Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 31

Para peronda yang tumbang dan Sarja yang terlentang menjadi batas kemampuan mereka. Bahwa lawan mereka, Ki Garu Wesi, benar-benar berada di luar jangkauan kepandaian mereka, gelar perang mereka dan segalanya. Setidaknya ada keadaan yang membuncah dalam dada mereka. Kepatuhan pada arahan pemimpin mereka. Mungkin itu tidak memiliki arti dalam pandangan lawan, tetapi apabila mereka bertarung dengan lawan yang berada di bawah kemampuan Ki Garu Wesi maka kedudukan seimbang dapat digapai.

Menimbang kenyataan itu dan dorongan angin yang disangka keluar dari dua lutut musuhnya, Sabungsari bertekad untuk berjuang mati-matian. Perkembangan perkelahian telah dapat diduga oleh Sabungsari bahwa kekalahan adalah kepastian, tetapi Sabungsari adalah Sabungsari yang tidak mengenal kata menyerah.

Meski terkejut tiada kepalang, Sabungsari harus melenting dan menjauh dari Sarja agar gembala itu tidak mendapatkan pukulan jarak jauh kedua kali. Namun Ki Garu Wesi bukan seorang pengampun yang baik. Ia adalah pemangsa terbaik yang dimiliki oleh Raden Atmandaru, oleh karena itu, ia terus menerus menyambar Sabungsari yang bergerak lincah menghindari serangan. Untuk sementara waktu Sabungsari dapat bertahan dengan loncatan panjang, tetapi sampai kapan? Pada waktu itu Sabungsari belum berhenti berpikir, dan ia masih mengamati tata gerak yang dicurigainya telah mengeluarkan tenaga inti dari dua tempurung kaki musuhnya.

Hingga kemudian.

Sabungsari dapat melihat bayangan yang bergerak lebih cepat dari Ki Garu Wesi. Bayangan yang berada di belakang lawannya. Bayangan yang selalu muncul pada saat musuhnya menekuk kedua kaki dan melesat deras sambil mengembangkan lengan seperti rajawali mengembangkan sayap.

“Curang!”

“Engkau terlalu bodoh, Ki Lurah!” Gelak tawa Ki Garu Wesi menjadi pembuka serangan yang tak kalah dahsyat.

Yang terjadi adalah Ki Hariman tiba-tiba melepaskan pukulan jarak jauh setiap kali Ki Garu Wesi melayang. Cerdik ketika membidik! Ki Hariman begitu tepat menempatkan diri lalu melepaskan tenaga inti yang keluar dari telapak tangannya, lalu menyisir sisi luar tubuh Ki Garu Wesi sebelum mencapai tempat Sabungsari. Setelah melepaskan pukulan jarak jauh, Ki Hariman cepat menghilangkan dirinya di balik kegelapan dan selalu menyesuaikan serangannya dengan kedudukan Sabungsari. Dengan begitu, yang terjadi kemudian adalah seolah-olah tempurung kaki Ki Garu Wesi mampu menghentakkan tenaga cadangan.

Perkelahian tidak lagi  sengit dan seimbang.

Sekalipun Sabungsari mampu mendekati lalu berkelahi dalam jarak dekat, tetapi pukulan-pukulan jarak jauh Ki Hariman benar-benar menyulitkannya. Pukulan dan kelebat tangan Sabungsari sebenarnya merepotkan Ki Garu Wesi. Lambaran tenaga inti menimbulkan suara berdesing meski hanya bertangan kosong, Sabungsari sanggup melakukan itu!

Walau pun Ki Garu Wesi masih belum dapat digapai oleh musuhnya, ia tidak lagi merasa gembira seperti sebelumnya. Sedikit banyak campur tangan Ki Hariman telah membuatnya kesal. “Aku dapat memenangkan perang ini tetapi ia benar-benar menjengkelkan!” Kegeraman Ki Garu Wesi ditujukan pada sekutunya yang memasuki gelanggang tanpa permisi. Dan ia benar-benar marah.

Keguncangan perasaan Ki Garu Wesi dapat diketahui oleh Sabungsari dan ia secara sungguh-sungguh memanfaatkan keadaan itu. Sabungsari meningkatkan serangan melalui pandang matanya. Meski tubuh lawannya terus bergerak dan ia pun belum berhenti berkisar, Sabungsari telah mendapatkan arahan dari Agung Sedayu tentang pengerahan ilmu itu dalam keadaan yang tidak menetap. Dengan demikian serangan tak berwujud itu mampu mengoyak pertahanan Ki Garu Wesi.

Ki Garu Wesi terdorong surut. Sabungsari tidak membuang kesempatan itu lewat seperti angin yang semilir mengalir di bawah dedaunan. Ia meloncat maju, memburu dengan kedua kaki yang bergantian melepaskan tendangan. Memburu dengan sepasang tangan yang tidak kalah dengan batu cadas hitam. Namun ia menghadapi dua orang yang sebetulnya lebih kuat darinya. Dua orang yang sanggup berbuat sekehendak hati. Maka, ketika melihat Sabungsari mengancam keselamatan Ki Garu Wesi, Ki Hariman mendorong tenaga inti lebih kuat.
Dua larik berjajar!
Permukaan tanah tersibak!
Menghantam Sabungsari sangat keras.
Lurah prajurit itu terpental meski tidak mengalami luka bagian dalam, Sabungsari tetap tergoncang.

Tiba-tiba dua pengikut Panembahan Tanpa Bayangan itu berhenti. Mereka melihat bayangan di bawah langit yang kelam sedang melesat menuju ke tempat mereka berkelahi.

“Engkau dalam keadaan baik?” sapa lelaki yang kedatangannya mampu menghentikan perkelahian.

Related posts

Leave a Comment