Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 39

Swandaru tidak mempunyai kepercayaan penuh pada Raden Atmandaru, namun demikian, ia masih tidak dapat mengerti perubahan yang terjadi dalam dirinya. Menempati kedudukan sebagai tumenggung adalah mimpi yang nyaris memenuhi hari-hari yang dilaluinya sejak tinggal di Randulanang. Perasaan yang berbeda muncul setiap kali timbul keinginan untuk melampaui kemampuan Agung Sedayu. Ada rasa segan bila ia berkeras mencapai lapisan itu. Selain kedudukan Agung Sedayu sebagai kakak seperguruan, senapati itu juga kadang seolah menjadi gurunya setiap kali mereka bertatap muka. Oleh karenanya, Swandaru rela mundur perlahan lalu meredam angan.

Tetapi ia berkata tidak untuk sebuah kemapanan dam derajat tinggi. Di kademangan, terkadang Swandaru tersiksa oleh harapan yang wajar. Ia adalah orang yang dekat dengan Panembahan Senapati dan Ki Patih Mandaraka, mengapa Mataram tidak pernah memberinya kesempatan? Atau sekedar penawaran walau harus melewati pendadaran, mengapa mereka berdua tidak melakukannya? Kemampuannya berolah kanuragan sebanding dengan rangga dan bahkan tumenggung. Dalam keadaan itu, Swandaru kadang merasa bodoh dengan keputusan atau sikapnya agar tetap setia pada Mataram.

Setelah pertemuannya dengan Ki Ambara yang kemudian diikuti oleh kesadaran yang sanggup menggagalkan niatnya, di Randulanang, Swandari seolah menemukan bagian dirinya yang hilang. Ia kembali menilai dirinya yang – menurutnya – pantas berada di lingkungan Keraton Mataram.

Berada di atas jalan utama kademangan, Swandaru tidak mempunyai keraguan untuk mengarahkan kuda menuju rumahnya. “Cukup berat bagi pasukan Raden Atmandaru untuk mengusai pedukuhan induk,” bisiknya dalam hati. Ketika itu ia banyak memuji siasat yang dirancang oleh Agung Sedayu. Sekelompok pengawal berkerumun pada tempat-tempat terbuka, sebagian menyebar dan menyatu dengan rimbun tanaman di pekarangan dan pategalan. Pada setiap lorong-lorong sempit, pengawal Sangkal Putung telah bersiap dengan besi pancang kecil yang dapat membunuh setiap musuh yang melintas. Jebakan berupa jaring berbahan serabut kelapa berada di sejumlah tempat, dan itu akan membuat mereka mudah menaklukkan penyerbu berjumlah besar.  Sejenak ia ingin mengatakan segala yang diketahuinya, tetapi Swandaru mengurungkan niat. “Aku belum dapat sepenuhnya percaya pada orang itu,” desisnya tanpa suara ketika ekor matanya membentur penunggang kuda yang berada di sebelah kananya.

Regol banjar pedukuhan telah terlihat. Penglihatan mereka bertiga terbantu dengan nyala api yang berada di sekeliling halaman banjar, terutama yang terpasang sebelah menyebelah di dekat regol. Satu belokan akan membawa mereka lebih dekat pada rumah Ki Demang Sangkal Putung.

Beberapa kelompok peronda membungkuk padanya dan dua temannya ketika mengenali salah  seorang dari mereka. Namun Swandaru meminta mereka tidak mengabarkan kedatangannya pada keluarganya. Diikuti pertanyaan di dalam hati masing-masing, tetapi para peronda mematuhi perintah Swandaru. Tidak ada halangan sejauh perjalanan mereka dari Randulanang. Tidak ada orang yang mengenali wajah Raden Atmandaru. Setiap orang mengira sepasang lelaki dan perempuan itu adalah teman dagang atau orang yang akan menolong mereka dari ancaman yang mengintai beberapa malam.

