0%
Still working...

Membidik 11 – Jalan Pintas Lemah Cengkar

Dironda 2 kali

Untara mendekap Ki Sanggabaya dengan sorot mata penuh pertanyaan. Sepintas dalam pengamatannya, Ki Sanggabaya memahami bahwa suasana bilik kerja Untara terus menerus bergelora, turun naik seperti gelombang laut di tengah badai, tetapi memang itu adalah kewajaran dalam keadaan yang sulit diterka arahnya.

Pikir Ki Lurah Sanggabaya. Walau begitu ia sedikit kesulitan mengendalikan gelora di dalam hatinya sendiri.

“Ki Prastawa, yang juga turut menemui utusan dari Mataram, mengatakan pada saya bahwa ia melihat kejanggalan pada pakaian prajurit yang dikenakan oleh orang yang mengaku sebagai utusan Ki Patih Mandaraka. Bukankah ada ciri khusus pada setiap prajurit Mataram? Mereka yang bertugas di Kepatihan sudah pasti mempunyai tanda yang berbeda dengan prajurit pengawal raja dan seterusnya. Dan pada hari itu, mereka bertiga datang dengan perlambang yang biasa digunakan oleh prajurit yang bertugas di istana Penembahan Hanykrawati,” Ki Sanggabaya meneruskan, “dengan mengaku sebagai utusan Ki Patih Mandraka.”

“Bagaimana dengan petugas yang Anda perintahkan?” Ki Widura menautkan alis ketika menanyakan itu pada Ki Sanggabaya.

“Hingga kami melewati perbatasan Tanah Perdikan, kedua orang kami belum terlihat memasuki perbukitan Menoreh,” suara Ki Sanggabaya terdengar telah melampaui batas ruang dan waktu. Ada pesan khusus yang seolah menebar keluar lalu tiba di hati setiap orang di dalam bilik. Mereka nyaris mempunyai pikiran yang sama bahwa utusan Menoreh tidak akan kembali lagi. Tetapi tidak ada suara yang terucap dari bibir mereka mengenai keadaan terakhir yang dikatakan Ki Sanggabaya.

Dalam waktu itu, Agung Sedayu dengan pasti kembali memulihkan keseimbangan yang ada pada dunianya. Ia berpikir tentang cara pandang Raden Wijaya, tentang siasat Adipati Hadiwijaya yang mampu menutup ruang gerak Arya Penangsang dan pengamatannya pada Panembahan Senapati ketika mengembangkan Alas Mentaok. Secara keseluruhan, Agung Sedayu dapat melihat dengan jelas bahwa pencapaian itu tidak semata-mata berasal dari kemenangan dalam perang. Berpegang pada berita terakhir yang diutarakan oleh Ki Sanggabaya, senapati pasukan khusus Mataram ini sigap mengubah jalan rencananya. Ia tidak lagi bertumpu pada gelar perang yang telah dikenalnya dengan baik, tidak pula tergantung pada aturan yang biasa digunakan oleh Ki Tumenggung Untaradirga namun satu atau dua rencana telah siap diungkap di hadapan orang-orang yang matang dalam peperangan.

Kerja sama tiga bagian besar Mataram yang berkumpul di Jati Anom dilihatnya sebagai kekuatan inti untuk menghalau Raden Atmandaru. Agung Sedayu mencoba mengabaikan keberadaan Mataram yang masih diharapkan datang membawa kabar. Ia harus dapat meyakinkan Untara serta yang lainnya bahwa mereka tidak perlu lagi menunggu rancangan Ki Patih Mandraka.

Sementara ia tenggelam untuk mematangkan rencana, Agung Sedayu juga dilanda gelisah dan keraguan bahwa rencananya akan gagal. Meskipun Ki Widura dan Untara dapat mengikuti siasatnya, kegagalannya mengenali lawan adalah tantangan terbesar yang dihadapinya pada saat itu. Cepat atau lambat, Raden Atmandaru akan mendatangi Jati Anom atau Sangkal Putung seperti air bah. Ia akan merembet dan menjangkau daerah-daerah yang mengelilingi Mataram sebelum benar-benar menusuk ibu kota Mataram. Titik pemberhentian terakhir Agung Sedayu telah berubah menjadi persimpangan yang sangat sulit ditempuh. Hingga kemudian ia berketetapan hati untuk menjelaskan rancangan jalan pikirannya. “Jati Anom harus menjadi awal yang mampu memberikan arti. Walau pun aku tidak dapat melihat Raden Atmandari dengan jelas, Jati Anom akan dapat melakukannya karena Jati Anom adalah Tanah Perdikan Menoreh.”

