Padepokan Witasem
Bab 9 Rawa-rawa

Penculikan 18

Sebaris pertanyaan yang tidak perlu dijawab oleh Patraman namun sangat menusuk hatinya. Kedua matanya merah menyala karena marah, urat malu memenuhi setiap garis wajah Patraman. Gumilang telah menyeret kedudukan ayahnya, dan itu berarti minyak yang membuat api kian besar.

Perkembangan dari rencananya sekarang menuju keadaan yang sulit untuk diperkirakan. Lambat laun keuntungan yang telah ia bayangkan mulai berubah menjadi kerugian baginya.

“Gumilang! Hanya setan yang percaya dengan wibawa. Dan hanya setan pula yang peduli dengan kehormatan. Keduanya adalah omong kosong, sama halnya dengan wujud setan itu sendiri!”

“Kini engkau pun mengajak setan ke tempat ini. Mengapa tidak engkau akui saja bahwa sebenarnya engkau adalah setan?  Kesadaran itu akan memudahkanku untuk mengakhiri hidupmu.” Derai tawa Gumilang terdengar seperti bisa ular yang melumuri jantung Patraman. Sebuah penghinaan yang luar biasa dilontarkan dari bintara muda yang pernah bersamanya di Dharma Arendra.

* *** *

Ibhakara memasuki Kahuripan lalu mengambil arah menuju kepatihan menemui Ki Cendhala Geni. Ia membawa benda khusus yang diberikan oleh Patraman, lencana yang hanya digunakan oleh orang-orang dekat Pang Randu, maka tanpa kesulitan ia dapat menembus penjagaan para pengawal. Sebenarnya Ki Cendhala Geni sedang tidak ingin menerima satu orang pun saat itu, tetapi seorang pengawal berkata, ”Ki Patih, mungkin saja orang ini dapat membawa berita yang mendahului kedatangan prajurit kotaraja datang ke mari.”

Ki Cendhala Geni menatap tajam pada pengawal itu sambil mendengus.

“Siapakah nama orang itu?”

“Ia mengaku sebagai Ibhakara, sebuah lencana khusus telah ia tunjukkan pada saya.”

Patih Kahuripan ini merenung sejenak, lantas, “Baiklah. Dan sebaiknya kau berkata benar.”

Tak lama kemudian Ibhakara memasuki ruangan tempat Ki Cendhala Geni telah menunggunya.

“Sebuah tanda khusus sebaiknya membawa berita yang menggembirakan. Aku tidak ingin mendengar para penjilat memberi kabar bohong yang dapat mengusik ketenanganku,” Ki Cendhala Geni berkata pongah seakan-akan ia telah menjadi seorang patih dalam waktu yang cukup lama.

Ibhakara menarik napas panjang ketika menerima kesan angkuh yang ditunjukkan oleh Ki Patih Kahuripan yang baru menjabat. “Mungkin akan lebih baik kau mati di tangan orang-orang Majapahit!” Ibhakara memendam geramnya dalam hati.

Ibhakara secara singkat menceritakan setiap perkembangan yang dilihatnya ketika meninggalkan Wringin Anom. Ia mengatakan berita-berita yang didengarnya dari prajurit yang meronda. Tidak ada peronda yang menaruh kecurigaan padanya yang saat itu mengenakan pakaian prajurit lengkap dengan lambang kadipaten.

Sebenarnya Ki Cendhala Geni tidak memberi perhatian yang wajar atas laporan Ibhakara, ia telah mendengar aliran angin yang diucapkan melalui bibir para petugas sandi. Dengan suara tanpa tekanan, bahkan cenderung dingin dan datar,  katanya, “Sekarang kau dapat kembali ke barak yang telah kau tempati sebelumnya. Atau kau dapat pergi k emana saja.” Ki Cendhala Geni menanggapi Ibhakara. Ia sudah mengambil keputusan terkait kedatangan pasukan berkuda Ki Nagapati dan kelompok pasukan lainnya yang mulai bergerak menuju Kahuripan.

Terhenyak Ibhakara mendengarnya, pikirnya, ”Apa aku tidak salah dengar? Mengapa lelaki tua ini begitu seolah tidak menganggap laporan yang baru aku katakan? Mungkin ia telah mendengarnya daripetugas sandi, atau mungkin ia memang termasuk orang bodoh. Biarlah, itu urusannya!” Ibhara masih termangu di atas dua kakinya.

“Pergilah! Selagi usiamu masih begini muda, pergilah jauh-jauh dari bahaya yang sebentar lagi akan datang menerjang seperti badai di lautan. Jika kau takut mati, tentunya,” Ki Cendhala Geni mengibas tangan meminta Ibhakara enyah dari ruangannya. “Kau dapat memilih tetap tinggal di sini sebagai pahlawan atau keluar dari Kahuripan sebagai pemenang. Partinya, bagiku, pilihan terbaik adalah menduduki kotaraja.

Ibhakara melihat kesungguhan di wajah Ki Cendhala Geni, lalu ia berkata dalam pikirannya, ”Benar kata orang tua ini. Sebaiknya memang aku keluar dari Kahuripan dan persetan dengan yang lainnya!”

“Baiklah, Ki Patih. Aku meminta diri.” Ibhakara membungkuk hormat dan berlalu meninggalkan Ki Cendhala Geni.

Sepeninggal Ibhakara, Ki Cendhala Geni segera membenahi diri lalu berjalan keluar menuju regol halaman kepatihan. Seorang prajurit menyapa dan  bertanya tujuannya, tetapi Ki Cendhala Geni hanya menjawab dengan senyum dan lambaian tangan. Langkahnya semakin jauh meninggalkan regol kepatihan, lalu ia menyelinap di antara iring-iringan orang yang akan melewatkan senja di alun-alun kota. Sekejap kemudian ia melayang melewati dinding kota, lalu berlari cepat ke arah matahari terbit.

Related posts

Leave a Comment