Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 30

“Cukup!” Gelegar suara Ki Garu Wesi memukul tulang dada peronda.

Meski terkejut, bahkan langkah Sabungsari sempat terhenti, ia menduga bahwa lawannya akan mengeluarkan tandang lebih garang. Aba-aba keluar dari mulutnya menyusul perkembangan musuhnya yang merangsek setiap kelompok yang berputar mengelilingi mereka.

“Kami tidak  dapat membiarkanmu pergi, Ki Sanak,” suara Sabungsari lantang menantang Ki Garu Wesi. Pasukan Mataram berloncatan, menyusun ulang barisan yang porak poranda karena hentak kekuatan Ki Garu Wesi. Mereka membuat dua lapis lingkaran dan bergantian menyerang Ki Garu Wesi,

“Semoga kalian menjumpai kematian di tempat ini,” garang Ki Garu Wesi mengeluarkan kata-kata. “Tidak akan ada orang yang merawat jasad kalian tetapi daging yang membusuk akan menjadi penanda abadi. Kalian, para pahlawan Mataram.” Kalimat yang diucapkan Ki Garu Wesi memengaruhi jiwani peronda. Mereka dapat segera membayangkan kengerian. Di mata mereka, wajah Ki Garu Wesi tak ubahnya seperti pemangsa yang berlepotan darah!

Sabungsari tidak menanggapinya, tetapi ia menyerang musuhnya dengan gebrakan lebih dahsyat. Sebuah serangan yang tidak diperkirakan sebelumnya oleh Ki Garu Wesi! Banyak rasa manis dan asam pertempuran yang telah ditelan Ki Garu Wesi, meski tersentak, ia masih dapat mengendalikan diri. Kedau tangannya kini bergerak lebih cepat, bukan lagi tampak seperti seribu bayangan namun seolah menghilang di bawah kelam. Kibas tangannya meninggalkan suara menderu-deru!

Sabungsari yang dihadapinya sekarang, bukanlah Sabungsari yang pertama kali bertemu dengan Agung Sedayu. Kematangan dalam banyak perkelahian dan pertempuran, serta latihan keras telah mengubah putra Ki Gede Telengan ini menjadi seorang lelaki yang mumpuni. Ia kini bertarung dengan ketenangan yang nyaris mendekati Agung Sedayu. Ia berkelahi dengan ketajaman mata seperti Kiai Gringsing. Maka yang dirasakan oleh Ki Garu Wesi adalah heran!

“Bagaimana ia dapat berubah dalam semalam?” pikir sekutu Ki Tunggul Pitu, “seolah bukan lurah prajurit bodoh yang aku temui di sungai tempo hari lalu.”

Yang terjadi di dalam diri Sabungsari adalah pilihan yang tidak ada lagi selain bertarung hingga napas terakhir. Meskipun ia berikir bahwa harus ada laporan untuk Agung Sedayu atau Untara, Sabungsar lebih melihat kenyataan. Ia mengetahui kehadiran orang lain yang berada agak jauh dari mereka, dan meyakininya sebagai teman Ki Garu Wesi. “Bila seorang telah membuat kami luka parah dan sekarat, bukan seorang lagi akan mudah menghabisi kami semuanya?”

“Yang paling penting adalah bukan berharap pada kemenangan, tetapi tentang gelar yang sesuai dengan petunjuk Ki Untara dan Ki Rangga!” Tekad semakin membaja dan ketenangan deras mengalir di jalur-jalur darah Sabungsari.

Sementara lapisan pengepung terus berloncatan depan-belakang bergantian mengambil kedudukan sebagai penyerang, Sabungsari menggandakan kekuatannya hingga mendekati lapis puncak tenaga cadangannya.

Daun-daun mulai bergoyang, ranting dan dahan mulai bergetar, Ki Garu Wesi menatap Sabungsari dengan takjub. Sorot matanya bercahaya. Katanya, “Selalu ada kejutan dari Mataram. Yang aku sayangkan hanya satu perkara, Ki Lurah. Hanya satu.”

“Bicaralah sesukamu,” sahut Sabungsari yang dahsyat mengalirkan gebrakan demi gebrakan.

“Tentu Panembahan Hanykrawati akan senang bila engkau bergabung dengan kami.”

“Sudah pasti dirindukan beliau ketika seseorang meletakkan kepalamu di bawah meja Ki Tumenggung Untara.” Sengit Sabungsari kali ini memberi tanggapan.

Ki Garu Wesi semakin gembira mendengar ucapan Sabungsari. Langit yang suram seperti memberi kebahagiaan tersendiri baginya. Keriangan membungkus seluruh hatinya ketika ia menyerang Sabungsari dengan kedua lengan mengembang. Angin tenaga cadangan keluar dari dua telapak tangannya lalu mendorong mundur para peronda. Orang-orang Jati Anom terhenti. Mereka terpukul keras seolah selembar besi tebal menghantam dada mereka! Mereka terpental, Sarja jatuh lalu bergulingan dengan napas berhembus satu demi satu dari rongga dadanya. Dalam waktu itu, Sabungsari tergilir kejutan yang tidak menyenangkan!

“Mungkinkah keluar tenaga dari kedua tempurung orang itu?” Benak Sabungsari terlanda banjir kejutan yang mematikan! Ia harus mengelak. Maka Sabungsari melempar tubuh ke samping dan berguling sangat cepat, mendekati Sarja yang tergeletak seperti orang mati.

“Siluman atau sejenis dedemitkah dia itu?” Sabungsari meloncat lalu merendahkan tubuh di samping Sarja.

 

Related posts

Leave a Comment