Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 45

Agung Sedayu sama sekali tidak mengucap kata ketika Sekar Mirah menggelontorkan pertanyaan yang memang sulit dijawab olehnya. Meski begitu, Agung Sedayu telah mempunyai dugaan bahwa sikap istrinya akan keras membenturnya.

“Aku telah memeriksa keadaan sekeliling kali Progo. Namun aku tidak dapat menemukan Swandaru. Bahkan aku tidak mendapati bekas tubuhnya saat tergeletak.” Setelah mengucap demikian, Agung Sedayu memejamkan mata. Ia menyusuri jalan-jalan ingatan yang berada di dalam pikirannya.

Kemudian, “Sekar Mirah, aku bukan orang tanpa perasaan tetapi jika engkau berada dalam suasana yang aku alami, maka kemungkinan yang berada di dalam pikiran adalah apa yang harus dikatakan pada orang-orang dekat kita,” lanjut Agung Sedayu, “namun demikian, aku tidak berharap mendapatkan maklum atas kejadian tersebut. Tidak, sama sekali tidak. Sebenarnya, ada yang ingin aku sampaikan pada kalian berdua. Ini bukan masalah penting atau tidak penting, tetapi keadaan yang menimpa Swandaru mungkin terkait dengan apa yang akan aku katakan.”

Pandan Wangi tajam menatap wajah senapati pasukan khusus, demikian pula Sekar Mirah yang terlihat masih menata jalur napasnya agar rongga dadanya tidak terlalu pepat.

“Katakan, Kakang,” Sekar Mirah berkata. Pandan Wangi mengikutinya dengan anggukan kepala.

“Wangi,” ucap Agung Sedayu, “apakah engkau mengetahui tempat penyimpanan kitab Kiai Gringsing?”

Sekali lagi, Pandan Wangi mengangguk. Hanya sekali namun itu adalah jawaban darinya.

“Apakah ada sesuatu yang membuat kalian curiga sebelum keberangkatan kalian berdua ke Tanah Perdikan?”

Kening Pandan Wangi berkerut. “Tidak ada, Kakang. Segala sesuatu berjalan dengan wajar.” Kali ini merasakan dadanya bergetar hebat. Kilas bayangan buruk melintas dalam benaknya.

“Baiklah,” kata Agung Sedayu. Kemudian ia berpaling pada Sekar Mirah lalu mengulas balik peristiwa yang mereka hadapi sebelumnya, yaitu saat Ki Garu Wesi memaksa mereka untuk memberikan kitab Kiai Gringsing padanya. Ketajaman nalar Agung Sedayu sangat membantu Sekar Mirah dan Pandan Wangi untuk mengerti duduk persoalan.

“Jadi,” kata Sekar Mirah kemudian, “kemungkinan yang muncul adalah ada sekelompok orang yang bertujuan merebut pusaka ilmu Kiai Gringsing. Mungkinkah?”

“Mungkin seperti itu. Anda berdua telah menolaknya, namun Ki Garu Wesi tetap saja memaksa.” Pandan Wangi beranjak bangkit dari tepi pembaringan. “Saya tak tahu apakah pada saat yang sama, pada pagi dan hari yang sama, Sangkal Putung tengah berada dalam pengamatan sekawanan orang? Karena memang tidak ada peristiwa atau kejadian yang janggal di kademangan ini.”

“Tampaknya sebuah rencana besar telah memandu mereka. Bisa jadi, rencana itu lebih besar dari sekedar merebut kitab guru Kakang,” kata Sekar Mirah ketika ia berpaling pada Agung Sedayu.

“Mungkin bukan sebuah kemungkinan, tetapi telah menjadi kepastian,” kata Agung Sedayu seolah menyisakan rahasia yang harus dipecahkan oleh Sekar Mirah dan Pandan Wangi.

Ketika itu, kekecewaan dan rasa marah yang luar biasa seolah lenyap dari hati Sekar Mirah. Murid Ki Sumangkar itu tampak muali dapat mengendalikan diri. Walaupun sebelumnya, ucapannya pada Agung Sedayu, sungguh, begitu memerahkan telinga. Selanjutnya tanya Sekar Mirah, “Kepastian seperti apakah yang Kakang maksudkan?”

“Kebakaran yang terjadi di Tanah Perdikan. Kau berada di sana ketika itu,” Agung Sedayu memberi jawaban sambil beralih ke bangku pendek, di ujung pembaringan Sekar Mirah.

“Ya.”

“Begitu pun Jati Anom yang dibakar selang hari kemudian.”

“Lalu, lalu bagaimana dengan mbokayu Untara dan anaknya? Apakah mereka baik-baik saja?” Terkejut Sekar Mirah dan ia bertanya dengan kedua tangan berada di depan bibirnya.

“Kami berkelahi di bagian sungai yang terletak tak jauh dari barak prajurit. Ki Garu Wesi pun berada di tempat itu.”

“Oh!” Sekar Mirah menahan seruannya sambil menutup wajah.

“Kakang.” Pandan Wangi mengambil giliran bersuara. “Kakang bertanya padaku mengenai tempat penyimpanan kitab guru Kakang. Lantas, apakah mungkin dua kebakaran yang berbeda tempat dan waktu itu mempunyai kaitan dengan kitab Kiai Gringsing?”

“Kitab guru, bahkan mungkin, hanya sebuah pengalih perhatian dari tujuan utama kawanan itu,” jawab Agung Sedayu.

“Oh!” Pandan Wangi berseru sambil memandang Sekar Mirah.

Swandaru Geni pun segera hadir dalam ingatan adik dan istrinya. Kedua perempuan tangguh yang berada di dekat Agung Sedayu segera dihinggapi pikiran-pikiran buruk. Banyak pertanyaan yang muncul dan sangat menusuk perasaan mereka. Tetapi, sepertinya, Sekar Mirah dan Pandan Wangi sepakat untuk menunggu penjelasan Agung Sedayu.

Related posts

Leave a Comment