“Setelah beberapa malam tidak terlihat, Ki Swandaru hadir mengejutkan,” bisik seorang  peronda. “Sungguh aneh! Nyi Pandan Wangi berjibaku seorang diri di Gondang Wates, Ki Swandaru tidak terlihat sama sekali. Kita bernasib baik karena masih ada Ki Rangga Agung Sedayu.”

“Mungkin beliau tengah mengupayakan bala bantuan. Kekosongan pemimpin di Sangkal Putung yang tidak sampai terjadi hingga sekarang. Ketika Ki Rangga mengiringi kepulangan Ki Patih, Ki Swandaru hadir di tengah-tengah kita,” sahut kawannya. “Dan sudah barang tentu beliau akan bahagia apabila mengetahui kelahiran anak Nyi Sekar Mirah. Gangsar, meskipun beberapa orang mengatakan ada kesulitan. Namun, syukur pada Yang Maha Sempurna atas segala anugerah-Nya pada malam ini.” Beberapa pengawal mengangguk setuju.

Dalam waktu itu, regol rumahnya pun terlihat. Para peronda dan penjaga regol yang berusia muda masih bersemangat. Tidak terlihat lelah atau kegusaran pada raut wajah mereka meski hampir sepanjang pekan dihantam gelombang ketidakpastian.

“Ki Swandaru!” seru salah seorang dari mereka.

Swandaru mengangkat tangan lalu meminta mereka menahan diri. “Jangan mengendorkan kewaspadaan. Aku datang bukan sebagai orang yang akan mengeluarkan kalian dari cengkeraman yang sangat keras ini.”

Air muka pengawal kademangan berubah. Sungguh pun mereka tidak mengerti sepenuhnya maksud kalimat Swandaru, tetapi bukankah wajar jika mereka lega melihat pemimpinnya datang? Ini muncul sebagai pertanyaan besar. Mereka mencoba mengerti dan akhirnya dapat memahami bahwa memang musuh mereka belum terusir dari Pedukuhan Janti. Mereka tidak boleh gembira berlebihan meski pemimpin tertinggi pengawal kademangan bersama mereka. Dalam segala keadaan, waspada dan berhati-hati dengan gejolak perasaan sendiri tetap menjadi yang utama.

Ki Demang Sangkal Putung sepertinya telah mendapatkan kabar kedatangan Swandaru, maka dengan raut wajah penuh kelegaan, beliau menunggu di pendapa.

“Masuklah, Ngger,” kata Ki Demang, “banyak hal penting yang akan kita bicarakan.”

Mereka bertiga belum turun dari kuda walau jarak hanya beberapa langkah dari pendapa.

Tatap mata Ki Demang bergantian memandang wajah tiga orang yang berada di atas punggung kuda, katanya kemudian, “Ini adalah rumahmu. Tidak ada yang perlu Angger khawatirkan. Ki Rangga telah memberitakan pada kami tentang segalanya. Aku tidak tahu bila ada orang yang telah memberitahumu mengenai keadaan Sekar Mirah. Dan aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

Lima batang sujen melesat deras lalu lurus tertancap pada seluruh wajah orang yang menyebut namaku, Dyah Murti. Setangkup suara terkejut pun terdengar. Orang-orang menjerit dengan suara tertahan, termasuk Mpu Pali.

 

Bulan Telanjang 22

Swandaru masih bergeming seolah tidak mengindahkan kata demi kata yang diucapkan ayahnya. Sejurus kemudian, katanya, “Mirah? Ada apa dengannya?”

“Marilah, mari kita bicara di dalam,” ajak Ki Demang, namun sekejap kemudian ia menambahkan, “bila mungkin itu kurang mendapat perkenan, kita dapat berkumpul di pendapa. Aku akan memanggil ibumu.”

“Pandan Wangi?” Walau pun tahu tentang keberadaan istrinya, Swandaru merasa perlu untuk menegaskan kembali. Persoalan ini dapat menjadi panjang dan Pandan Wangi harus benar-benar dapat dipastikan sedang tidak berada di rumah, pikirnya.

