Ki Patih Mandarakan tidak dapat membiarkan dirinya terus menerus berada di bawah maut yang ditebar Ki Sekar Tawang melalui Kiai Plered. Sulit untuk bertahan dengan...
“Aku pikir tidak baik dengan membiarkan Agung Sedayu mati dengan jiwa melayang- layang mengitari kademangan. Baiklah, aku penuhi kehendakmu,” kata kawan Ki Tunggul Pitu dengan...
Perhatian Agung Sedayu dan Ki Patih Mandaraka sulit teralihkan meski udara yang menggema di dalam telinga mereka makin jelas terdengar seolah suara bergumam. Keadaan sangat...
Ketika penaku tumpul Tak selarik kalimat aku tuliskan Pun sebuah kata untuk mengungkap Ketika penaku tumpul Bayangan pria berblangkon menari lunjak-lunjak Bahkan sesekali ece-ece...
Cahaya bulan memantul keemasan dari balik riak sungai. Gelombang kecil yang tercipta dari langkah kaki para gadis, menari-nari di sela jari kakiku. Langkahku terhenti. Dingin...
Malam semakin muram, saat Bapak menggebrak meja. Ia murka! Matanya membara, suaranya menggelegar mengoyak gendang telingaku. “Siapa yang menyuruhmu mengambil semua ini?” Jari telunjuk itu...
Menjes, ote-ote, dadar jagung, dan semangkuk cabe hijau girang menyapa. Benar. Ternyata tak sampai hitungan menit di dalam sana, lambung semakin bersemangat menabuhkan bunyi-bunyian. Astaga!...
“Mbak, anak-anak sudah sehat?” sebuah tanya darimu, bukan hanya menyentuh kuping tapi juga merobek hati. Tak ada inginku untuk menjawab bahkan sekadar mendongakkan wajahpun enggan....
Baru sembuh dari sakit, tidak serta merta membuatku sehat wal afiat. Namun keharusan mengantar Panglima bertemu dokter, membuat aku harus merasakan kembali napas tersengal sekian...
error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.