Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 37

Persawahan subur yang terhampar dengan bidang-bidang yang serasi menjadi gerbang masuk menuju pedukuhan induk Sangkal Putung. Jajaran pohon meski tumbuh dengan jarak yang tidak teratur, tetapi memberi warna yang berbeda ketika Agung Sedayu menapak kaki di tugu batas kademangan.

Sangkal Putung menjadi saksi penting ketika Macan Kepatihan membawa keluar pasukannya setelah mengalami kekalahan di Jipang. Tohpati, senapati yang juga murid Ki Patih Matahun, mengarahkan pandangan matanya ke wilayah subur di lereng Merapi dan berusaha merebutnya dari Pajang dengan tujuan menjadikannya sebagai lumbung pangan. Kademangan Sangkal Putung tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan Tanah Perdikan Menoreh, tetapi wilayah itu mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki oleh Tanah Perdikan. Panembahan Senapati bahkan menempatkan Sangkal Putung sebagai titik penting yang menghubungkan pusat pemerintahan dengan daerah-daerah di sekitar Merapi.

Belum ada tanda-tanda yang dapat dijadikan ukuran bahwa Sangkal Putung mengalami kemunduran sejak dipimpin oleh Swandaru. Sebaliknya, daerah itu semakin meningkat dalam perdagangan antar daerah. Sejauh Swandaru mengelola kademangan, sepanjang waktu itu belum ada gangguan yang disebabkan oleh rakyatnya yang terlantar. Tidak pula ada keluhan tentang kemerosotan kesejahteraan di tanah kelahiran Sekar Mirah.

Swandaru yang juga  dikenal sebagai Ki Demang Sangkal Putung hingga kini belum ada orang yang mengetahui keberadaannya. Wajah, tubuh dan kiprah kesehariannya menggurat begitu dalam di benak Agung Sedayu. Raut wajah senapati tangguh Mataram terlihat murung ketika dua tapak kakinya telah memasuki Sangkal Putung.  Ia seolah tidak lagi berminat untuk mengurai gelar perang yang tersaji di hadapannya beberapa waktu sebelumnya. Sungguh! Tubuh tegap yang menyiratkan keyakinan itu seperti bukan milik Agung Sedayu. Pada masa yang singkat, Agung Sedayu kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Bahkan, sinar mata suami Sekar Mirah itu seperti mengatakan bahwa ia tidak peduli lagi pada perkembangan  para pengawal kademangan. Seolah ia tidak lagi mengindahkan saluran-saluran air yang berkelok-kelok di bawah kakinya. Agung Sedayu, sang senapati terkuat yang dimiliki Mataram, seperti kehilangan setengah hatinya. Semangatnya musnah.

Ketika fajar merekah dan teriakan gembala telah melanda pategalan, Agung Sedayu sadar bahwa segala yang telah berlalu hanya dapat mengisi sebuah ruang dalam hatinya. “Merenungi tanpa melakukan sesuatu, sudah pasti itu bukan jalan yang diinginkan oleh guru. Meski begitu, berkelahi bukan satu-satunya jalan keluar untuk menemukan Swandaru. Mungkin sebagian orang berpikir demikian lalu merasa cukup dan puas ketika hasratnya berkelahi telah terpenuhi,” desis Agung Sedayu dalam hatinya. Agung Sedayu merasa bahwa sebaiknya ia harus bersikap jujur dan mengatakan segalanya pada Sekar Mirah dan keluarganya. Mengungkapkan peristiwa pada Pandan Wangi dan Ki Gede Menoreh. Tentu bukan perkara mudah bagi Agung Sedayu untuk berkata tentang kenyataan sebenarnya. Bagi seorang senapati yang dikenal sebagai bersikap bijak, maka penculikan Swandaru adalah aib besar baginya.

Setelah menghirup panjang udara segar pada awal pagi itu, Agung Sedayu berjalan melintasi jalan utama yang telah dipadatkan. “Buah kerja keras,” desisnya ketika memandang hamparan padi yang mulai menguning di sisi kiri dan kanan jalan. Air yang jernih mengalir dalam selokan yang mengairi persawahan menambah kesan khusus dalam hati Agung Sedayu.

Sejumlah petani tampak menyapa Agung Sedayu ketika lelaki yang berjalan tidak terlalu cepat melewati mereka. Begitu pula pedagang. Satu atau dua orang masih mengenali pemimpin pasukan khusus yang mengenakan topi bambu yang lebar.

Seorang pedagang bahkan menghentikan pedatinya saat berpapasan dengan Agung Sedayu.

“Agung Sedayu?” ia bertanya.

“Benar, Paman,” jawab Agung Sedayu, “bukankah saya sedang berhadapan dengan Ki Warna?”

Lelaki yang bernama Ki Warna itu pun tersenyum lebar. “Engkau benar-benar tajam ingatan, Agung Sedayu.” Ia melangkah dengan tangan terulur. Mereka bersalaman dan berucap tentang hal-hal ringan.  Kemudian kata Ki Warna, “Sejak Ki Swandaru meninggalkan kademangan, para bebahu sepakat memanggil Sekar Mirah dan Pandan Wangi pulang. Bagaimanapun , kami tidak mempunyai daya untuk memutar kehidupan di tanah ini.”

“Bukankah Ki Swandaru belum sebulan meninggalkan kademangan bersama Nyi Pandan Wangi?”

Ki Warna merasakan keganjalan dalam nada suara Agung Sedayu, dan ia ragu-ragu untuk bertanya tentang keberadaan Swandaru. Ia mendengar berita bahwa sebenarnya Ki Swandaru pergi menuju Tanah Perdikan namun yang kembali pulang hanya Pandan Wangi. Hanya itu yang diketahuinya. Pertanyaan besar dalam hatinya adalah keberadaan Swandaru Geni. “Ke mana beliau pergi?”

Related posts

Leave a Comment