Padepokan Witasem
Bab 5 Siasat Ken Arok

Siasat Ken Arok 4

Namun Toh Kuning akhirnya dapat menerima kenyataan, bahwa perubahan yang terjadi dalam diri Ken Arok merupakan akibat dari kejadian yang berlangsung terus menerus.

“Tentu saja satu peristiwa ke peristiwa yang lain akan membuat goresan dalam batinnya. Pembicaraan dengan orang lain yang berbeda tujuan hidupnya tentu juga dapat mempengaruhi Ken Arok,” gumam Toh Kuning dalam hatinya. Ia lantas memejamkan kedua matanya dan berangsur-angsur ia menilai dirinya dengan melihat jauh ke dalam hatinya.

Saat kabut perlahan mulai menyingsing dari kota Tumapel, Toh Kuning telah berdiri di depan pintu penginapan. Sekilas ia melihat berkeliling dan terlihat olehnya sedikit orang yang berlalu lalang di jalanan depan penginapan. Ia menarik napas dalam-dalam lalu memeriksa pakaian prajurit yang telah ia kenakan. Sekejap kemudian ia mengayunkan kaki menuju istana Tumapel.

Gardu penjagaan terlihat olehnya dan Toh Kuning telah bersiap dengan alasan kedatangannya. Usai bertegur sapa dengan para penjaga, Toh Kuning menaiki beranda depan dan menunggu Akuwu Tumapel.

“Ki Lurah,” sapa Tunggul Ametung sesaat setelah ia muncul di beranda. Toh Kuning membungkuk hormat dan keduanya telah bercakap ringan mengenai berbagai masalah. Dada Toh Kuning berdegup kencang saat teringat percakapan Ken Arok dengan orang-orang yang berada di dalam pondok di pedukuhan. Setelah  mengendapkan gejolak hatinya, Toh Kuning memberanikan diri berkata, ”Aku tidak menyangka jika seorang empu akan ditimpa hal yang buruk.”

Tunggul Ametung memandang tajam pada lurah prajurit yang duduk di hadapannya, ia merenung sejenak lalu berkata, ”Memang tidak ada seorang pun yang mempunyai pikiran buruk tentang dia. Tetapi selalu saja ada orang yang berbeda pendapat dengan kita dan kita tidak dapat memaksanya untuk menerima pendapat kita.”

“Akuwu, pembunuhan itu tentu mengguncang Tumapel yang selama ini dikenal sebagai daerah yang aman dan damai.” Toh Kuning menjalin jemarinya di depan dada.

“Tidak,” jawab Tunggul Ametung,”peristiwa itu masih tertutup rapat. Aku akan mengabarkan itu apabila ada titik terang.” Ia mengajak Toh Kuning untuk menikmati makanan kecil yang tersaji di atas meja. Ia bertanya kemudian, ”Apakah kedatangan Ki Lurah mempunyai hubungan dengan pembunuhan itu?”

“Saya tidak dapat mengatakan secara langsung pada Akuwu. Tentu Akuwu telah memerintahkan prajurit Tumapel bekerja keras mencari pembunuhnya,” jawab Toh Kuning. ”Tetapi keberadaan saya di sini tentu saja juga bertujuan untuk membantu Akuwu mengenai masalah itu.”

Tunggul Ametung memandang ke arah lapangan luas yang terhampar di depan istananya. Ia menarik napas panjang lalu katanya, ”Kau dapat memerintahkan para prajurit Tumapel untuk melaksanakan rencana jika Ki Lurah telah bersiap untuk itu. Ki Lurah akan membawa tanda khusus dariku sehingga perintah Ki Lurah tidak akan dapat dibantah prajurit meskipun ia seorang tumenggung.” Tunggul Ametung diam sesaat. Kemudian ia berkata lagi, ”Aku telah mendengar jika KI Lurah adalah orang kepercayaan Ki Tumenggung Mahesa Wunelang, jadi sepantasnya aku memberikan kepercayaan yang sama pada Ki Lurah.”

Toh Kuning menganggukkan kepala dan berkata, ”Terima kasih Akuwu.”

Tunggul Ametung yang merasa sudah tidak ada lagi bahan yang dapat dibicarakan kemudian bangkit dan melanjutkan tugasnya sebagai seorang pemangku kekuasaan.

Dengan kehadirannya sebgai seorang perwira yang berpangkat cukup tinggi, Toh Kuning tidak mendapatkan kesulitan untuk menemui Ken Arok dalam lingkungan istana Tumapel. Sekalipun terkejut dengan kedatangan Toh Kuning yang menemuinya di halaman belakang ketika ia masih membelah kayu bakar, Ken Arok dapat menduga arah kedatangan saudara seperguruannya itu.

Related posts

Leave a Comment