Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 56

“Lalu bagaimana dengan Sangkal Putung yang sepertinya tahu bahwa mereka akan diserang?” bertanya Ki Malawi. Sebenarnya jalan pikiran orang yang pernah menghadang Sayoga di tepi luar Tanah Perdikan itu mewakili kebanyakan isi benak sebagian kawan-kawannya, tetapi tidak satu pun yang berani mengatakan itu di depan Raden Atmandaru.

“Engkau masih bertanya tentang itu,” sahut Raden Atmandaru, “sementara aku telah katakan bahwa segala sesuatu berada di dalam perkiraanku. Namun, baiklah, agar semuanya menjadi benderang maka sebenarnya hanya satu orang yang mampu membuat pertahanan semacam itu. Ki Juru Martani.”

Tidak terlintas dalam pikiran mereka bahwa siasat Ki Patih Mandraka ternyata lebih dahulu menghadang di Sangkal Putung.

“Bila perkiraan Raden itu benar, maka saya dapat membayangkan kesulitan yang bakal muncul di daerah itu,” kata Ki Sarjuma. “Raden akan memperoleh kemenangan, saya mempunyai keyakinan itu dan tak terbantahkan.”

Raden Atmandaru mengembangkan senyum, tetapi di mata sebagian orang, itu adalah buaian paling mengerikan selama mereka mengenal orang yang mengaku keturunan Panembahan Senopati. “Anggaplah memang pengaturan benteng itu benar dari Ki Juru Martani, lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Saya hanyalah seorang pengikut Raden dan tidak mengerti tentang gelar perang atau pemerintahan. Yang saya tahu dalam perjalanan ini adalah Raden telah merancang dengan teliti setiap bagian dan saya mendukung itu semua demi kejayaan Mataram,” Ki Sarjuma memberi jawaban dengan lantang.

“Tetapi yang akan melawan kita di Sangkal Putung bukanlah Ki Juru Martani, tetapi Agung Sedayu!”

Orang-orang terhenyak. Sebelumnya mereka memang tidak mengira bahwa nama Agung Sedayu akan disebut oleh Raden Atmandaru. Mereka telah membuat kebakaran besar di Jati Anom dan tidak ada yang mengetahui kehadiran senapati pasukan khusus Mataram berada di sana, kecuali Ki Garu Wesi dan Ki Hariman. Sementara kedatangan Ki Tunggul Pitu yang mendatangi Raden Atmandaru untuk memberikan laporan pun tidak diketahui orang-orang. Seperti itulah keadaan sepengetahuan mereka.

“Bukankah Ki Tunggul Pitu tidak pernah lagi menemui Raden semenjak perkelahian di batang sungai Jati Anom? Raden, saya belum mendapati Ki Tunggul Pitu berada di perkemahan sejak malam itu,” kata Ki Sarjuma yang diam-diam semakin kagum pada Raden Atmandaru.

“Tidak. Tidak seperti itu. Ki Tunggul Pitu dengan ketinggian ilmunya telah melampaui segala penjagaan yang telah kalian lakukan.”

“Berarti Raden telah mengetahui seseorang yang Raden sebutkan di awal pertemuan ini.”

“Benar.”

Ki Sarjuma berpaling pada rekan-rekannya yang duduk mengitari Raden Atmandaru, lalu berkata, “Kalau begitu, apa lagi yang kita ragukan dari Raden Atmandaru? Bila Raden Atmandaru dapat menduga siapa yang berada di balik benteng Sangkal Putung, bukankah itu berarti jalan kita semakin dekat dengan Mataram?”

“Benar. Tidak ada keraguan lagi untuk bertempur di sisi Raden Atmandaru,” orang-orang saling berbisik dengan kata-kata yang hampir sama.

Raden Atmandaru bangkit lalu melangkah melewati pintu ruangan dan keluar dari kemah yang telah disamarkan hingga terlihat seperti semak-semak. Sejenak ia menengadah ke langit. Matahari belum begitu tinggi. Sinarnya terlihat begitu gagah berani menembus kerapatan tumbuh-tumbuhan tinggi yang mengelilingi pemukiman pengikut Raden Atmandaru. Sesekali terdengar kicau burung-burung liar bersahutan. Sesekali juga tampak sekawanan burung berpindah tempat di antara dahan-dahan besar yang membujur silang di atas pemukiman.

Benak Raden Atmandaru dipenuhi dengan bayangan Agung Sedayu. Baginya, nama Agung Sedayu bukan sesuatu yang dapat diremehkan. Meskipun Sangkal Putung tidak menjadi gudang orang-orang berkepandaian tinggi, tetapi Ki Widura dan Ki Tumenggung Untara dapat memasuki Sangkal Putung dalam waktu singkat. “Dan itu berarti harus ada perubahan besar dalam siasatku,” gumam Raden Atmandaru dalam hatinya.

Perang ini bukanlah semata-mata beradu gelar atau siasat, tetapi juga mencakup kesiapan bahan makanan. Segenap harapan akan terpusat di Sangkal Putung. Kekuatan semangat dan kecakapan bela diri akan teruji di kademangan yang sangat subur itu.

“Aku mengagumi sepak terjang Agung Sedayu dan sepertinya aku memang tidak sabar menunggunya di pertempuran,” lirih Raden Atmandaru berkata ketika Ki Sarjuma, Ki Malawi dan Ki Garu Wesi berdiri di sisi kanan kirinya.

“Jatuhkan perintah, Raden. Dan kami akan memberikan Mataram untuk Raden,” kata Ki Garu Wesi yang sepertinya mampu mengalihkan Kitab Kiai Gringsing dari pikirannya untuk sementara waktu.

Related posts

Leave a Comment