kulitmu akan teriris tipis oleh pedang ini!”

“Tidak! Tidak! Aku tak takut bualanmu, aku hanya heran mengapa engkau terlibat dalam urusan ini? Sungguh tidak ada kepantasan bagi seorang putra demang Tumapel terjerembab kejahatan urusan perempuan! Apakah engkau sudah bertelinga kerbau, Patraman? Apakah engkau sudah tidak peduli dengan kehormatan yang dibangun oleh ayahmu?

“Engkau sungguh-sungguh telah gila, Patraman!”

Related posts

Leave a Comment