“Angger Pandan Wangi sedang berada di Gondangwates sesuai perintah Ki Rangga,” jawab Ki Demang, “sayang, andai saja aku berani melanggar perintah itu.

“Tidak. Lebih baik ayah tetap mematuhi perintah Ki Rangga. Kakang Sedayu telah membuat persiapan dan segalanya dengan teliti,” sahut Swandaru lalu meloncat turun dari kuda diikuti dua orang lain.

Ki Demang memandang sikap dua penunggang kuda yang menyertai anaknya dengan perasaan janggal.  Di dalam hati, ia berkata, “Mereka begitu angkuh sebagai tamu. Andaikan mereka berdua adalah teman yang akan menolong kami, itu adalah sikap yang sangat buruk.”

“Apakah engkau tidak ingin memperkenalkan kami berdua pada keluargamu, Swandaru?” bertanya Raden Atmandaru seolah mengetahui isi hati Ki Demang Sangkal Putung. Sikap dingin dan sinar mata yang memancar darinya semakin menguatkan dugaan Ki Demang. Namun, lelaki berusia senja itu tidak memperlihatkan luapan perasaan di depan mereka.

Tanpa menutupi keterangan dan segala yang diketahuinya, Swandaru menerangkan jati diri Raden Atmandaru. Untuk Nyi Gandung Jati, dengan maksud menutupi kemesraannya, kata Swandaru, “Nyi Gandung Jati adalah seorang wanita yang dikenal sebagai ahli siasat. Beliau adalah perancang sesungguhnya di Randulanang. Sementara ini, Ki Gandung Jati tidak dapat melihat keadaan di sini. Beliau sedang menemani seorang rangga dari Kepatihan.”

“Oh, baiklah, baiklah. Randulanang tidak dapat ditinggalkan untuk sat-saat seperti ini. Aku kira sudah cukup dengan kehadiran istri Ki Gandung Jati,” Ki Demang berkata. Meski diliputi rasa heran, setidaknya sosok Ki Gandung Jati yang dikenalnya sebagai orang baik dapat menghilangkan tekanan batin yang pernah dialami pada masa silam. “Ia cantik dan keadaan Swandaru berada dalam kegentingan. Tetapi ia adalah istri Ki Gandung Jati. Apakah mungkin?”

Mereka menaiki pendapa beriringan.

“Permasalahan yang datang silih berganti benar-benar menematkan kami semua dalam keadaan pelik. Namun, di tengah ini semua, Sekar Mirah berlimpah kebahagiaan. Engkau mempunyai seorang keponakan, Ngger.” Wajah gembira memancar dari Ki Demang ketika mengatakan itu.

“Benarkah?” Sumringah Swandaru mendegar berita yang benar-benar mengejutkannya. Ia bergegas meninggalkan pendapa, memasuki bilik Sekar Mirah lalu mereka bertukar jawab tentang keadaan masing-masing. Bersama adiknya, sambil memandang wajah bayi merah, Swandaru seperti terhempas pada kesadaran baru. Namun, itu tidak berlangsung lama. Ketebalan rasa pada Nyi Gandung Jati dan mimpinya masih begitu perkasa menguasai dirinya.

Sementara itu keheningan datang menyergap tiga orang di pendapa.

“Izinkan saya untuk menemani anak-anak saya di dalam. Hanya sebentar saja,” kata Ki Demang.

“Silahkan, Ki Demang. Kami tidak mempunyai keberatan,” sahut Raden Atmandaru sedikit menekan. Sepeninggal ayah Swandaru, ia berbisik pada Nyi Gandung Jati, “Apa yang engkau pikirkan bila kita jadikan istri dan anak Agung Sedayu sebagai bahan pertukaran?”

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

Merebut Mataram 6

kibanjarasman

Leave a Comment