Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 10

“Aku menahan sebuah keterangan,” kata Ki Patih kemudian, “yang tidak akan dapat diterima oleh banyak orang. Tentang peristiwa yang dipastikan mencoreng Mataram.”

“Saya mendengarkan, Ki Patih.”

Betapa penting keberadaan Kiai Plered pun diungkapkan oleh Ki Patih Mandaraka. Tombak yang  mengalami peralihan secara turun temurun telah lenyap. Ki Patih menerangkan bahwa Panembahan Senapati secara khusus menempatkan Kiai Plered dalam ruangan yang terpisah walau tidak dibatasi penyekat. Lelaki sepuh yang memegang peran sangat penting di Mataram itu kemudian menerangkan secara singkat urutan kejadian hilangnya Kiai Plered.

Agung Sedayu termenung barang sesaat. Raden Atmandaru benar-benar telah memperhitungkan segala hal. Meski tidak ingin menaruh dugaan buruk bahwa Raden Atmandaru berada di belakang layar, tetapi Agung Sedayu sulit menolak desakan-desakan yang muncul dalam pikirannya. “Ki Patih,” katanya, “persiapan mereka harus kita akui sebagai hal yang luar biasa. Secara mengejutkan menyerang Tanah Perdikan, dan berturut-turut kemudian merambah daerah sekitarnya. Dalam waktu hampir bersamaan, mereka mengambil alih kekuasaan melalui Kiai Plered. Mungkin orang tidak berpikir demikian. Namun, apabila kebanyakan orang tahu bahwa Kiai Plered telah beralih tangan, maka itu adalah saat yang mengkhawatirkan.”

“Tidak perlu kau berbicara sepanjang itu, Pawagal. Dahulu kita adalah kawan dekat yang sama-sama berjuang untuk membentuk kerajaan ini. Tetapi, malam ini kita harus melupakan itu semua.” Ki Srengganan merendahkan lututnya dan diam-diam menghimpun tenaga. Melihat itu, Gajah Mada mendekati Ra Pawagal. ”Tuan, harap bergeser sejenak. Biarkan saya yang muda ini menghadapi Ki Srengganan.”

Baca : Langit Hitam Majapahit Bab 10

“Ya” ucap Ki Patih. “Kepercayaan pada Mataram, pada Panembahan Hanykrawati akan runtuh dalam semalam.”

“Pada waktu ini…” kata Agung Sedayu. “ Ki Patih, mereka telah mengerahkan kekuatan. Bila sebelumnya, mungkin, kita adalah mangsa yang tengah berada di bawah pengintaian. Namun, sekarang, Sangkal Putung atau Mataram adalah mangsa yang lemah. Keberadaan mereka begitu sulit diketahui.”

“Mereka mampu berbaur dengan orang-orang setempat.”

Sesaat lingkungan mereka menjadi sepi dan bertambah hening.

Agung Sedayu tengah membuat bayangan dalam benaknya, bahwa penyergapan atas diri Ki Patih akan dilakukan oleh lawan di luar wilayah kademangan. Bila itu terjadi, maka sulit bagi mereka untuk mendatangkan bantuan para pengawal Sangkal Putung maupun orang-orang dusun yang bermukim di batas terluar. Menurut senapati Mataram ini, mereka harus segera menyesuaikan diri dengan keadaan. Jarak yang cukup jauh dari gardu dan rumah terdekat akan menelan riuh pertarungan. Suara-suara dan bentakan-bentakan akan lenyap sebelum menjangkau pendengaran seseorang. Mereka adalah sekumpulan daging mentah yang siap disantap serigala. Buruknya keadaan itu dapat terjadi apabila mereka tidak melakukan sesuatu.

Percakapan lirih yang terjadi di antara pengiring Ki Patih Mandaraka pun menyiratkan persamaan dengan yang berada di dalam pikiran Agung Sedayu.

“Ki Rangga,” kata Ki Yudhamerti ketika mendapatkan izin Ki Patih untuk bicara sebagai wakil dari pengiring, “perbuatan mereka sudah jelas melanggar hak-hak banyak orang, termasuk wewenang Panembahan Hanykrawati. Pergerakan mereka mungkin telah membuat orang-orang menggigil setiap malam dan gemetar ketika hari telah siang.  Apakah kita hanya berdiri di sini lalu menunggu malam berlalu? Tentu tidak seperti itu yang kita tekadkan. Namun bila jalan itu, menunggu, telah diputuskan oleh Ki Patih, kami akan menunggu lantas mengubah tempat ini menjadi neraka bagi mereka.”

