Padepokan Witasem
geger, alas krapyak, api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 6 Geger Alas Krapyak

Geger Alas Krapyak 84

Rintik hujan turun perlahan tapi langit tidak menggaungkan suara guruh yang mengguntur. Sesaat kemudian, sambil merenungi pemikiran-pemikiran Panembahan Senapati yang disesapnya dari para sesepuh Mataram, Raden Mas Rangsang pun bergeser ke tempat yang  telah ditentukan.

Malam hampir beranjak menuju tepi ketika Raden Mas Rangsang cukup lama mengamati Agung Sedayu yang telah menanggalkan penyamaran. Kemudian ia berkata tenang, “Mataram begitu tegang. Kau tahu itu.”

“Saya, Pangeran,” ucap Agung Sedayu dengan nada merendah.

Di hadapan Agung Sedayu,  Raden Mas Rangsang melanjutkan ucapannya, “Kita telah banyak mendengar serta menerima laporan petugas sandi segala yang dilakukan oleh Raden Atmandaru, tapi beberapa perwira seperti mengaburkan berita-berita yang semestinya sudah bersifat tetap.”

loading...

Murid Kiai Gringsing menatap wajah pangeran Mataram tersebut dari balik wajah yang menunduk. Walau suara Raden Mas Rangsang bergetar tetapi raut wajahnya sama sekali tidak menampakkan kegelisahan. “Begitu pula yang sedang berkembang di Kepatihan, Pangeran,” kata Agung Sedayu. “Meski sebagian telah digeser dari kedudukan, tapi suara mereka masih berbisik dan melekat pada dinding-dinding Kepatihan.”

“Ki Ramapati masih mempunyai pelantang suara di ruang-ruang penting Kraton Panembahan dan Kepatihan. Itu sudah pasti menjadi ancaman tersembunyi yang dapat menghalangi kehendak ayah yang berkeras ingin berburu di Alas Krapyak,” ucap Raden Mas Rangsang dengan nada sedih. Nada sedih putra Panembahan Hanykrawati itu terungkap tanpa alasan. Meski wilayah-wilayah bawahan Mataram ada yang berusaha melepaskan diri, tapi itu bukan latar belakang kesedihan yang sedang melanda Raden Mas Rangsang. Namun keinginan keras Panembahan Hanykrawati yang tidak didukung oleh kesehatan itulah yang membuatnya khawatir.

Melalui gerakan yang digaungkan Raden Atmandaru sebagai tatanan baru, para pendukungnya nyaris dapat menguasai hampir seluruh dusun-dusun yang tersebar di lereng Merapi hingga Merbabu. Gaung mereka pun telah memenuhi jalan panjang yang menghubungkan kotaraja dengan pesisir utara. Meski perondaan dan pengawasan para prajurit yang dibantu perangkat kademangan dapat meredam, namun gema itu tidak serta merta menghilang dari udara tanah Mataram. Sebagian orang mengibaratkan bahwa Mataram telah mencapai batas akhir musim hujan dan segera memasuki kemarau panjang.

Raden Mas Rangsang, dalam kelanjutan pembicaraannya dengan Agung Sedayu, menganggap bahwa  tanah lapang di Alas Krapyak terasa lebih sempit karena sejumlah orang yang membalikkan punggung. “Ketika kesetiaan terbeli dengan harga yang masih berada di angan-angan, itulah masa sulit yang harus dapat kita lewati pada hari ini,” desis Raden Mas Rangsang. “Kita tidak dapat berhenti dalam usaha mempertahankan Mataram, tidak pula kita diharapkan berhenti berbuat baik untuk Mataram dan segala kehidupan yang bergulir di atasnya. Sedayu, kita tidak dapat menghadang pergerakan Raden Atmandaru secara grusa grusu. Kita harus lebih sabar dan telaten dari mereka. Jika kita, aku bicara tentang diriku sendiri dan Eyang Patih Mandaraka serta sesepuh yang lain, Mataram akan mengapung dalam keadaan yang mengerikan. Mataram mungkin akan berkelojotan seperti sedang kerasukan setan gundul. Itu jelas bukan keadaan yang menjadi cita-cita para pendahulu dan juga bukan keadaan yang diinginkan oleh seluruh orang-orang yang bangga menjadi bagian Mataram. Apabila kita lepas kendali, besok pagi akan datang orang-orang asing yang pasti tega memorakporanda ketertiban lalu menjamah rasa damai yang telah bersemayam tenang.”

Beberapa bulan terakhir, kesibukan  sebagai pemimpin pasukan khusus dan penasehat keamanan Tanah Perdikan Menoreh, serta segala perkembangan Sekar Mirah banyak menyita perhatiannya. Oleh sebab itu, Agung Sedayu agak jarang mengadakan hubungan dengan orang-orang sekitar Panembahan Hanykrawati sehingga kabar rinci kesehatan pemimpin Mataram pun terlewatkan olehnya. Di tengah-tengah percakapan sungguh-sungguh itu, Agung Sedayu menyimpan pertanyaan yang dianggap cukup besar menempati ruang hatinya. Namun bibirnya terkunci rapat. Agung Sedayu nyaris tidak mempunyai daya untuk mengungkapkan ganjalan yang sangat mengusik hatinya.

