Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 46

“Wangi, apakah engkau tahu letak penyimpanan kitab itu?”

“Entahlah, Kakang,” kata Pandan Wangi dengan hela napas panjang. “Apakah kakang Swandaru terlalu percaya diri atau benar-benar yakin tidak ada orang yang berani merebut darinya? Saya tidak tahu, tetapi yang pasti adalah kitab itu berada di bagian atas bilik kami.”

Sambil bergumam, Agung Sedayu kemudian mengatakan, “Tidak terlalu disembunyikan.” Sekilas ia memandang wajah Pandan Wangi dengan sorot mata yang tidak biasa.

“Apakah Kakang akan mencari tahu dari saya?”

“Tidak, aku tidak berpikir seperti itu. Mungkin ia ceroboh. Aku tidak sedang mengatakan sesuatu yang buruk tentang Swandaru, tetapi seringkali ia menilai dirinya terlalu tinggi. Pandan Wangi, bisa jadi kebakaran di Menoreh adalah pengalih perhatian tetapi jika engkau memang mengetahui letak kitab itu, marilah, engkau dapat tunjukkan padaku.”

Pandan Wangi bergegas bangkit lalu memasuki biliknya dan Agung Sedayu mengikuti dari belakang.  Tiba-tiba terdengar seruan tertahan.

“Tidak! Tidak!”

“Wangi?”

“Lihat, Kakang. Kakang Swandaru meletakkan kitab Kiai Gringsing di dalam sebuah kotak kayu. Ia menyamarkan kotak itu dengan cara melekatkannya pada balok gantung bersilang. Tepat di atas pembaringan kami.”

Namun Agung Sedayu tidak segera mendongak untuk melihat tempat yang dimaksud oleh Pandan Wangi. Pandang matanya terpaku pada kotak kayu yang tergeletak di sudut kaki pembaringan, tetapi sedikit menjorok ke dalam.

“Oh, Kakang! Bagaimana saya harus mengatakan kejadian ini pada kakang Swandaru? Atau, bagaimana saya dapat menahan kakang Swandaru agar tidak kehilangan kendali pada Ki Demang?”

Di tepi pembaringan, Agung Sedayu duduk dengan dua telapak tangan menutup seluruh bagian wajahnya. Tidak ada lagi yang dapat ia pikirkan pada saat itu. Memang, Agung Sedayu telah mengetahui bahwa kitab gurunya berada di tangan Ki Hariman. Tetapi bagaimana ia dapat melewati sisa waktu yang ada? Sementara ancaman Panembahan Tanpa Bayangan akan melanda Sangkal Putung atau Jati Anom dalam waktu yang sangat dekat.

Ia harus membawa Sangkal Putung dalam keadaan siaga, namun itu tidak mudah! Sekar Mirah dan Pandan Wangi tengah kehilangan keseimbangan. Itu tidak mudah walaupun Agung Sedayu mempunyai pengalaman cukup untuk mengatasi kegentingan. Tetapi rumah Ki Demang bukanlah medan perang!

Menyiagakan para pengawal, mengadakan persiapan, membangun pertahanan dan siasat penyerangan harus segera ia lakukan. Ia harus melakukannya seorang diri. Agung Sedayu harus segera bergerak!

“Apa yang sekarang dapat kita lakukan, Kakang?” bertanya Sekar Mirah pada Agung Sedayu setelah ia mendengan penuturan Pandan Wangi.

“Menunggu tentu bukan sesuatu yang dapat kita kerjakan sekarang,” jawab Agung Sedayu. “Ada satu hal yang ingin aku katakan, tetapi aku pikir sebaiknya kita bicarakan lagi. Hari telah beranjak sore. Sebaiknya kalian berdua mengambil masa sebentar untuk istirahat.” Agung Sedayu menutup ucapannya sambil beranjak meninggalkan bilik Sekar Mirah. Ia ingin menemui kedua orang tua Sekar Mirah yang telah menunggunya di halaman belakang. Sepertinya, berdasarkan keterangan orang yang bekerja di rumah Swandaru, Ki Demang dan istrinya sering meluangkan waktu untuk menunggu senja di antara tumbuhan yang ada di kebun belakang. Begitu asri dan hijau!

“Selamat datang kembali di rumah penuh kenangan ini,” sambut Ki Demang.

“Terima kasih, Ayah,” jawab Agung Sedayu seraya mengambil punggung tangan kanan Ki Demang, sejenak kemudian ia beralih pada Nyi Demang.

Singkat waktu kemudian, mereka bertiga bertukar kata. Agung Sedayu berusaha menutup peristiwa buruk yang menimpa Tanah Perdikan Menoreh. Begitu pula dengan hilangnya kitab Kiai Gringsing.

Meski demikian, Ki Demang belum terlampau jauh mengalami kemunduran. “Sejumlah orang, aku tidak begitu baik mengingatnya,” desah Ki Demang.  “Dua atau tiga… Mereka datang bergantian setiap hari. Kadang mereka menjadi tamu yang baik, namun tak jarang mereka hanya duduk mengamati keadaan rumah ini.”

Related posts

Leave a Comment