“Marilah kita pergi dari sini sebelum orang-orang menaruh kecurigaan,” kata Ki Wijil, kemudian ia melanjutkan, ”sebaiknya kita melihat-lihat tempat yang lain.”
“Pasar,” Sayoga berkata.
Nyi Wijil tersenyum mendengarnya, Sayoga yang menoleh ke arahnya kemudian, ”Ibu, kita belum makan sejak malam hampir berakhir.”Ketiganya lantas menghentak lambung kuda dan Ki Wijil memberi tanda untuk berbelok arah kiri.

Sinar matahari mulai menggatalkan kulit tetapi kegiatan di pedukuhan itu masih belum begitu ramai. Sepanjang jalan di dalam pedukuhan yang mereka telusuri, ketiga orang ini menyaksikan keadaan yang tidak terawat. Rumah-rumah besar yang berukiran halus dan berdinding kuat juga seperti tidak berpenghuni. Seakan mengetahui letak pasar, mereka menunggang kuda dengan pasti dan pelan.
Dalam waktu itu, agaknya Ki Jagabaya mengetahui kehadiran tiga penunggang kuda yang berada di bawah pohon asam. “Apakah kalian melihat tiga orang penunggang kuda yang berhenti di pohon asam?” ia bertanya kepada seorang peronda.
“Tidak, Ki. Tempat kami berdiri tadi tidak mungkinkan melihat mereka,” jawabnya.
“Hmmm, baiklah. Kau ikuti mereka. Ambil jalan melewati pekarangan Ki Suminar, agaknya ketiga orang asing itu menuju pasar,” ujar Ki Jagabaya memerintahkan peronda untuk mengawasi Ki Wijil dan keluarganya. Segera ia berlalu meninggalkan Ki Jagabaya yang masih berkumpul dengan peronda yang lain.

Setibanya di depan pasar, Ki Wijil menyapu pandangan dengan teliti. Sementara itu, Sayoga melompat turun dari kuda dan menghampiri kedai yang sedang melayani sedikit pembeli.
“Marilah Ki Sanak,” berkata seorang pelayan dengan tatap mata curiga.
“Baiklah, aku minta disiapkan tiga nasi dengan sayur lodeh dan ikan pindang,” kata Sayoga.
“Tiga? Bukankah Ki Sanak seorang diri?” tanya pelayan sembari melihat keluar pintu.
“Ayah ibuku akan ke sini. Mereka sedang melihat-lihat kain di dalam pasar,” kata Sayoga sekenanya. Lalu, ”sudahlah, siapkan saja dan sekalian tiga wedang sere yang hangat.”
Pengunjung kedai yang tidak begitu banyak segera menghentikan percakapan ketika Sayoga memasuki kedai. Tatap mata curiga melekat pada setiap gerakan dan ucapan Sayoga. Keadaan itu bukan tidak disadari oleh Sayoga namun ia lebih memilih untuk bersikap wajar.
Pemilik kedai yang berada di balik meja yang tergelar banyak masakan berkata, ”Tentu ia bukan orang dari kademangan ini. Dan aku rasa juga bukan pedagang,” kepada pelayannya. Pelayan itu melirik sekilas ke arah Sayoga dan menganggukkan kepala.
“Aku takut peristiwa beberapa malam yang lalu terjadi di kedai kita ini, Ki.”
“Mintalah pada Yang Maha Kuasa agar mencegah itu terjadi,” kata pemilik kedai dengan nafas panjang. Pelayan itu mengiyakan ucapan majikannya dan segera mengantarkan pesanan Sayoga.
Tak lama kemudian, Ki Wijil beserta istrinya telah duduk bergabung dengan Sayoga. Dalam sekejap mereka melakukan makan pagi yang sebenarnya sudah terlambat dilakukan. Tidak ada percakapan yang terjadi dalam masa itu. Beberapa pengunjung nampak bergegas menyelesaikan makan dan segera keluar dari kedai setelah melakukan pembayaran.
Kini hanya mereka bertiga yang berada di dalam kedai. Sayoga berjalan menghampiri pemilik kedai, sambil membayar ia bertanya, ”Ki Sanak, apa yang sedang dialami pedukuhan ini? Hingga akhirnya setiap pengunjung melihatku penuh curiga?”
Tersentak hati pemilik kedai mendapat pertanyaan yang tidak ia kira sebelumnya. Dengan tergagap katanya, ”Tidak ada apa-apa, Ki Sanak. Pedukuhan ini tidak mengalami kejadian apapun.” Sedikit gemetar tangan pemilik kedai menerima tiga keping perak dari Sayoga. Lekat mata Sayoga melihatnya dan ia tidak dapat menyembunyikan wajah yang sedikit pucat dari penglihatan Sayoga.
“Sebaiknya Anda berkata jujur, Ki Sanak. Kami adalah keluarga yang sedang menuju Demak. Ada sanak kadang kami yang menderita musibah. Kami akan menengoknya. Keterangan Anda akan dapat membantu kami menghindar bahaya di perjalanan,” Sayoga membuat alasan yang dapat diterima nalar pemilik kedai.
” Tidak ada yang dapat aku katakan padamu, Anak Muda. Karena memang pedukuhan ini tidak mengalami apapun seperti yang kau duga,” kata pemilik kedai.
Selagi pemilik kedai menghitung biaya dan kembaliannya, Sayoga melirik lincak bambu yang berada di sebelah dapur. Di atas lincak bambu itu terdapat selembar kulit harimau dan sebilah parang kotor.

2 thoughts on “Sayoga 2

    1. kelanjutan Sayoga nantinya ada di Kitab Kiai Gringsing, peleburan kisah ada di Jati Anom Obong.. Sebelumnya Panembahan Tanpa Bayangan adalah kisah tersendiri namun karena waktu yang mulai terbatas, akhirnya saya lebur menjadi satu di KKG.. demikian penjelasan singkat Padepokan. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *