Padepokan Witasem
Bab 6 Lembah Merbabu

Lembah Merbabu 1

Memang sebenarnya Kiai Rontek telah jauh meninggalkan padepokan beratus-ratus tombak jaraknya. Tubuh Pangeran Benawa yang berada di atas pundaknya sama sekali tidak memberi pengaruh yang cukup besar pada kecepatan Kiai Rontek yang sangat lincah menyusup setiap celah pohon dan menembus pekat malam dalam belantara yang rapat. Dalam keadaan seperti itu, Pangeran Benawa tetap bersikap tenang seperti tidak terjadi sesuatu. Bersama Ki Buyut dan kadang-kadang Arya Penangsang, ia terbiasa melakukan perjalanan yang tidak dapat dijangkau nalar. Tetapi Pangeran Benawa adalah seorang anak yang berusia belia, ketika ia mengingat ayah dan ibunya, Ki Buyut dan sanak kadang, ia pun merasa pilu.

Di tengah malam yang pekat dan kabut yang rapat menutup lereng Merbabu, Kiai Rontek berdesis, ”Aku tidak akan membunuhmu malam nanti. Kematianmu hanyalah peristiwa yang sangat mudah dilupakan oleh Mas Karebet. Selain itu, kau memang tidak pantas menerima kematian. Pangeran, aku mempunyai alasan kuat untuk membiarkanmu hidup saat ini.” Sorot  matanya yang tajam seakan mampu menembus jantung Pangeran Benawa.

Walaupun Pangeran Benawa tidak takut saat mendengar kata-kata Kiai Rontek, tetapi jantungnya mendadak berdentang keras. Terbayang olehnya bahwa ia tidak dapat lagi bertemu dengan semua orang yang disayanginya. Wajah Ki Buyut Mimbasara, Adipati Hadiwijaya, ibunya, kakeknya dan saudara tua angkatnya Danang Sutawijaya bergantian membayangi pelupuk mata Pangeran Benawa. Dalam waktu itu, keyakinan Ki Buyut Mimbasara bahwa Jaka Wening adalah bocah lelaki yang mempunyai watak tenang pun terbukti. Pangeran Benawa segera menenangkan hatinya, ia mencoba mengalihkan kenangan-kenangan itu pada upaya untuk mengamati keadaan. Nalar dan mata Pangeran Benawa bekerja keras mencatat setiap kekhususan yang ia lihat sepanjang perjalanan pada malam buta. Meski tidak semua dapat diingatnya tetapi ia melakukannya saat terpanggul dan dalam kecepatan Kiai Rontek yang melebihi anak panah.

Kiai Rontek menurunkan Pangeran Benawa kemudian ia berdiri tegak menghadap lubang besar. Lubang besar yang berada di hadapannya tampak seperti rongga mulut seekor ular yang menganga lebar. Sementara itu Pangeran Benawa mencoba untuk bergerak, namun ia menjadi jengkel karena tidak ada yang dapat digerakkan karena Kiai Rontek telah melumpuhkan simpul utama.

“Kau akan menetap di sini hingga semua urusanku dengan Mas Karebet telah selesai,” kata Kiai Rontek seraya menebar pandang. Tebing batu berdiri tegak lurus menjulang angkasa. Bebatuan hitam semakin lekat dengan gelapnya malam di sebuah lereng yang terapit oleh dua gunung besar.

“Pangeran!” bergetar bibir Kiai Rontek sambil tajam memandang Pangeran Benawa, ”aku tidak akan menempatkanmu di dalam gua. Kau akan berada di tempat ini barang satu atau dua hari. Aku yakin kau akan dapat menjaga diri bila ada binatang buas yang mendatangimu karena lapar. Aku ingin kau dapat merasakan kepedihan kala sendirian di lembah ini. Seorang diri. Mungkin kau akan dapat mengambil sebuah pelajaran karena memang seperti itulah Ki Kebo Kenanga memberi gemblengan pada muridnya.”

“Kau akan melihat apa saja yang aku tinggalkan untukmu, kau akan melihatnya tatkala matahari mulai bersinar terang. Tetapi kau tidak akan dapat kabur dariku, percayalah!” usai mengatup rapat bibirnya, tubuh Kiai Rontek tiba-tiba menghilang dari pandang mata Pangeran Benawa.

angeran Benawa kini tinggal sendiri di tengah lembah. Udara dingin membeku menyusup dalam sementara ia masih kesulitan untuk menggerakkan tubuh. Meskipun Pangeran Benawa  merasa cemas namun ia akhirnya mampu memupuk kepercayaan diri. Ia memicingkan mata mempertajam penglihatannya berusaha mengenali keadaan sekitarnya. Perlahan ia mengingat petunjuk Ki Buyut Mimbasara tentang jalan darah dan pernapasan. Maka, kemudian Pangeran Benawa telah tenggelam dalam usaha untuk melepaskan diri dari jerat ilmu Kiai Rontek yang mampu membuat tubuhnya menjadi kaku.

Related posts

Leave a Comment