Padepokan Witasem
geger, alas krapyak, api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 6 Geger Alas Krapyak

Geger Alas Krapyak 2

Sukra berpaling ke sumber suara. Sukra terlihat buas dengan sorot mata yang beringas, sahutnya, “Merekalah yang merusak kedamaian Sangkal Putung. Mereka pula yang mengusik ketenangan Perdikan Menoreh. Apa yang kalian tunggu? Apakah kalian percaya pada semua bualan mereka? Aku dengan senang hati akan mengeluarkan jantung mereka, satu demi satu!”

Seorang pengawal Sangka Putung telah menghunus pedang, mengangkat tinggi-tinggi, menerjang barisan pengikut Raden Atmandaru. Seorang lagi segera menyusulnya, menghentak segenap kemampuan agar barisan lawan terpecah.

Ki Bluluk Rambang memandang Sukra dengan kulit meremang. Pikirnya, walau anak muda itu berada di bawah lapisan kemampuannya tetapi ada alasan kuat yang membuatnya bergidik!

“Hey, engkau yang menyebut diri Bluluk Rambang!” Sukra tegak menantang. Ia melepaskan diri dari kerumunan orang-orang yag mulai berjibaku hantam. Sukra memlih untuk mengikat Ki Bluluk Rambang dalam satu ikatan yang terpisah dari yang lain.

“Engkau memanggilku? Apakah jerih mulai memenuhi hatimu?” sahut Ki Bluluk Rambang dengan seringai yang dipaksakan.

“Lidah berbisa!” Sukra mengumpatinya.

“Ah, begitukah? Ternyata engkau tak suka padaku!”

“Aku suka menghisap darahmu!”

Ketegangan di antara mereka menuju puncak. Ki Bluluk Rambang dapat menduga bahwa perkelahian tidak akan dimulai dari pergulatan tangan kosong. “Buat apa? Anak itu sudah mengalirkan darah, dan aku akan menghabisinya segera!” desis Ki Bluluk Rambang dalam hati.

Sukra melabrak Ki Bluluk Rambang tanpa ada rasa gentar maupun pertanyaan ; bagaimana bila lawannya ternyata jauh berada di atasnya? Benak Sukra telah menepikan kehadiran Pangeran Purbaya. Dalam waktu itu, Sukra hanya dipenuhi kemarahan karena tuduhan keji pada Agung Sedayu. Bagaimana bila kalah lalu mati dalam perkelahian itu? Bukan masalah besar, pikirnya. Sukra mengayun sepasang anak panah dengan disertai kecepatan yang sulit dipercaya.

Menurut Pangeran Purbaya, yang bergeser lebih dekat dengan lingkar perkelahian Sukra, tandang Sukra lebih menyerupai belalang yang berloncatan, menyerang lalu mengambil jarak, mendekat sambil bergulingan lalu tiba-tiba melejit sambil berusaha menebas bagian atas tubuh Ki Bluluk Rambang. “Belalang tempur? Hmmm, mungkin. Tata gerak Sukra lebih mirip belalang tempur!” gumam Pangeran Purbaya. Sekejap kemudian Pangeran Purbaya tersenyum. Ia mengingat walang sangit. Menurutnya, kehadiran Sukra di banyak tempat akan menjadi binatang penebar bau yang tidak disukai dan juga tidak diharapkan musuh Mataram. Sikap yang sulit dikendalikan serta keberanian menyerang lawan dengan kata-kata seakan memberi masukan pada Pangeran Purbaya tentang pentingnya menyimpan Sukra sebagai kejutan yang tidak menyenangkan. Meski demikian, menurutnya, Sukra masih harus menjalani bagian-bagian lain perjalanan hidup agar dapat menjadi pribadi yang mampu berbaring di dasar sungai.

Serangan demi serangan Sukra mengalir sangat cepat. Ki Bluluk Rambang harus menghentak kemampuannya hingga benar-benar mampu mengimbangi Sukra yang begitu buas dan beringas. “Anak ini seperti kerasukan demit, tapi mengapa begitu sulit menyusupkan pukulan padanya?” hati Ki Bluluk Rambang bertanya. Demikianlah pertanyaan itu berulang-ulang muncul dan tenggelam ketika setiap  batang anak panah Sukra selalu mental jika membentur bagian tajam goloknya.

