Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 40

“Dan, siapa atau apa yang akan Raden gunakan sebagai jaminan?”

“Apa yang kau pikirkan tentang Swandaru?”

“Swandaru belum cukup memadai untuk dianggap berharga, Raden. Jika ia sanggup meninggalkan istrinya demi saya, lalu apa yang membuatnya bernilai dalam gerakan ini? Usai segalanya, aku ingin mengempiskan tubuhnya lalu menghabisi pria belang itu.”

“Cerdas! Begitu pula yang aku pikirkan selama ini. Swandaru dapat menukar kesetiaannya pada Mataram dengan kenikmatan yang sebenarnya ada pada perempuannya. Aku pikir Agung Sedayu atau yang lain pun akan berpikir sama. Namun, jika istri dan anak Agung Sedayu dapat keluar dari kademangan beserta kita, tentu itu adalah perkara yang sangat baik. Bisa jadi, dan menjadi harapan kita bahwa Agung Sedayu akan menyerah. Aku kira cukup sebanding, tetapi apakah Swandaru hanya akan diam?”

Raden Atmandaru mencari jalan di dalam ruang pikirannya. Walau Sekar Mirah dan anaknya dapat mereka bawa dengan jalan damai, apakah itu harus membungkam Ki Demang? Lelaki tua itu pasti akan berteriak, dan jika pengawal kademangan mengetahuimya, tentu bukan perkara mudah untuk keluar dari kademangan, pikir Raden Atmandaru. Ia tidak melihat dan mendengar keberadaan Agung Sedayu, dan  itu berarti senapati Mataram dapat muncul setiap saat. Lantas bagaimana dengan orang-orang linuwih lainnya dengan keberadaan mereka yang tidak diketahui? Yang pasti, pada akhirnya menurut Raden Atmandaru, menculik Sekar Mirah secara terbuka bukan langkah yang tepat.

Di dalam bilik Sekar Mirah.

Ki Demang dan Swandaru duduk berdampingan. Mereka terpisah tiga langkah dari pembaringan Sekar Mirah yang mengundurkan diri dari perbincangan. Penat dan rasa sakit yang timbul karena persalinan belum sepenuhnya meninggalkan tubuhnya. Dalam waktu itu, Sekar Mirah lebih memilih untuk menenggelamkan perasaan bersama kebahagiaan dengan hadirnya seorang bayi perempuan yang cantik.

“Ngger,” kata Ki Demang setengah berbisik, “aku mendengar kabar mengenai orang yang kau sebut sebagai salah saeorang putra Panembahan Senapati. Bukankah kademangan kita sedang dikepung oleh pengikutnya? Kakangmu, angger Sedayu, juga mengatakan bahwa orang itu akan menyingkirkan Panembahan Hanykrawati. Ayah kira engkau sedang mendatangkan bahaya di tempat ini.”

Dari balik kelopak mata yang setengah terpejam, Sekar Mirah memandang dua orang yang duduk berdampingan di sampingnya. Kesadarannya menggeliat. Naluri alami menyentak keheningan yang mengendap dalam hatinya. “Aku pikir Kakang terlalu berani menantang kekuatan gunung,” ucap Mirah lirih. “Aku pikir Kakang dapat mengambil pelajaran penting dari segala yang terjadi di masa lalu. Ki Ambara, Ki Saba Lintang dan Perguruan Kedung Jati, apakah Kakang telah lupa dengan itu semua?”

Swandaru melihat wajah adiknya dengan wajah beku. Tidak terlihat sinar mata kesadaran dari murid kedua Kiai Gringsing itu.

“Kakang tidak terlibat dengan kesusahan yang terjadi di Tanah Perdikan beberapa waktu lalu. Kemudian Kakang menghilang,” lanjut Sekar Mirah, “kami belum mempunyai kesempatan untuk membicarakan persoalan yang dialami Kakang. Lalu, aku mendengar sebuah gerakan sedang berlangsung untuk menggeser kedudukan Panembahan Hanykrawati. Dahulu, Kakang tidak dikelilingi oleh orang-orang yang dekat dengan beliau. Namun, aku rasa untuk saat ini atau dalam waktu dekat, Kakang dapat berada di Mataram dan terlibat langsung dalam kekerasan atau tipu daya yang mungkin sedang terjadi di sana. Entahlah, aku hanya mengungkapkan yang sedang terpikir olehku.”

