Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 11

Agung Sedayu menyandarkan tubuh pada batang pohon yang melekat dengannya. Tiba-tiba ia kehilangan ketajaman nalar. Pandangan matanya masih mengarah pada arah Swandaru mencongklang kuda. Ruang pikiran Agung Sedayu yang selalu sibuk dengan lalu lalang permasalahan mendadak hening. Sunyi. Segala yang ada dalam diri senapati tanggon Mataram itu seolah terhisap oleh kekuatan raksasa yang tidak terlihat mata.

Hanya dua orang yang terkejut, sementara orang-orang Mataram yang lain tidak berada pada kedudukan yang tepat untuk mempunyai kesimpulan yang sama. Ki Patih Mandaraka segera menguasai perasaannya, walau demikian, pergerakan Swandaru memunculkan prasangka dalam pikirannya.  Kejadian yang sulit dimengerti, pikir Ki Patih. Sejak ia berada di rumah Ki Demang Sangkal Putung, Ki Patih Mandaraka memang tidak melihat Swandaru. Pertanyaan yang muncul dalam hatinya, ketika itu, tidak serta merta diungkapkan di hadapan Agung Sedayu. Ketajaman panggraita sesepuh Mataram segera mengabarkan bahwa ada kejanggalan pada malam kunjungannya di Sangkal Putung. Dan itu terjawab. Kejanggalan telah mendapat jawaban walau masih samar dalam benak Ki Patih Mandaraka. “Seharusnya Swandaru tidak meninggalkan Sangkal Putung pada saat seperti sekarang ini, bukan pula memasuki kademangan bersama orang-orang yang sepertinya bukan bebahu kademangan,” bisik Ki Patih dalam hati.

Jauh berbeda dari yang dipikirkan Ki Patih Mandaraka, Agung Sedayu bahkan tercengang! Bagaimana Swandaru dapat menjadi bugar setelah tergolek tak berdaya di sisi Kali Progo? Siapa yang membawanya pergi dari gelanggang perkelahian? Kemunculan Swandaru secara tiba-tiba benar-benar mengguncang hati Agung Sedayu.

Empat orang pengiring dari Mataram tampak mengerutkan kening sambil menebak isi pikiran dua orang yang berada di hadapan mereka. nya. Ki Yudhamerti kemudian memecahkan keheningan, katanya, “Nyuwun duka, Ki Patih. Apakah mereka bertiga adalah orang-orang yang dapat kami kenali?” Selepas ia bertanya, tubuh Ki Yudhamerti bergetar. Seolah-olah ia merasakan bahwa beberapa saat ke depan akan terjadi sesuatu yang mengguncang. Namun, Ki Yudhamerti tidak mengatakan itu di hadapan banyak orang.

Lontaran Ki Yudhamerti terasa seperti tombak yang tepat menghunjam jantung Agung Sedayu. Kemudian ia memandang wajah Ki Patih Mandaraka. “Bila benar seperti yang kita duga, Ki Patih, ini akan menempatkan kita dalam kedudukan yang sangat sulit.

Ki Patih Mandaraka tidak segera menjawab. Pandangan matanya perlahan mengedari tiap wajah yang berada di sekitarnya. Untuk sejenak waktu, ia beradu pandang dengan Agung Sedayu. Mencoba mengukur ketenangan kakak seperguruan Swandaru Geni. Sekilas Ki Patih Mandaraka menangkap getaran kuat perasaan yang berhamburan serta tanpa terkendali yang berasal dari Agung Sedayu. Ia mengenal sangat baik senapati kepercayaannya, maka Ki Patih yakin bahwa Agung Sedayu akan cepat mengendapkan perasaan. Sekali lagi ia mencoba menatap wajah Ki Tambak Wedi yang sedemikian saktinya, sehingga orang mengatakan bahwa ia mampu menangkap angin. “Aku serahkan pada Agung Sedayu untuk menjawab pertanyaan itu, dan biarkan ia yang memutuskan tindakan selanjutnya,” kata Ki Patih.

“Ki Patih sekalian,” Agung Sedayu berkata, “saya tidak memungkiri bahwa mereka adalah orang-orang yang kami kenal baik, bahkan sangat baik.”

Lima pasang mata lekat menatap wajah Agung Sdayu.

“Belum satu atau dua pekan berlalu dari kebakaran di Menoreh, Swandaru menghilang…,” ucap Agung Sedayu.

“Menghilang? Ki Rangga, bagaimana itu?” potong Ki Ramapati.

Agung Sedayu tersenyum, mengangguk lalu mengatakan singkat peristiwa di Kali Progo. “Sudah tentu menjadi berat bagi kami di Sangkal Putung tanpa kehadiran Adi Swandaru,” kata Agung Sedayu. “Malam ini sangat mengejutkan ketika menyaksikannya melintas di depan kita semua. Saya tidak dapat menebak maksudnya hanya dengan melihatnya memasuki kademangan, tetapi keadaan ini sangat genting.”

“Kami menunggu, Ki Rangga,” kata Ki Ramapati kemudian diikuti anggukkan kepala Ki Patih Mandaraka.