Raden Mas Rangsang dapat merasakan perubahan kecil yang terjadi pada permukaan wajah senapati kesayangan Panembahan Senapati itu, maka ia mundur sejenak sambil memperhatikan arah kehendak Agung Sedayu. Agak lama ia menunggu, lalu berkata sambil menyiapkan kelonggaran waktu bila senapati itu tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang mengejutkannya, “Di permukaan, semuanya tampak baik-baik saja. Tidak ada kekacauan sebagaimana yang pernah membakar tanah Menoreh maupun Sangkal Putung. Sepertinya Raden Atmandaru benar-benar memperhatikan setiap rincian dari segala yang berlangsung di kotaraja. Aku kira satu-satunya jalan adalah mengimbanginya dalam ketenangan menunggu mangsa lengah yang kemudian berbuat bodoh.”

Lagi-lagi, ucapan Raden Mas Rangsang yang bersambut anggukan kepala Agung Sedayu. Ini bukan suasana yang cukup baik, pikir pangeran Mataram tersebut. Lantas, dengan suara tegas, ia bertanya, “Apakah kau sedang menyimpan sesuatu yang cukup mengganjal dalam hatimu, Sedayu?”

Pertanyaan Raden Mas Rangsang adalah pertanyaan yang berada di luar perkiraan Agung Sedayu. Pertanyaan yang cukup membuat hatinya berdebar-debar. “Apakah beliau tahu dan dapat mendengar suara hatiku?” tanya Agung Sedayu pada hatinya. Sepintas wajahnya menampakkan kekhawatiran sekaligus rasa gugup yang di luar kebiasaan. Agung Sedayu menghempas napas. Di dalam lorong-lorong sempit ruang pikirannya, Agung Sedayu didera gelombang bimbang yang luar biasa. Tidak mudah menyatakannya di depan orang yang akan menjadi salah satu pemimpin Mataram pada masa depan. Tidak mudah pula menjaga hati pangeran agar tidak tersinggung. Perlahan, wajah Agung Sedayu mulai  terlihat tegang.

“Agung Sedayu?” Raden Mas Rangsang tidak menampakkan tanda sedang menipis kesabaran meski suaranya terdengar sangat mendesak. “Ada sesuatu yang sedang kau pikirkan dan mungkin kau merasakannya sebagai beban berat. Apakah kau keberatan mengatakan itu di depanku saat ini? Ketahuilah, dalam keadaan seperti ini, Mataram membutuhkan orang-orang yang mempunyai kekuatan untuk bicara terus terang. Kekuatan jasmani tidaklah cukup menjadi benteng yang kuat bagi Mataram. Setiap orang, termasuk diriku dan juga segenap keturunan serta kerabat Panembahan Senapati, harus menunjukkan keberanian yang jauh dari kata sombong. Aku pikir itu juga mengikat dirimu sebagai orang dikenal sebagai kepercayaan eyang selain eyang Patih Mandaraka.”

Sorot mata Raden Mas Rangsang memperlihatkan ketegasan bahwa sebenarnya ia benar-benar mendesak Agung Sedayu agar segera menyatakan sesuatu.Setelah menimbang sejenak, Agung Sedayu sadar bahwa tidak ada lagi jalan sempit di dalam ruang pikirannya untuk menghindari pertanyaan Raden Mas Rangsang. Pangeran Mataram yang berusia jauh lebih muda itu ternyata memiliki panggraita serta nalar yang sangat tajam.  “Usianya yang lebih muda dariku ternyata tidak dapat membatasi kemampuannya membaca suasana dan pergerakan hati yang tersembunyi,” desah Agung Sedayu dalam hati.

Produk sponsor penulisan kisah silat

“Pangeran,” kata Agung Sedayu kemudian, “hari-hari berlalu tapi saya sedikit sekali mendengar kabar kesehatan Panembahan Hanykrawati. Tiba-tiba saya menerima berita bahwa beliau sudah menderita sakit sejak lama, sakit dalam waktu yang cukup lama. Tentu saya tidak ingin bertanya, apakah Panembahan berada di tangan orang yang tepat untuk pengobatan atau pemulihan yang memadai? Tidak, tentu saja tidak pantas bagi orang seperti saya bertanya seperti itu. Maka, seburuk-buruk berita yang saya terima, itu tidak menggoyahkan saya untuk tetap berprasangka baik pada segala daya yang dilakukan Panjenengan sekalian.” Senapati pasukan khusus itu kemudian menghentikan ucapan ketika merasakan dadanya berdebat-debar dan suaranya mulai bergetar.

Raden Mas Rangsang masih tegak berdiri seakan-akan berubah menjadi patung yang dapat bernapas. Raut wajahnya tampak tenang dan hela napasnya tetap mengalun lembut.

“Sejauh yang terlihat bila menghadiri pasowanan agung, saya tidak mendapati sesuatu yang dapat dicurigai atau muncul dalam dugaan bahwa Panembahan sedang menderita sakit,” kata Agung Sedayu setelah segenap kepercayaan dirinya mulai berhimpun. Sebagai murid Kiai Gringsing yang terkenal ahli sebagai dukun pengobatan, Agung Sedayu berhasil memahat pengetahuan yang pernah didengarnya dan dibacanya dari kitab peninggalan gurunya yang dicuri pengikut Raden Atmandaru. “Namun, bila saya mendapatkan perkenan untuk menghadap beliau, saya hanya dapat berharap agar diberi kelonggaran membuat kesimpulan.”

Sepasang alis Raden Mas Rangsang tampak mengerut. “Waktu semakin dekat, apakah Panembahan  bersedia memberi waktu lagi untuk sebuah pertemuan? Meski aku tidak begitu yakin, tapi… marilah berharap pada kehendak Yang Maha Agung,’ kata Raden Mas Rangsang.

Wedaran Terkait

Geger Alas Krapyak 90

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 9

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 89

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 88

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 87

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 86

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.