Walau Sekar Mirah tidak menyatakan secara terbuka tentang keinginan Swandaru yang lama tersimpan dan terkadang menggelegak liar, tetapi tiga orang yang berada di dalam biliknya sama-sama mengetahui tujuan tertinggi Swandaru.

Napas Swandaru mendadak menjadi berat. Ia menggigit bibir dan sesekali rahangnya terlihat mengeras. Mungkin ia sedang menahan marah. “Aku sebenarnya enggan mengatakannya pada kalian berdua. Kalian mengetahui kemampuanku, mengenal setiap orang yang dekat denganku, tetapi belum pernah atau tidak pernah ada satu dari kalian yang mendorongku untuk maju. Kesempatan akhirnya datang padaku, lalu kalian mengatakan yang tidak-tidak di hadapanku,” ucap Swandaru walau dengan nada datar tapi keangkuhan tersirat pada kata-katanya. “Mirah, perkenalanku dengan Raden Atmandaru seharusnya kau tangkap artinya sebagai tantangan dari sisi lain. Kalian dapat bayangkan kemampuannya dengan mengamati segala perkembangan yang terjadi sepanjang lembah Menoreh dan Merapi. Bagaimana Raden Atmandaru dapat menghimpun kekuatan sebagai orang yang tidak mempunyai pangkat dan harta? Bukankah itu berarti wahyu keprabon memang ada dalam dirinya? Sejauh ini, beliau seorang diri menanggulangi segala persoalan yang terjadi dalam pasukannya. Bagaimana beliau mendapatkan persenjataan? Bagaimana beliau dapat mencukupi orang-orang berilmu tinggi dan berwawasan seluas Ki Patih Mandaraka? Bagaimana, hah? Apakah kalian telah berpikir sejauh itu?”

“Perempuan,” kata Sekar Mirah. “Kakang, aku telah mendengar banyak tentang Kakang selagi mbokayu Pandan Wangi masih berada di sisi Kakang. Tidak perlu ada orang untuk memberitakan yang sebenarnya padaku atau Kakang Agung Sedayu maupun ayah. Kami tidak dapat melupakan perempuan muda yang berada di dekat Ki Ambara.” Dada Sekar Mirah terasa pepat. Ia menarik napas panjang lalu memutar tubuh, memunggungi Swandaru. Sekar Mirah mengalihkan perasaannya dengan memandang wajah lembut bayi mungil yang lelap di sampingnya.

Kemudian, kata Ki Demang, “Sikapmu seperti pernyataan perang pada Mataram. Engkau tentu masih ingat tentang keinginanmu menjadikan Sangkal Putung sebagai tanah perdikan. Ngger, apakah terpikir olehmu tentang nasib keluarga ini bila usahamu mengalami kegagalan?”

“Aku tidak bicara mengenai kegagalan, Ayah. Aku berpikir tentang kejayaan. Ayah sebaiknya tahu bahwa Mataram mulai melangkah surut. Kita tidak melihat kemajuan di tanah ini. Kita menjadi saksi bahwa Panembahan Hanykrawati hanya sibuk dengan peperangan yang tak kunjung berhenti. Ia terlalu sibuk untuk mengurusi adik-adiknya yang masih belum rela menerimanya sebagai penguasa tertinggi. Dalam keadaan seperti itu, dalam kekalutan dan kerumitan yang memusingkan, kepada siapa kita meletakkan harapan agar Mataram dapat berkembang? Hingga seseorang yang mempunyai pandangan jauh ke depan datang pada kita, lalu menunjukkan jalan untuk menggelar kemakmuran, apakah pantas kita menolaknya?” Swandaru berkata panjang.

“Sama seperti yang Kakang ucapkan,” tiba-tiba berkata Sekar Mirah, “aku tidak sedang membicarakan kemakmuran atau kejayaan Mataram. Aku adalah perempuan sederhana dan istri dari lelaki yang sederhana. Namun aku ingin berkata bahwa pilihan Kakang akan membuat perkara semakin runcing. Mungkin pertempuran antar saudara akan terjadi. Kita mengulang kebodohan yang sama dan akan bertarung sampai mati demi kehormatan serta kebenaran menurut perasaan masing-masing. Sangat bodoh jika kita benar-benar melakukan itu.”

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

Merebut Mataram 6

kibanjarasman

2 comments

Tanu metir 16/09/2021 at 21:12

Matur nuwun Ki

Reply
kibanjarasman 26/09/2021 at 14:28

Sami-sami, Ki 🙂

Reply

Leave a Comment