“Baiklah.” Agung Sedayu menarik napas panjang sebelum mengutarakan rencananya. Ia membuat tiga kelompok kecil, lalu meminta Ki Ramapati dan Ki Tunggarana kembali ke kademangan, mengikuti Swandaru serta dua pendampingnya. Sedangkan Ki Yudhamerti bersama Ki Sembada Wira akan menempuh jalur Gedangasin yang terjal dan memutar. Dalam waktu itu, Agung Sedayu memutuskan akan melewati Slumpring yang mempunyai medan lebih ringan. “Aku pikir lebih aman bagi Ki Patih. Sedikit kemungkinan mereka akan menyergap di tempat itu bila menimbang bahwa pelarian akan memilih wilayah yang sulit dijangkau peronda dan pengintai,” kata Agung Sedayu dalam hatinya.

“Ki Rangga sekalian,” kata Ki Patih Mandaraka sebelum mereka berpisah, “aku dan kalian telah menyerahkan urusan ini pada Ki Rangga Agung Sedayu. Aku minta dan aku perintahkan kalian agar tetap bersikap sebagaimana wajarnya padanya meskipun kita menemui kegagalan. Aku harap tidak ada satu orang pun dari kalian yang akan menyudutkan Agung Sedayu bila gagal. Semua peristiwa yang akan terjadi sebenarnya telah berada dalam kehendak Yang Maha Agung. Agung Sedayu, aku dan kalian akan berjuang demi yang terbaik bagi Mataram. Bila ada sesuatu yang melebihi usaha kita, itu adalah rancangan Yang Maha Sempurna.”

“Kami tidak keberatan, Ki Patih,” sahut para rangga nyaris serempak.

Api di Bukit Menoreh, Kitab Kiai Gringsing, Kiai Plered

Usai mendengar ungkapan terakhir Ki Patih Mandaraka, para pengiring Ki Patih segera berpisah dengan hati berdebar-debar. Mereka bukan takut pada kematian tetapi : apakah Ki Rangga Agung Sedayu dapat melindungi Ki Patih Mandaraka hingga tiba di Mataram? Tidak ada keraguan dalam hati mereka, tetapi kemampuan para pengingkar Mataram sangat sulit diperkirakan. Namun mereka memandang baik rencana Agung Sedayu dan percaya pada kemampuannya, serta keyakinan bahwa senapati dari pasukan khusus itu pasti bersedia menukar hidup demi keselamatan Ki Patih Mandaraka.

Maka, sejenak kemudian, Agung Sedayu bersama Ki Patih Mandaraka mengambil arah menuju Slumpring. Mereka berjalan cukup tenang dan tidak berkesan tengah diburu gerombolan serigala. Pada kesempatan demikian, Ki Patih Mandarakan mengambil peran Kiai Gringsing sebagai guru Agung Sedayu. Kata Ki Patih, “Ngger, aku dapat merasakan suasana hatimu. Walau tidak dapat tepat menggambarkannya, aku mengerti beapa berat meninggalkan bayi merah dan ibunya yang masih lemah mempertahankan diri.”

“Saya, Ki Patih,”  bibir Agung Sedayu bergetar.

“Aku tidak melihat kesalahan padamu meski orang-orang akan menyalahkanmu atas peristiwa di Menoreh dan Sangkal Putung. Engkau bertarung bersama orang-orang yang rela menyerahkan diri di bawah pimpinanmu. Dan, kita dapat melihat bahwa sejauh ini, hingga akhir mala mini, Raden Atmandaru belum dapat menguasai Sangkal Putung sepenuhnya. Ini benar-benar pekerjaan yang hebat. Agung Sedayu, bila benar sesuai dugaanku, Swandaru telah berpijak pada kubu seberang. Untuk alasan itu maka bukan tidak mungkin engkau harus menepikan Swandaru pada beberapa waktu mendatang. Tetapi, sekali lagi, itu adalah dugaan karena engkau dan aku sama-sama tidak mengetahui penyebabnya. Mungkin sekarang mempunyai alasan yang berbeda dengan masa lalu. Di masa itu, Swandaru terlena dengan mimpi menjadi mukti di Mataram melalui segala rayuan Ki Ambara dan Ki Saba Lintang. Semoga kali ini berbeda,” pungkas Ki Patih.

“Semoga kali ini berbeda,” desah Agung Sedayu mengulang ucapan terakhir orang yang berjalan di samping kanannya. Ia tidak sanggup membayangkan perang tanding menghadapi Swandaru. Semoga kejadian itu tidak pernah terulang, batin Agung Sedayu saat mengenang pertarungan beradu dada melawan Swandaru Geni. Tiba-tiba pikiran jahat muncul dan berusaha menguasainya. Bayangan wajah Pandan Wangi mengambil alih seluruh ruang pikirannya.

“Ah!” tiba-tiba Agung Sedayu mendesah.

“Ada apa, Ngger?” bertanya Ki Patih dengan wajah terpana.

“Tidak, tidak, Ki Patih. Hanya bayangan buruk, dan benar-benar buruk,” jawab Agung Sedayu meski hatinya belum mampu melepaskan perasaan yang pernah memancar di masa lalu. Ia berusaha keras menghadirkan paras Sekar Mirah dan anaknya yang baru lahir menjelang tengah malam. Perasaan Agung Sedayu terguncang, keningnya basah dengan keringat ketika udara semakin menusuk tulang.

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

Merebut Mataram 6

kibanjarasman

Leave a Comment