Padepokan Witasem
geger, alas krapyak, api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 6 Geger Alas Krapyak

Geger Alas Krapyak 41

Dengan adanya dua pasukan berkuda yang sama-sama datang dengan cara mengejutkan, api peperangan seakan menyala semakin besar. Namun demikian, pengawal Gondang Wates tetap mampu mempertahankan garis pertahanan. Mereka belum dapat dipukul walau setapak surut. Dipandang keseluruhan, kedudukan pengawal Gondang Wates dipengaruhi oleh Glagah Putih yang sangat baik mengendalikan gelar melalui aba-aba yang sambung menyambung.

Pada bagian lain, Sabungsari berhasil memutus hubungan Ki Astaman dengan senapati-senapati bawahan Ki Sor Dondong. Tak hanya itu, Sabungsari mampu membatasi lingkar perkelahiannya sehingga tidak ada campur tangan prajurit lawan yang ingin menerbangkan nama agar dinilai tangguh.

Pertempuran memenuhi seluruh bagian Karang Dawa ketika Ki Demang Brumbung berada segaris lurus dengan Glagah Putih. Menurutnya, Glagah Putih mempunyai kecakapan sebagai penglima perang meski sementara waktu. Sejenak kemudian, ia memandang pada arah perkelahian Pandan Wangi yang mulai meledak-ledak. Sangkal Putung dan Tanah Perdikan mendapat karunia luar biasa dengan adanya orang-orang seperti Agung Sedayu dan Sekar Mirah, Pandan Wangi serta Glagah Putih. Ki Demang Brumbung menepikan keberadaan Swandaru Geni berdasarkan keterangan yang diberikan Pangeran Purbaya padanya secara singkat. Pada langkah selanjutnya, Ki Demang Brumbung berloncatan seperti belalang. Berpindah-pindah tempat ketika menapakkan kaki, Ki Demang Brumbung begitu tangkas dan lincah sewaktu menerobos hiruk pikuk peperangan.

“Glagah Putih!” seru Ki Demang Brumbung. Ia menebaskan pedang, menghalau dua prajurit lawan yang menghalanginya. Ketika berada dalam jarak lebih dekat dengan Glagah Putih, kata Ki Demang, “Sebuah perintah dari Pangeran Purbaya.”

loading...

“Saya mendengar!” kata Glagah Putih dengan lantang.

Binelah Ombo!” Suara Ki Demang Brumbung melengking tajam sewaktu mengatakan itu.

Glagah Putih paham bahwa Pangeran Purbaya telah menurunkan perintah yang sangat tegas dan jelas. Binelah Ombo, itu berarti Glagah Putih akan berbagi ruang dengan Ki Demang Brumbung. Mereka akan bekerja sama memecah kekuatan lawan, memisahkan lawan menjadi dua bagian yang terpisah. Glagah Putih cepat menarik kesimpulan, bahwa Pangeran Purbaya sudah menyiapkan serangan pamungkas untuk pertempuran ini agar tidak terlalu lama memakan waktu.

Seorang senapati lawan turut mendengar percakapan pendek itu. Ia termangu-mangu sejenak untuk memikirkan sepak terjang pengawal Gondang Wates berikutnya. Dalam keadaan seperti itu, ia merasa cemas dengan kedudukan pasukan yang dipimpinnya. Sejurus kemudian, ia menoleh pada arah panglima perangnya.  Ki Sor Dondong mempunyai cara tersendiri untuk menyelesaikan pekerjaannya, batinnya. Seiring keraguan yang mengembang di dalam dadanya, senapati itu agak segan menghadang Glagah Putih secara langsung beradu dada. Kemudian, ia memilih menunggu perkembangan pasukan lawan.

Benarlah jika keraguan merambat di dalam dada bawahan Ki Sor Dondong itu. Karena perkembangan melaju sedemikian cepat ketika jalannya peperangan menjadi berubah sewaktu Binelah Ombo dijalankan oleh Glagah Putih dan Ki Demang Brumbung. Mereka berdua menggunakan kata-kata tertentu yang hanya dimengerti oleh pasukan Gondang Wates.  Mereka juga berbagi tugas secara cepat. Ki Demang Brumbung membawa kelompoknya bergeser ke bagian barat Karang Dawa. Sementara Glagah Putih beringsut sejengkal demi sejengkal mendekati Ki Sor Dondong tanpa harus bertarung dengan cara sebagaimana biasa. Glagah Putih berniat menyerang Ki Sor Dondong melalui sebuah serangan kilat.

Iklankan Produk dan Jasa Anda (Klik)

Kelompok pasukan Gondang Wates yang mulanya tersebar, perlahan-lahan bergeser, menghimpun diri dalam dua bagian yang cukup besar. Jumlah mereka tidak lebih banyak dari pasukan lawan, tetapi ketekunan mereka menjalani latihan-latihan yang digelar Swandaru pada masa damai benar-benar memberi hasil. Pada satu sisi, pengawal Gondang Wates berhasil menahan laju pasukan lawan. Sedangkan pada sayap yang ditempati Sabungsari mereka dapat menekan lawan setapak demi setapak sehingga garis pertahanan mereka pun semakin terdorong ke belakang.

Sejak mereka bertukar kedudukan lalu berganti lawan, Sabungsari masih terikat dalam perkelahian melawan Ki Astaman. Orang tua itu mempunyai banyak pengetahuan tentang Ki Gede Telengan di masa lalu, dan itu dinyatakan melalui ketajaman lidahnya. Bisa jadi, Ki Astaman memang benar pernah menjadi kawan dekat ayah Sabungsari. Namun, ini adalah peperangan, ini adalah keadaan yang mengizinkan tipu muslihat dijalankan dengan terang-terangan. Meski perjumpaan itu tidak diduga oleh Sabungsari, tetapi siapa yang dapat meninggalkan gelanggang bila sudah bertemu lawan? Dalam waktu itu, sebenarnya Sabungsari mengalami kesulitan membagi perhatian. Gebrakan Ki Astaman, sungguh, sangat menggetarkan sehingga banyak aba-aba bersambung yang lolos dari perhatiannya. Hanya saja, Ki Astaman sempat menjadi lengah ketika Pandan Wangi melabrak anak buah Raden Atmandaru berdasarkan siasat  Pangeran Purbaya yang mengguncang jantung lawan. Pada lingkar perkelahiannya, walaupun Sabungsari kadang-kadang berhasil menguasai keseimbangan, tetapi Ki Astaman adalah lawan yang cukup cerdas dan masak dalam pertempuran, sesuai dengan usianya.

Wedaran Terkait

Geger Alas Krapyak 90

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 9

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 89

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 88

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 87

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 86

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.