Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 21

“Dengarkan, Ki Tunggul Pitu. Anda bicara tentang sebuah kitab dan adik seperguruanku, lalu apakah tujuan itu tidak terikat keduanya? Aku pikir Anda telah berbicara dengan niat menghamburkan udara bila semua yang Anda utarakan tidak karena kitab itu. Bukankah Anda yang mengatakan untuk berbagi dengan kami? Siapakah kami? Oh ya, tentu saja Raden Atmandaru selalu bersamamu. Lantas jika bukan perjanjian, Anda akan menggunakan kata seperti apa?”
“Ki Rangga, saya paham bahwa Anda adalah orang yang percaya diri dengan kemampuan yang ada pada diri Anda. Saya juga tahu bahwa Anda bukan rang yang sering mengatakan tidak ada orang yang lebih tinggi selain guru Anda. Saya dapat mengerti, tetapi Raden Atmandaru bukan orang yang perlu dikhawatirkan. Kitab itu tidak akan pernah dapat dilihatnya, ini janjiku! Ada perbedaan menyolok antara aku dan beliau. Anda akan mengerti.”

“Nah,” suara Agung Sedayu terdengar seolah ia dapat menguasai diri kembali, “bukankah itu yang menjadi maksudmu? Sekian lama Anda berputar-putar namun tujuan akhir adalah kitab guruku. Ki Tunggul Pitu, saya mengerti Anda bukan orang bodoh. Jadi, katakan, apakah Anda menginginkan perjanjian?”
Ki Tunggul Pitu tertawa kecil, ia bergeser maju dan jarak merekahanya terpisah dua langkah saja. “Kadang-kadang seseorang harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginannya. Walau terasa pahit, namun ia akan perbuat itu untuk tujuan tertentu. Agung Sedayu, aku tidak berniat untuk memberi janji padamu mengenai apa saja. Yang dapat aku berikan padamu hanyalah kitab itu tidak akan diketahui oleh Raden Atmandaru, itu saja.”

“Aku tidak melihat kitab itu ada padamu, Ki Sanak.” Agung Sedayu mencoba membalikkan keadaan dengan bekal ketenangan yang telah utuh menguasainya. “Itu sama saja. Itu tidak berbeda dengan arti perjanjian sendiri. Namun, baiklah, Anda berkata bahwa Anda akan menungguku dan saat ini saya sedang menunggu Anda.”

“Engkau payah, Ki Rangga. Caramu berpikir sungguh-sungguh di luar jangkauanku. Engkau terlihat kesulitan mencerna kata demi kata yang terucap dariku,” Ki Tunggul Pitu berkata sambil menghadapkan tubuh ke samping. Kini, ia tidak lagi menghadap Agung Sedayu. “Aku tidak mengira jika orang yang berbicara denganku, ternyata, memiliki rasa takut. Ia takut kehilangan kitab dan adiknya. Ketakutan yang tidak mempunyai alasan yang dapat dibenarkan. Tidak ada kebijaksanaan pada orang itu.” Seolah Ki Tunggul Pitu mengarahkan ucapannya pada dirinya sendiri. Seolah ia tidak menganggap Agung Sedayu berada di tempat itu. “Ia dikenal orang sebagai orang yang menguasai kanuragan sangat tinggi dan kedewasan jiwa yang mengagumkan, Tetapi, apa yang aku lihat darinya sekarang? Hanya jiwa kerdil yang sulit melepaskan diri dari belenggu pribadi.”

Ki Tunggul Pitu menatap wajah Agung Sedayu lekat-lekat. “Ki Sanak. Anda tidak menjawab pilihan yang telah aku sodorkan tadi. Tentu sulit bagi Anda untuk menentukan itu.”
“Anda dapat berkata tentangku dengan bebas. Anda boleh merendahkan harga diri dan martabat seorang senapati Mataram. Aku dapat menerima dengan keluasan yang tidak dapat Anda bayangkan. Tetapi saya dapat menyadari dan menerima semua kebenaran yang terucap dari seluruh ucapan Anda.”
“Bahwa engkau orang dungu?”
Keduanya tertawa kecil. Terasa memuakkan tetapi Agung Sedayu harus menerima ejekan itu. “Bisa jadi, bisa jadi aku tepat seperti yang kau katakan.”
“Engkau tidak harus setuju denganku, pengawal Menoreh.”
“Bukan persoalan setuju atau tidak, tetapi pilihan yang Anda ungkapkan pada saya, tentu saja, itu satu kesulitan yang membutuhkan waktu untuk merenung dan berpikir. Aku harus menimbang segala kemungkinan yang dapat terjadi. Meski demikian, ada satu atau dua hal yang belum atau memang sengaja Anda sembunyikan dariku.”
“Oh, begitukah?”
“Entahlah. Maaf, Ki Sanak. Segala sesuatu yang telah terjadi adalah selamanya. Bahwa kita pernah berbuat ini dan itu, semuanya telah abadi walau dalam kenangan atau bayangan. Namun kenyataannya adalah kita tidak terlepas dari itu. Termasuk jika aku menawarkan keuntungan bagi Anda.”
“Keuntungan? Benarkah kau katakan itu?”
“Keuntungan. Bukankah kehidupan pun selalu terikat dan terkait dengan untung rugi? Itulah yang menjadi dasar Anda ketika merencanakan akan membicarakan dua hal itu di tempat ini, bersama saya.”

Related posts

Membidik 27

kibanjarasman

Membidik 26

kibanjarasman

Membidik 25

kibanjarasman

Membidik 24

kibanjarasman

Leave a Comment