Ki Bluluk Rambang meloncat surut, seolah sedang mengesankan keadaan tersudut lalu menunggu Sukra bergerak dengan senjata terayun. Ia memusatkan perhatian pada sepasang kaki Sukra yang sepertinya menjadi tumpuan utama pergerakan yang luar biasa itu. Sukra melesat deras, memasuki daya jangkau serangan Ki Bluluk Rambang! Pada saat demikian, golok Ki Bluluk Rambang mendesing, nyaring membelah kegelapan, mengayun deras dengan lambaran tenaga cadangan yang terhimpun sangat kuat!

Pangeran Purbaya tercekat! Ia tidak mengira bahwa itu adalah jebakan yang sangat baik dari Ki Bluluk Rambang. Tidak mungkin bagi Sukra untuk mundur atau membatalkan serangan karena ia terlanjur deras dan sangat deras dalam laju terjangan!

Waktu yang tersisa hanya sedikit. Mungkin hanya sebatas kedipan mata sebelum kaki Sukra benar-benar menggelinding liar. Wawasan Sukra telah meningkat. Ia dapat mendengar desing senjata lawan dan membuat perkiraan tujuan senjata ketika membuat sudut yang terukur. Tiba-tiba pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu melontarkan sebatang anak panah pada batang leher Ki Bluluk Rambang! Umpatan tertahan keluar dari mulut Ki Bluluk Rambang. Ia tidak mengira, sungguh, Sukra mampu membuat serangan yang dapat mencabut nyawanya secepat kilat. Golok pun berubah arah ketika Ki Bluluk Rambang menjatuhkan diri lalu berguling menjauhi serangan. Demikian pula yang dilakukan Sukra. Ia menetakkan ujung anak panah pada permukaan tanah sebagai pengganti telapak kakinya, namun demikian, Sukra kehilangan keseimbangan. Ia melenting pada arah yang tidak direncanakan olehnya. Terlontar liar.

Pangeran Purbaya mendesahkan napas lega.

Dalam pertempuran itu, empat anak buah Ki Bluluk Rambang seolah sedang berada di dalam satu kandang bersama kuda-kuda yang liar. Sulit diredam dan ulet dijinakkan. Ini keadaan yang berbahaya, pikir mereka yang juga sesekali melirik pada perkelahian pemimpin mereka. Menghadapi seorang pengawal kademangan tentu bukan persoalan yang sulit tapi perasaan mereka telah terguncang dengan tandang Sukra yang sangat trengginas, liar, buas dan sengit menghadapi Ki Bluluk Rambang. Kengerian mencengkeram tengkuk mereka, maka ngawur dalam menyerang pun menjadi jalan keluar yang terbaik. Sikap dan bahasa tubuh mereka pun terbaca oleh Pangeran Purbaya.

Pangeran Purbanya menghentakkan kaki, melompat panjang, memasuki gelanggang perkelahian. “Tidak boleh ada satu orang pun yang lolos dari tempat ini!” Suara Pangeran Purbaya menggelegar, mengejutkan banyak orang kecuali Sukra.

Dua orang terlempar, melayang sebentar di udara, lalu jatuh terhempas. Dua orang terjengkang oleh serangan pengawal Sangkal Putung.

“Ikat mereka. Biarkan yang terluka, lalu bersiaplah untuk segala keadaan,” perintah Pangeran Purbaya. Meski belum mengerti maksud orang yang memberi perintah, dua orang Sangkal Putung itu menjalankan tugas sepenuh hati. Tidak ada persoalan bagi mereka karena kedatangan lelaki – yang belum dikenal – itu bersama Sukra.

Sebenarnya mencampuri perkelahian Sukra itu lebih mudah bagi Pangeran Purbaya karena jarak yang cukup dekat. Namun ia mempunyai pertimbangan lain walau seluruhnya akan bermuara pada satu hal  ; bungkam lawan!

Perhatian Ki Bluluk Rambang pecah. Kedatangan seseorang yang berkemampuan tinggi akan mendorongnya jatuh pada jurang kekalahan. Bertahan dengan menelan kekalahan atau keluar dari perkelahian dengan rasa malu? Baiklah, ia akan membiarkan anak buahnya tertawan sehingga beban berkurang bila mendapatkan kesempatan menghilang. Kemenangan dapat diraih dalam waktu yang akan datang.

