Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 36

Pusaran udara dalam ukuran kecil tiba-tiba muncul di atas kepala para pengikut Raden Atmandaru. Angin beliung berhamburan di udara, terlontar dari setiap dorongan telapak tangan orangyang bergelar Panembahan Tanpa Bayangan itu. Sekali-kali bola cahaya meluncur deras dari ujung keris yang berada di telapak kanannya.

Agung Sedayu bergetar. Ia berdebar menyaksikan pertunjukan ilmu tingkat tinggi yang diperagakan oleh pengincar tahta Mataram. “Sungguh berbahaya jika cahaya dapat menerangi tempat ini,” pikirnya. Tetapi ia tidak ingin mengundang akibat buruk dengan beralih tempat. Itu sama saja baginya karena indera pendengaran Raden Atmandaru pasti dapat membedakan.

“Engkau dapat meninggalkan tempat ini.” Kalimat itu mendadak merasuki gendang telinga Agung Sedayu.

Agung Sedayu terhenyak dari kekaguman. Walau begitu ia mewarisi ketenangan Kiai Gringsing, maka dengan seksama ia mengukur jarak lingkaran kerumunan di depannya. “Tidak dapat dikatakan tidak mungkin! Ia bergerak sangat cepat dengan lontaran tenaga ke berbagai arah tetapi sanggup mengirimkan suara padaku. Tetapi, mungkinkah ada orang lain yang dimaksudkannya?” gumam Agung Sedayu dalam hati. Ia tidak beranjak dari tempatnya. Agung Sedayu masih menetap dengan keadaan yang sama sejak mula berada di tempat pengintaiannya. Sekejap setelah suara itu didengarnya dengan jelas, Agung Sedayu menggali pengetahuan yang diserapnya selama dalam bimbingan Kiai Gringsing. Seluruh wawasan dan tulisan dari rontal Ki Waskita ; pelajaran yang didapatnya dari perbukitan, gunung dan alam sekitarnya mulai berhimpun. Seluruhnya berlomba-lomba memberikan keterangan pada senapati pasukan khusus itu.

Dalam waktu singkat, Agung Sedayu menyimpulkan bahwa perkataan itu sengaja ditujukan padanya oleh Raden Atmandaru. “Sebuah kecermatan, ketelitian dan kecerdasan yang berpadu dalam ayunan gelombang tenaga cadangan tingkat tinggi. Sungguh, aku tidak dapat berkata lain selain luar biasa dan mengagumkan!” seru Agung Sedayu tanpa suara.

“Bila engkau meragukanku, maka bola api akan meledak tepat di atas kepalamu,” suara Raden Atmandaru bergetar singkat di dekat telinga Agung Sedayu. Senapati ini tidak melepaskan pandangan dari kelebat cepat Panembahan Tanpa Bayangan, dan seperti yang disuarakan oleh orang yang diawasinya, tiba-tiba dua bola api meluncur ke bagian atas tempat Agung Sedayu berada.

Kedua bola api itu meledak dengan suara berdentum pelan namun sanggup menggetarkan tulang dada.

Seketika, dalam waktu kurang dari sekejap mata, cahaya menerangi lingkungan sekitar Agung Sedayu. Walau sangat terang tetapi tidak akan ada yang dapat melihat Agung Sedayu yang menyamarkan tubuhnya di antara tanaman liar.

“Aku mengerti,” Agung Sedayu mengirim pesan pada Panembahan Tanpa Bayangan dengan cara yang sama.

“Tidak ada perbincangan lagi di antara kita,” sahut Raden Atmandaru, “tetapi bila engkau berumur panjang, kedua kakimu akan datang mengantarmu datang padaku sebagai seorang tumenggung.”

Seorang pemimpin dari pengikut Raden Atmandaru meneriakkan perintah dengan kata-kata tertentu. Sesaat kemudian Raden Atmandaru lenyap dari pandang mata pengikutnya. Sementara itu, orang-orang kembali meraung gegap gempita. Senjata-senjata berkelebat, bersuitan di udara dan begitu mengerika ketika tertimpa cahaya bulan yang sebenarnya enggan menerangi tanah di perbatasan Sangkal Putung.

Kali ini, setelah Raden Atmandaru tidak tampak lagi di tengah kerumunan, Agung Sedayu dapat melihat lebih jelas macam-macam senjata yang ada di kelompok penentang Mataram. Ujung trisula yang beragam, dari bentuk batang sederhana hingga berongga penuh ukiran. Dari tombak dengan ujung lancip hingga berbentuk seperti bulan sabit. Dalam waktu itu ia menyaksikan bahwa kemampuan pengikut Raden Atmandaru selapis tipis di atas prajurit Mataram. Keterampilan mereka memainkan senjata adalah hasil yang diperoleh dari pengasahan keras melalui latihan yang terencana  baik. Itu sangat jelas dilihat Agung Sedayu.

Mereka terus bergerak meskipun mulai terlihat membubarkan diri. Sekali-kali mereka merayap maju dengan cepat, namun pada sayap lain justru bergerak mundur dalam  senyap. Perpaduan yang hanya dilihat Agung Sedayu dalam rontal-rontal gelar perang, tetapi malam itu, seluruh wawasannya tentang siasat perang seolah terhampar di depannya begitu nyata.

“Sangkal Putung akan mereka kuasai dalam waktu kurang dari setengah hari saja,” batin Agung Sedayu. “Kemampuan seperti ini hanya dimiliki oleh pasukan khusus di Menoreh dan Mangir. Bila bantuan dari Mataram datang terlambat, meski seukuran waktu menanak nasi, lereng selatan Merapi akan terlibas. Bila Raden Atmandaru adalah pangeran, maka malam ini ia menjadi panglima yang sulit dikalahkan.”

Related posts

Leave a Comment