Padepokan Witasem
Bab 3 Bergabung

Bergabung 1

Bergabung

 

Sinar mentari perlahan menarik garis bayangan pohon yang dilaluinya. Sejenak kemudian kelompok prajurit yang dipimpin Ki Rangga Gubah Baleman meninggalkan regol padepokan.

“Toh Kuning adalah bagian dari kita. Selamanya dia tetap berada di sini,” berkata seorang murid yang tertua.

Kawannya yang berdiri di sebelahnya mengangguk, lalu menyahut, ”Padepokan dan guru menaruh harapan besar di pundaknya. Tetapi apakah ia mampu mewujudkan keinginan gurunya? Bagaimana jika ia bertemu dengan kawan karibnya?”

“Ken Arok?”

“Siapa lagi?”

Mereka mengangkat pundak dan tanpa mereka tahu Toh Kuning sanggup mendengar percakapan pelan keduanya. “Bagaimana jika aku bertemu dengannya? Apakah aku akan kembali pada jalan yang tidak dikehendaki guru? Atau justru aku yang dapat mengajaknya bergabung dengan Kediri?”

Dan Toh Kuning membawa pergi pertanyaan itu. Ia telah berada di dalam rombongan prajurit, kemudian mereka berkuda lebih cepat menjauhi padepokan. Semakin lama mereka terlihat semakin kecil dan hanya meninggalkan kepulan debu tebal di belakang mereka.

Gubah Baleman yang berada di depan kemudian melambatkan laju kudanya. Agaknya ia ingin berkuda bersama Toh Kuning. Setelah mereka berkuda berdampingan lalu dengan suara lantang dan terdengar oleh para prajurit di depan dan di belakang mereka, Gubah Baleman berkata, “Kau harus mulai belajar tentang kehidupan sebagai prajurit. Meskipun pada saat sekarang ini kejahatan mulai menurun, tetapi kewaspadaan adanya bahaya dari luar harus selalu tetap terjaga. Setiap prajurit Kediri dari berbagai tingkatan telah dibekali rasa curiga dan kepercayaan yang seimbang.”

“Saya tidak mengerti maksud Ki Rangga,” sahut Toh Kuning.

“Rasa curiga itu harus selalu ada pada saat kau mulai percaya pada seseorang. Namun yang menjadikannya berbeda adalah kau harus dapat menahan diri dan mampu membuat penilaian apakah rasa curiga itu akan berkembang menjadi sebuah tuduhan atau sebaliknya,” kata Gubah Baleman sambil berpaling pada Toh Kuning, ”rasa curiga itu menjadi benih dari akar kepercayaan. Lalu, jika kita dapat menimbangnya maka setiap gesekan akibat salah paham akan dapat dihilangkan.”

Toh Kuning mendengarnya dengan manggut-manggut.

Berangsur-angsur sejak upacara penghormatan terakhir bagi gurunya telah usai dilaksanakan, ia mulai dapat menempatkan rasa kehilangan itu secara seimbang dalam hatinya. Lereng yang hijau, sawah-sawah yang membentang subur dan bulak-bulak yang belum ditanami seakan menjadi pelipur laranya. Ditambah dengan lahirnya harapan baru untuk hidup sebagai seorang prajurit Kediri, Toh Kuning agaknya semakin cepat untuk melangkah dengan kepala tegak. Walau demikian, Ken Arok adalah nama yang masih menyisakan keraguan dalam hatinya.

“Toh Kuning, kau mempunyai waktu yang sedikit tersisa. Lalu aku minta padamu untuk segera menata perasaanmu sebelum kita bertemu dengan Ki Tumenggung Mahesa Wunelang. Tentu saja aku tidak ingin ada kesalahpahaman antara engkau dan Ki Tumenggung. Untuk itu, kau dapat berbcara dengan prajurit yang lain. Apalagi mereka akan menjadi teman atau mungkin salah satu dari mereka akan menjadi pemimpin dalam kelompokmu,” kata Gubah Baleman dengan satu tepukan ringan pada pundak Toh Kuning.

Toh Kuning tersenyum lalu katanya, ”Saya siap melakukan itu.”

“Hei, jangan kau tinggalkan kami jika kami dikejar perampok. Mungkin karena kau sedang gugup dan lupa cara memegang senjata, lalu kau hanya mengingat ilmu seribu jari melangkah,” celetuk seorang prajurit yang kemudian diikuti derai tawa kawan-kawannya.

Toh Kuning ikut tertawa bersama mereka, kemudian ia menyahut, ”Ki Lurah berkata benar. Saya sekarang tidak ingat tentang olah gerak, yang aku tahu hanyalah kuda ini masih bersedia untuk berjalan pelan.”

Selanjutnya mereka banyak bicara tentang hal-hal yang ringan. Beberapa pedukuhan telah mereka lewati. Kadang-kadang mereka harus menyusur jalan kecil di celah-celah batu padas.

Tatap mata Toh Kuning yang diam-diam mengamati satu demi satu prajurit dalam kelompok prajurit Ki Rangga Gubah Baleman. Ia kemudian bergumam dalam hatinya, ”Orang-orang yang menjadi bawahan Ki Rangga memang berbeda dengan para prajurit yang pernah aku temui. Orang-orang ini agaknya ahli dalam menggunakan banyak senjata. Dan mungkin kemampuan satu orang dari mereka itu setara dengan tiga atau lima prajurit biasa.”

Related posts

Leave a Comment