KI Patih Mandaraka sejenak menatap wajah bawahannya dengan perasaan bangga, lalu mengalihkan sorot matanya pada Agung Sedayu. Seolah-olah patih Mataram itu mendorong Agung Sedayu agar membuat keputusan.

Setelah mengatur napas, Agung Sedayu kemudian berkata, “Ada tiga jalur yang dapat kita tempuh. Masing-masing mempunyai perbedaan dan kelebihan jika kita membandingkan satu sama lain. Ketika mereka menuruni jalan di sisi utara, mereka akan melewai jalanan sunyi dan tidak beralas batu. Seluruh permukaan jalan adalah tanah yang dipadatkan.

“Kami menyebutnya daerah Gedangasin. Lebar jalur tak lebih dari dua ekor kuda berpapasan.

“Sementara, pada sebelah kiri kita saat ini adalah jalur Slumpring. Orang-orang Sangkal Putung memberi nama itu karena pada dua sisi memang banyak rumpun bambu. Dan satu lagi adalah jalur utama. Jalur ini akan kita lalui bila kita menyisir jalan ini hingga menemui pohon preh yang cukup besar. Ki Patih sekalian pasti mengetahui tanda itu.”

Lima orang yang mengitarinya kemudian mengangguk-angguk. Kata Ki Patih pada Agung Sedayu, “Kami percayakan padamu, Ngger.”

Baca : Gelang-Gelang, Jejak Wilayah

Kata Agung Sedayu, “Kita tidak dapat memandang mereka dengan sebelah mata. Mereka adalah orang-orang yang setia pada pemimpinnya, dan itu adalah sekilas dari kenyataan yang terbentang sejak saya bertemu mereka di Menoreh dan Jati Anom.”

“Jadi, Ki Rangga telah berkelahi dengan mereka? Sebagian, maksud saya,” potong KI Yudhamerti.

Agung Sedayu mengangguk tetapi ia tidak ingin menceritakan ulang peristiwa itu, lalu katanya, “Kita akan berpencar dan akan ada tiga kelompok yang mencari jalan menuju Mataram. Tiga jalur tadi terhubung dengan jalan setapak yang menyerupai lorong berliku. Sulit bagi saya untuk memberi gambaran tentang tanda-tanda yang dapat memudahkan kita berhubungan. Bisa saja, lawan kita pun telah menempati sudut-sudut yang tepat untuk menyerang.”

“Ki Rangga, kita tahu bahwa tidak akan ada jalan untuk kembali. Mungkin saya atau saudara kita yang lain akan terbunuh. Oleh karenanya, saya minta, Ki Rangga dapat memastikan keselamatan Ki Patih hingga tiba di Mataram. Saya telah mendengar kemampuan tempur lawan yang dikabarkan cukup dahsyat. Namun, baiklah,saya lebih baik menunggu uraian Ki Rangga secara lengkap,” kata Ki Ramapati.

Tiba-tiba, mereka berhenti bercakap. Tanpa ada perintah, enam orang itu segera berloncatan, menjauh dari jalan lalu menyamarkan diri dalam dekapan malam.

Dalam waktu sekejap, sejumlah penunggang kuda melintasi mereka. Derap kaki-kaki kuda memcah keheningan tetapi mereka seolah terbang di atas permukaan jalan. Selubung malam tak mampu menghalangi pandangan mata Agung Sedayu dan Ki Patih Mandaraka yang bersembunyi berdekatan. Kurang dari sekejap, ketika penunggang kuda telah melintasi mereka, Agung Sedayu beradu pandang dengan Ki Patih. hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Agung Sedayu menahan napas sewaktu dapat mengenali seorang penunggang kuda yang terbang di atas kepalanya. Hati mereka serempak berbisik menyebut nama yang sama, “Swandaru?”

Walau berbalut pakaian yang berbeda dengan yang biasa dikenakan semasa di Sangkal Putung, bentuk tubuh Swandaru masih tajam meninggalkan bekas dalam gurat jantung gung Sedayu.

Tiga penunggang kuda itu tidak seperti orang yang tergesa-gesa. Mereka begitu tenang meniti jalan. Keyakinan bahwa mereka akan menggenggam sesuatu yang besar benar-benar terlihat dari kedudukan mereka di atas punggung kuda. Semakin jauh dan mereka semakin membaur dengan kelam.

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

Merebut Mataram 6

kibanjarasman

Leave a Comment