Ki Bluluk Rambang segera bangkit dengan bertumpu pada sebelah lutut. Tubuhnya merunduk. Seingatnya, ada aliran sungai yang berada di balik punggungnya. Jalan setapak yang tidak begitu curam dapat dilaluinya. Ia berteriak dengan suara yang mengguncangkan wilayah sekitarnya. Ki Bluluk Rambang mengangkat golok lebih tinggi dari kepala, melesat dengan terjangan dahsyat. Belum setengah jalan, ia berbalik arah menghamburkan diri menuruni jalan setapak menuju jembatan yang hanya dapat dilewati dua pejalan kaki berpapasan.

“Ke arah manakah jalan itu?” tanya Pangeran Purbaya pada salah satu pengawal.

“Sebuah sungai kecil yang penuh bebatuan. Ada tretek bambu di atasnya, tepat di ujung jalan setapak itu, Ki Sanak.” Pengawal Sangkal Putung tidak pernah melihat wajah Pangeran Purbaya tetapi tidak mengurangi rasa hormat mereka pada orang tak dikenal. “Bila ia berhasil menyeberang sungai, sulit bagi kita untuk menemukannya di tengah pemukiman walau tak begitu rapat.”

“Sukra!”

“Saya, Pangeran.” Sukra bersuara tanpa memalingkan wajah. Ia memusatkan perhatian pada Ki Bluluk Rambang yang meluncur cepat. Sukra sudah membulatkan keputusan untuk tidak membiarkan musuhnya lolos. Segala akibat yang akan muncul hanya peristiwa-peristiwa buruk sedangkan perjalanan mereka harus dirahasiakan. Sukra merasa harus dapat memastikan  bahwa tak ada lawan yang dapat lepas dari mereka.

Kembali Pangeran Purbaya menghela napas panjang. Walau sebenarnya ia akan memerintahkan Sukra agar melakukan pengejaran, tetapi sepak terjang anak muda Menoreh itu ternyata berada di luar dugaannya. Sukra tidak dapat melunak apabila ada sesuatu yang bersinggungan dengan Agung Sedayu. Dari pikiran itu, Pangeran Purbaya tahu bahwasanya tali kekang Sukra berada di tangan senapati Mataram yang sedang terluka. Perbedaan kedudukan dan jati dirinya sebagai pangeran sama sekali bukan halangan bagi Sukra untuk menjalankan niat. Anak itu memang berbeda, batin Pangeran Purbaya.

Tidak ada jalan lain bagi Pangeran Purbaya selain mengerahkan kecepatannya yang luar biasa. Ia harus mencegah Ki Bluluk Rambang. Seperti melayang, tubuh Pangeran Purbaya bergerak melebihi anak panak yang melesat. Jarak mereka semakin dekat. Dari ketinggian, Pangeran Purbaya dapat melihat kedudukan Sukra. Maka, sambil melayang lurus, ia mengibaskan lengan. Serangkum angin terlontar, menerpa punggung Sukra namun yang terjadi bukan seonggok daging yang roboh terguling! Sukra seperti terangkat, mengapung dengan kecepatan yang semakin tinggi, mendahului Ki Bluluk Rambang dari sisi kanan. Walaupun demikian, Sukra dapat memperkirakan orang yang melakukan perbuatan itu. “Pangeran Purbaya!” tegasnya dalam hati. Ia tidak terkejut. Bahkan dorongan angin itu membuatnya lebih waspada karena sekejap lagi tubuhnya akan melampaui tebing sungai.

Demikianlah, kemudian Sukra melihat sebongkah batu setinggi daun pintu berada di sebelah kanan jembatan bambu. Sukra berjungkir balik, mengurangi laju lalu menjejakkan kaki pada batu sungai, kemudian mencelat memotong lintasan Ki Bluluk Rambang. Dan kini, mereka kembali berhadapan!

“Pengumpat busuk!” bentak Sukra. “Serahkan kepalamu!”

“Gandrik! Cah edan!” Ki Bluluk Rambang menyerang dengan liar. Tidak ada lagi jalan kecuali menerjunkan diri ke badan sungai yang dipenuhi bebatuan dengan segala ukuran.

Related posts

Geger Alas Krapyak 9

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 8

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 7

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 6

kibanjarasman

2 comments

bayu 08/01/2022 at 22:36

top markotop…..

Reply
kibanjarasman 10/01/2022 at 11:31

matur nuwun rawuhipun, ki

Reply

Leave a Comment