Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 12

Menepikan Swandaru? Apakah itu berarti menyingkirkan keberadaannya untuk selamanya? Atau hanya sekedar melumpuhkan Swandaru bila perang tiba? Ruang pikiran Agung Sedayu berubah menjadi gelap. Tiada sepercik nyala pelita yang membuatnya tetap dapat melihat jajar pohon pisang yang membatasi jalan menuju Slumpring. Agung Sedayu seolah melihat pijakan yang dapat membuatnya melambung lebih tinggi. Salah satunya adalah mewarisi Tanah Perdikan Menoreh. Bila Swandaru  tiada, ke mana Pandan Wangi akan memalingkan wajah? Satu sisi yang lain adalah menguasai Sangkal Putung tanpa harus menumpahkan darah. Sekar Mirah adalah istrinya, dan Sekar Mirah adalah adik kandung Swandaru Geni. Bukankah itu jalan yang lapang, Agung Sedayu?

“Tidak!” Kekuatan batin Agung Sedayu tiba-tiba melakukan perlawanan. “Ini bukan kesempatan atau peluang ketika Swandaru telah pergi. Ini tempat yang tepat untuk berpijak meski Swandaru terbunuh olehku. Bukankah, bila demikian, aku seperti membunuh guruku sendiri? Bukankah aku akan menghina Kiai Gringsing secara terbuka meski beliau telah tiada?” Agung Sedayu bicara tentang kehormatan. Sekuat daya ia memancang tiang-tiang perlawanan pada dinding jantungnya. Segala pertimbangan perlahan, meski masih bergoyang,  merayap pada permukaan jalan-jalan pikiran Agung Sedayu.

Api di Bukit Menoreh, Kitab Kiai Gringsing, Kiai Plered

Katakan, apa yang akan terjadi bila Swandaru terbunuh meski bukan Agung Sedayu yang mengambil nyawanya? Bukankah dengan begitu, Sangkal Putung berada dalam genggaman Agung Sedayu? Keturunan Swandaru dapat ditempatkan di dekat lingkar kekuasaan Mataram dengan pengaruh wewenang dan kedekatanmu dengan Ki Patih Mandaraka, pikiran jahat kembali meronta sangat kuat dan liat. Senyampang dengan pendapat yang mengguncang hatinya, kelopak mata Agung Sedayu tiba-tiba berisi bentangan Tanah Perdikan Menoreh. Lihat, ada alasan kuat untuk menempatkan Swandaru berada di luar gelanggang selamanya. Bila ia telah bergabung dengan pemberontak, bukankah Agung Sedayu mempunyai kuasa menghukum mati adik seperguruannya? Lalu ia — dengan kuasa yang pasti mudah diperolehnya dari Panembahan Hanykrawati – dapat memberikan hukuman tambahan : penyerahan Tanah Perdikan Menoreh pada Ki Rangga Agung Sedayu. Bukankah dengan demikian tidak ada lagi halangan yang membuat urusan berbelit?

Ki Sentot yang menyaksikan dinding api telah menghalangi pandangan mata bergegas memacu kudanya mendekati Ki Gede Pulasari. “Ki Gede, lepaskan gajah. Perintahkan mereka menerobos kepungan api,” kata Ki Sentot.

Bab 14 Pertempuran

Agung Sedayu memandang bagian belakang tubuh Ki Patih Mandaraka.  Agung Sedayu berada di sisi patih Mataram dan berjalan selangkah di belakangnya. “Andai Ki Patih mengetahui yang aku pikirkan, apakah beliau akan membiarkan aku bergelimang kesalahan atau aku harus melakukan sesuatu?” bertanya Agung Sedayu dalam hatinya.

Gerumbul pohon pisang telah terlampaui, sesaat lagi mereka akan memasuki jalan yang sedikit lebih lebar dari ukuran setapak dengan rimbun bambu yang banyak berada di dua tepinya.

Ki Patih Mandaraka meningkatkan kesiagaan, sementara Agung Sedayu semakin terlihat gelisah. Melalui ujung mata, sesepuh Mataram itu dapat menangkap gelombang rasa yang terpancar dari senapati pasukan khusus. “Apa yang sedang terjadi padamu, Ngger?”

Agung Sedayu diam untuk sesaat. Menghentikan langkah lalu memandang tepi kiri dan kanan dari jalan yang terpampang di hadapannya. Kemudian katanya, “Sebenarnya bukan sesuatu yang penting untuk dibicarakan, Ki Patih. Meski saya harus mengakui bayangan ini begitu sulit ditepis dari pikiran dan perasaan.”

“Engkau dapat mengatakan itu selagi kita mempunyai banyak waktu perjalanan,” ucap Ki Patih Mandaraka.

Jantung Agung Sedayu semakin berdebar-debar. Ia pikir, Ki Patih telah mempunyai dugaan untuk arah perkembangan selanjutnya. Bukan tidak mungkin, Ki Patih Mandaraka telah mempersiapkan jalan-jalan bercabang sebagai persiapan atas segala kemungkinan. Agung Sedayu mengenal baik orang yang tengah berdiri sambil memandang lekat padanya.  Ia menarik napas, kemudian katanya, “Mari, Ki Patih. Kita tentu tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk saat melewati jalur ini. Silahkan, Ki Patih.” Agung Sedayu mengulurkan tangan, meminta orang kedua Mataram berjalan lebih dulu.

Penghentian sesaat itu rupanya mendatangkan perubahan dalam diri Agung Sedayu. Sepasang  matanya bersiaga. Sapta Pandulu diterapkannya agar dapat memantau setitik gerak di balik rerimbu bambu. Dalam waktu itu, seketika ia jengah dengan suasana hatinya yang sempat menyimpang walau sekejap. Kesadarannya seperti telah kembali, tetapi Agung Sedayu harus dapat menjaga diri.

Tiba-tiba.

Agung Sedayu dan Ki Patih Mandaraka berhenti sebelum mencapai satu bagian jalur Slumpring.

“Jalur ini adalah jalan teraman menuju Mataram. Sebaiknya kalian berhenti agar kita dapat bicara,” seseorang berkata dari arah punggung mereka berdua. Meski demikian, belum terlihat bayangan tubuh yang mendekat!

“Kita lanjutkan, Ki Patih.” Agung Sedayu mengawali langkah lalu diikuti Ki Patih Mandaraka.

“Aku berkata dengan sungguh-sungguh, Agung Sedayu,” kata orang yang masih belum menampakkan dirinya. Sedangkan suaranya datang dari samping kanan Ki Patih Mandaraka.

“Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang berharga pada Anda, Ki Sanak,” tukas Agung Sedayu sambil tetap meminta Ki Patih Mandaraka berjalan.

“Engkau mempunyai pilihan lebih baik, Ki Rangga. Sebaiknya engkau tidak keras kepala,” suara itu semakin jelas, sepertinya pemilik suara semakin dekat dengan mereka.

“Sebaiknya Anda berkata terbuka, Ki Sanak. Saya pikir memang jika kita bicara maka jalan keluar akan terlihat. Meski begitu, saya kurang memahami Anda dan kami sedang menyelesaikan sebuah keperluan.”

“Ki Rangga, apakah kita dapat membuat perjanjian? Apakah orang di sampingmu dapat dipercaya?”

Agung Sedayu terhenyak!

Bagaimana bila orang itu sungguh-sungguh dengan ucapannya dan benar-benar tidak membual?

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

Merebut Mataram 6

kibanjarasman

Leave a Comment