”Tidak mungkin orang ini menjadi seorang pemburu harimau. Jika melihat jemari dan otot tangannya, jelas ia bukan pemegang parang yang cukup baik,” Sayoga menilai dalam hatinya. Kemudian ia menerima kembalian dari pemilik kedai. Sementara itu, Ki Wijil dan Nyi Wijil telah bersiap di sebelah kuda mereka.
”Menjelang matahari tergelincir, saya akan kembali. Setelah itu kita dapat mencari tempat untuk bermalam,” Sayoga berkata.
”Maksudmu sebuah penginapan?” tanya Nyi Wijil.
”Atau rumah penduduk?” susul Ki Wijil.
”Tidak. Saya kira kita masih akan beratap langit dan beralas rumput empuk yang segar,” kata Sayoga kemudian menepuk leher kudanya.
Mereka kemudian berpacu menuju hutan di sebelah barat pedukuhan. Debu membumbung oleh derap kaki kuda.

Di waktu bersamaan, sepasang mata memperhatikan mereka dari kejauhan semenjak Sayoga memasuki kedai. Pengintai ini bergegas keluar dari persembunyian dan berlari kecil mengikuti jejak-jejak kuda keluarga dari Tanah Menoreh. Ia mengikuti dengan cukup hati-hati, agaknya pengintai ini mempunyai pengalaman yang cukup dalam tugas pengamatan. Dari balik gerumbul pohon pisang yang berada di sisi pagar bambu, ia merunduk. Tampak olehnya ketiga orang asing itu sedang berputar-putar seakan mencari sesuatu. “Agaknya mereka orang-orang berilmu sehingga berani mendekati hutan yang menjadi sarang harimau. Ataukah mereka tidak tahu jika mereka sedang mengantarkan nyawa bagi penunggu hutan?” desis pengintai.
Delapan orang pengawal pedukuhan yang dipimpin Ki Jagabaya berjalan membelah malam. Mereka menyisir jalan-jalan yang lengang dan sesekali menyibak pekarangan tetangga untuk mengambil jalan pintas. Tak memakan waktu sepenginang sirih sewaktu mereka mencapai dinding batu di luar pedukuhan induk. Sawah yang lama tidak terawat membentang di depan mereka. Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam, katanya, ”Kita sudah terlalu lama meninggalkan air dan tanah. Sebenarnya rasa takut yang menyergap seisi pedukuhan ini tidak dapat menjadi alasan untuk kita agar tidak turun ke sawah.”
Seorang yang berbadan gempal dengan rambut sedikit berombak dan berjalan sedikit di belakang Ki Jagabaya menarik napas dalam-dalam. Kang Minto, begitu ia dipanggil, melihat Ki Jagabaya. Salah seorang dari pemimpin pengawal pedukuhan ini sebenarnya sependapat dengan Ki Jagabaya. Dan ia juga mengerti sesungguhnya penduduk pedukuhan tidak mempunyai keberanian melawan rasa takut yang sekarang menebar ke seluruh pedukuhan. Ia berkata, ”Kita kekurangan orang jika harus mendampingi setiap mereka yang turun ke sawah, Ki.”
”Kita dapat mengatur susunan pengawal, Kang Minto.”
Kang Minto mengernyitkan dahi karena belum memahami maksud Ki Jagabaya.
”Sudahlah, kita masih mempunyai waktu untuk menyusun rencana. Marilah kita kembali ke tujuan semua,” berkata Ki Jagabaya lalu menyusur pematang di tengah pekatnya malam. Para pengawal pedukuhan kemudian turut di belakangnya. Iring-iringan itu tampaknya sudah hafal setiap jengkal tanah mereka. Tidak ada kesulitan ketika mengayunkan langkah di antara rerimbun tanaman liar yang menjadi batas antara hutan dengan sawah. Tak berapa lama mereka menyusur tepi hutan kemudian setitik api terlihat dari kejauhan. Ki Jagabaya tidak mengendurkan langkahnya sementara para pengawal mulai dirambat ketegangan. Para pengawal memperkirakan ketiga orang asing itu mempunyai ilmu tinggi sehingga mereka mulai mempersiapkan diri lebih awal. Sementara itu Kang Minto mempercepat langkah mendahului Ki Jagabaya. Pada jarak sekitar sepuluh tombak, Kang Minto meminta Ki Jagabaya untuk berhenti. Kemudian Kang Minto memerintahkan para pengawal pedukuhan mengambil posisi melingkari ketiga orang asing itu.
”Sebaiknya kita berhenti di sini, K,” katanya.
”Baiklah.”
”Kalian segera melingkari mereka dan jangan terlalu lebar jarak di antara kalian,” perintah Kang Minto sambil berbisik ketika ia bergeser beberapa langkah ke samping Ki Jagabaya. Para pengawal pedukuhan segera mengepung Sayoga dan orang tuanya.
”Selamat malam, Ki Sanak,” kata Ki Jagabaya setapak demi setapak mendekat.
”Selamat malam, Ki,” Sayoga membungkuk hormat dengan tangan tertangkup di depan dada. Agaknya ia dan keluarganya telah mengetahui kedatangan rombongan Ki Jagabaya. Sebentar mereka berbenah diri dan segera bangkit menyambut kedatangan Ki Jagabaya.
Dalam waktu itu, Ki Wijil berbisik, ”Tahan dirimu. Kita akan ikuti kemauan mereka. Sedapat mungkin kau tidak singgung harga diri mereka.” Sayoga menganggukkan kepala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *