Padepokan Witasem
Prosa Liris

Liris : Keranda Cinta Menampilkan Endah Wimala

Satu daya cipta di tengah kesibukan dalam mengerjakan tugas bacaan. Saya perkenalkan, Endah Wimala, penulis tiga paragraf selanjutnya

======

Ia mengatakan, “Cinta yang terpatri pada batu candi, akan tergerus oleh hujan.

Dan cinta yang dipahat pada setiap jengkal bagian langit, tak akan runtuh oleh air hujan.”

Para pengembara menulis cinta pada lembar dedaunan dengan tinta yang merintih. Mereka mengatakan bahwa waktu tak cukup tangguh menahan laju cinta yang layu. Mereka tertawa dalam semesta yang diabaikan oleh cinta.

Pujangga pun hanya diam ketika mereka disebut pecinta tanpa cinta sejati. Mereka manusia kalah, dan pena pun tertawa perih. “Cinta tak harus memiliki” adalah bukti kekalahan, lemah, lesap, hilang.

Apa yang bisa kulakukan jika hati telah beku, meski memahat cinta di atas es membuktikan kemurnian rasa?

Bagai daun yang menempel di batang pohon, Aku akan berlindung di bawah bayangmu, meski cintamu berakhir dan kau hunus pisau di jantung. Aku rela mati di tangan seorang pecinta. sebab cintaku terasa hingga dunia hilang tak bersisa.

Related posts

Leave a Comment