“Agung Sedayu,” kata Untara perlahan namun orang yang dipanggilnya seolah tidak mendengar suaranya. Untara mengulang ucapannya tetapi Agung Sedayu tidak beranjak untuk menyambutnya.

Panggilan ketiga Untara pun tidak membuatnya bergerak. Ia tidak menjawab. Sungguh, Agung Sedayu masih membeku di tempat duduknya. Ia benar-benar seperti tidak berada di dalam bilik itu. Ia telah sampai pada perenungan terakhir tentang kekalahan yang mungkin terjadi pada pihaknya. Kehancuran dan kebinasaan alam sekitar perbukitan dan Menoreh terpampang jelas di matanya, maka Agung Sedayu semakin keras berusaha menerobos kendala yang merintanginya membuat garis yang bakal menghubungkan tiga kekuatan inti. Ia tengah membuat jalan untuk menempatkan Raden Atmandaru agar berada tepat di tengah. Dalam jangka waktu yang sangat panjang, Agung Sedayu dikenal sebagai orang yang selalu tepat dalam membidik sasaran. Maka pada hari itu, di bilik Untara, di dalam rumah peninggalan orang tuanya, Agung Sedayu seperti orang yang kehilangan kesadaran. Meski sebenarnya ia larut dalam gelombang gagasan yang bermunculan dalam benaknya, ia tengah menguak selubung agar dapat membidik tepat Raden Atmandaru.

“Ki Lurah, apakah Anda berencana untuk menemui Ki Patih Mandraka?” tanya Agung Sedayu seraya lurus memandang bawahannya.

Wajah Ki Sanggabaya semakin mengungkap kesungguhan hatinya untuk segera melakukan tindakan nyata dengan menyerang pemukiman pengikut Raden Atmandaru, tetapi ia mengerti bahwa itu adalah serangan yang cukup bodoh. Atas pertanyaan Agung Sedayu, kemudian ia menjawab, “Pada awalnya saya berpikir seperti itu, Ki Rangga. Musuh yang tersembunyi, lawan yang tidak diketahui dan perubahan yang dapat terjadi setiap saat, itu semua menjadi alasan saya untuk menimbang lebih cermat.”

“Kemudian?” Untara mengelus keningnya yang tidak berkeringat.

“Kemudian saya pikir bahwa akibat buruk yang lebih besar akan muncul di Menoreh apabila mereka mengetahui keberadaan saya di Mataram. Sedangkan kita mengerti bahwa banyak lubang di sepanjang rantai keprajuritan,” Ki Sanggabaya berkata.

“Pembelotan atau lubang itu adalah pendapat yang muncul dari banyak gagasanselama kita bicara di sini. Jadi, aku pikir, engkau benar-benar ragu untuk pergi ke Mataram sekalipun telah dizinkan Agung Sedayu,” selidik Untara.

Ki Sanggabaya memandang ke bawah dengan sudut matanya. “Benar, Ki Tumenggung. Bayangan kekhawatiran semakin besar menguasai jalan pikiran saya.”

“Aku dapat mengerti keadaanmu, Ki Lurah,” kali ini Ki Widura angkat suara. “Berkaca pada kebakaran-kebakaran yang terjadi di dua tempat yang berbeda dan berjauhan meski dengan sasaran yang berlainan, itu seperti mengingatkan kita tentang kewaspadaan. Meski begitu, kewaspadaan bukan atau tidak dapat diartikan dengan pengintaian, menunggu dan menunggu.”

Agung Sedayu menebar pandang sebelum melanjutkan paparan jalan pikirannya. Ia masih menunggu orang-orang memberi pendapat tentang gagasan satu sama lain. Untara tidak membuang waktu dengan membiarkan Agung Sedayu setia mendekap rencananya. “Di Lemah Cengkar ada jalan pintas yang dapat membawa satu iring-iringan orang untuk tiba lebih cepat di Sangkal Putung.” Untara memberi keterangan yang ditujukan pada adiknya.

“Apakah saya melewatkan sesuatu?” Agung Sedayu memandang wajah kakaknya.

Untara menggeleng lalu katanya, “Tidak, karena jalan pintas itu terhitung masih baru. Para prajurit peronda dari Jati Anom menggunakannya sekitar dua atau tiga pekan terakhir ini.”

  • Menebar pandangan tidak selalu berarti Membidik.
  • Apakah itu adalah taktik ketika ramai pengikut Raden Atmandaru yang meneriakkan nama Agung Sedayu? Kiai Plered 25 serba sedikit memberi bocoran.
  • Bertolak belakang dengan suasana di kotaraja ketika sekali-kali masih terdengar suara guntur menggelegar. Rintik hujan turun membasahi jalan-jalan dan lorong-lorong yang dijulurkan oleh Bara di Bukit Menoreh 1.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.