Padepokan Witasem
arya penangsang, pangeran benawa, silat pajang, demak
Bab 7 Wedhus Gembel

Wedhus Gembel 1

“Kau tidak akan dapat sampai di Demak, Mas Karebet!”

Tajam suara itu menggores pendengaran Adipati Hadiwijaya yang sedang berpacu cepat di atas kuda. Sesaat ia terkejut mendengar suara yang disertai dengan tenaga inti. Suara yang cukup dikenal dan mengendap dalam ingatannya begitu lama. Suara yang dirasakannya seperti sebatang tombak menghunjam telinganya. Adipati Hadiwijaya mengerti bahwa hanya ia seorang diri yang mendengarnya. Ketika ia telah menguasai dirinya kembali lantas teringatlah sebuah kenangan kelam di masa lalunya.

“Sarpakenaka!” desis Mas Karebet. Sarpakenaka adalah julukan yang secara khusus ia berikan pada orang yang dikenal sebagai Kiai Rontek. Adipati Hadiwijaya pernah menjalani sebuah perkelahian melawan Kiai Rontek di masa mudanya. Ketangguhan ilmu Sarpakenaka atau Kiai Rontek ini terus membayang dalam benak Mas Karebet muda. Oleh karena itu, keberadaan Sarpakenaka menjadi salah satu sebab yang membuat Mas Karebet terus menerus menyerap ilmu dari berbagai penjuru.

Sekilas Adipati Hadiwijaya menggerakkan bola matanya lalu ia mengerti bahwa Kiai Rontek berada jauh di depannya. Tetapi, tiba-tiba, bumi bergetar sangat kuat. Kuda yang ditungganginya nyaris terjerembab jatuh, namun Adipati Pajang adalah penunggang yang mahir sehingga mampu menguasai laju kudanya. Keadaan yang berbeda dialami oleh para pengawalnya. Mereka terlempar dari punggung kuda ketika secara mendadak kuda mereka mengangkat kedua kakinya dan bergerak sangat liar.

Mempertimbangkan kedudukan yang tidak memberinya keuntungan, Adipati Hadiwijaya lantas meluncur deras dari atas punggung kuda dan tiba-tiba berada belasan tombak di depan kudanya yang masih berderap cepat. Sekelebat bayangan mendadak muncul dan melayang sangat cepat melintas di atas tubuh para pengawal yang bergulingan jatuh.

Kedua kaki sosok ini menjejak tanah dengan sangat ringan dihadapan Adipati Hadiwijaya yang telah memutar tubuh dan menunggunya.

“Aku harap kau tidak terkejut melihatku malam ini, Mas Karebet!” kata lelaki bertubuh kekar dengan pakaian yang cukup ketat membungkus bagian atas tubuhnya.

“Sebenarnya aku ingin terkejut tetapi kecerdasanku ternyata jauh berada di atas perkiraanmu, Lembu Jati,” suara tenang keluar dari bibir menantu Raden Trenggana.

Tawa berderai lepas dari orang yang bernama Lembu Jati, kemudian berucap, ”Kau tentu masih ingat saat-saat mengerikan yang kau alami ketika roboh terkulai oleh Jagat Manunggal.”

Adipati Pajang pun tertawa, lalu katanya, ”Jagat Manunggal tentulah ilmu yang berada di puncak langit.”

Lembu Jati mengangguk.

Lubang hidungnya sedikit membesar lantas  katanya, ”Pastinya kau masih ingin melampauinya. Bukan begitu, Jaka Tingkir?”

Ayah Pangeran Benawa menjawab dengan gelengan kepala. Lalu ia menggerakkan bibir, ” Keinginan itu telah pupus semenjak Jaka Wening lahir.”

” Kau enggan untuk berkata jerih tetapi aku dapat mengerti gelisah hatimu, Mas Karebet,” sahut Lembu Jati.

” Lembu Jati, bagiku saat ini sebuah pertarungan bukan lagi sekedar mencari siapa yang lebih kuat. Aku adalah Adipati Pajang,” kata Adipati Hadiwijaya.

Lembu Jati menarik napas panjang. Ia membuang muka lalu berkata, ”Kedudukan seseorang tidak dapat menghalanginya dari sebuah tantangan. Tetapi, itu bisa dilakukan oleh orang yang mempunyai hati kecil.”

Ia diam sejenak, lalu lanjutnya, ”Seperti kau sekarang ini, Mas Karebet. Aku melihat jiwamu telah terkungkung dalam satu liang sempit yang gelap hingga kau tak mampu melihat cahaya matahari.”

“Aku berada dalam satu ruang yang terhampar begitu luas,” sahut Adipati Hadiwijaya.

“Kehadiran Jaka Wening adalah penjara untukmu. Kaki dan tanganmu terikat pada dirinya,” tukas Lembu Jati dengan suara meninggi. Lembu Jati sedikit memelototkan mata lantas,” Perhatikanlah tujuanmu ke Demak, Mas Karebet. Bukankah dapat menggantikan kedudukan Raden Trenggana untuk selamanya? Kau mempunyai kelebihan untuk merancang sebuah gerakan seperti yang pernah kau lakukan di masa mudamu.”

”Lanjutkan upayamu untuk membuatku keluar dari batasan yang ada saat ini,” Adipati Hadiwijaya berkata dingin.

 

Bagian sebelumnya : Bab 6 Lembah Merbabu

Related posts

Wedhus Gembel 9

kibanjarasman

Wedhus Gembel 8

kibanjarasman

Wedhus Gembel 7

kibanjarasman

Wedhus Gembel 6

kibanjarasman

Leave a Comment