Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 36

Kemampuan Agung Sedayu berpindah-pindah jalur ilmu membuktikan bahwa ia telah menguasai tiap bagian yang diajarkan oleh Ki Waskita dan Kiai Gringsing. Usaha Ki Patak Ireng membentur tebing cadas!  Aliran tenaga yang berasal dari kitab Ki Waskita membanjiri setiap bagian lengan senapati Mataram. Dengan lengan kiri, Agung Sedayu menyambut uluran tangan Ki Patak Ireng.

Benturan tenaga terdengar seperti cairan logam panas yang tersentuh air.

Tubuh Agung Sedayu kembali terpelanting, tetapi ia begitu tangkas melakukan pendaratan. “Lebih keras lagi, Ki Sanak!” seru Agung Sedayu. Sesuatu yang aneh sedang terjadi padanya. Sepintas Agung Sedayu melakukan pengamatan jauh ke dalam, lalu ia mendapati bahwa kekuatan aneh — yang menguasai sebagian besar bagian dalam tubuhnya – mampu memindahkannya selapis lebih tinggi. Pemimpin pasukan khusus itu telah mengerti batas puncak kemampuannya dalam mengungkap kekuatan cadangan, tetapi tuah Kiai Plered menimbulkan keheranan tiada henti. “Sebenarnya kaki ini tak mampu berdiri, ditambah lemparan seperti tadi, aku seharusnya terkapar. Lalu bagaimanakah ini? Aku seperti mendapatkan tenaga baru,” gumam Agung Sedayu dalam hati. Namun rasa heran itu hanya datang sekejap, tuah pusaka kembali menyergap dan menyerap segenap daya tahannya.

Tidak ada waktu lebih panjang untuk memberi perhatian pada segala keajaiban yang terjadi di dalam tubuhnya, Agung Sedayu masih harus bertempur, menyelesaikan urusan hingga waktu penghabisan!

Api di Bukit Menoreh, Kitab Kiai Gringsing, Kiai Plered

Kitab Kiai Gringsing

Cambuk murid Kiai Gringsing itu kembali meledak dengan suara seperti pertama kali menyesap ilmu Kiai Gringsing. Memekakkan dan menggetarkan dada. Dalam waktu itu, Ki Sekar Tawang melepaskan gbrakan dengan tata gerak yang belum pernah dilihat Agung Sedayu sebelumnya. Segera saja, seukuran belalang berpindah tempat, Agung Sedayu berada dalam kesulitan. Ruang geraknya kian sempit ketika Ki Sekar Tawang menggeser kaki dengan langkah-langkah yang mirip gelar perang, dan tak jarang sepasang kaki itu menyambar, menyilang dari bawah ke atas disertai tenaga cadangan yang terungkap begitu dahsyat. Ledakan cambuk Agung Sedayu mulai berkurang lalu tergantikan gaung seperti ribuan lebah setiap kali cambuknya berayun.

Dan cambuk Agung Sedayu terus berayun, melingkar, menebas datar dan menyilang. Kian cepat senjata lentur itu berputar, maka ribuan tawon seolah mengelilingi tubuh Agung Sedayu.

“Gila, ini sungguh-sungguh gila!” teriak Ki Krembung Wantah yang merasa terganggu dengan lingkaran perkelahian yang aga jauh darinya. Tidak mudah meladeni tandang Kiai Bagaswara yang bertempur begitu lugas tapi sangat sederhana. Pergerakan Kiai Bagaswara tidak secepat dua orang yang menjadi lawan Agung Sedayu, tetapi kematangannya dan kejelian mengamati perkembangan Ki Krembung Wantah adalah kelebihan yang jarang dimiliki orang.

Sedikit jauh dari dua pertarungan yang sangat hebat itu, sepasang mata sedang mengamati perkembangan dengan seksama. Sesekali ia mengusap wajahnya yang tegang. Kadang-kadang ia menghembuskan napas panjang. Di dalam ruang pikirannya berkembang sebuah pendapat, bahwa perkelahian segera berakhir tetapi belum dapat diketahui orang yang akan berdiri pada akhir pertempuran. “Senapati itu tidak mempunyai daya juang rendah. Lelaki yang mengagumkan meski usianya melewatiku begitu jauh,” desis pengintai itu dalam hati. Sinar matanya bersorot penuh arti. Lalu ia mengalihkan pandangan pada perkelahian Ki Krembung Wantah. “Akan menjadi lebih baik bila ia menggabungkan diri atau memaksa lawan agar terperangkap dalam perkelahian Ki Sekar Tawang. Namun aku tidak dapat mengatakan perkelahian telah berat sebelah. Sepertinya Ki Krembung Wantah memang belum meningkatkan kemampuannya,” katanya sekali lagi.

Memang, sebenarnyalah keadaan perkelahian Ki Krembung Wantah belum mampu menyulitkan dirinya dan Kiai Bagaswara.

arya penangsang, pangeran benawa, silat pajang, demak

Pangeran Benawa

“Sebaiknya kita hentikan pertarungan tanpa guna seperti ini,” tiba-tiba berkata Agung Sedayu setelah meloncat surut dengan kecepatan sulit dinalar. Dari jarak yang agak jauh dari garis serang dua lawannya, ketajaman nalar Agung Sedayu tengah bekerja keras. Mengingat secara teliti ruas demi ruas bagian akhir kitab Kiai Gringsing dengan kecepatan berpikir luar biasa. Sambil mengulur waktu, katanya, “Kalian membutuhkanku dalam keadaan hidup atau mati untuk melemahkan Mataram. Begitu pun denganku yang ingin kedamaian di atas bumi Mataram.”

Ki Sekar Tawang menghentikan laju serangan sambil menatap Agung Sedayu dengan sinar mata heran. Adakah setan sedang merasuki senapati itu? pikirnya.

Tidak demikian dengan Ki Patak Ireng. Ia mengubah cara berkelahi, sekarang, merangsek dengan gerakan yang terjaga kecepatannya namun kekuatannya berlipat ganda.

“Hentikan!” seru Agung Sedayu.

Namun Ki Patak Ireng adalah orang yang berbeda. Ucapan yang dilontarkan Agung Sedayu justru memanaskan hatinya. Penentangan muncul dalam pikirannya, siapakah Agung Sedayu? Atas dasar apa  memberi perintah padanya?

Lagi-lagi terdengar suara meledak.

Sebuah belati dengan panjang sejengkal tiba-tiba berada di sela jari-jari Ki Patak Ireng. Senjata kecil itu membelit ujung cambuk Agung Sedayu.

Dua orang itu saling tarik menarik!

“Kali ini, matilah engkau, Sedayu!” Ki Sekar Tawang menggeram dengan segenap tenaga cadangan yang berasal dari ilmu Sekar Lembayung.

Sedikit pilihan bagi Agung Sedayu,, melepaskan senjata lalu menghadapi Ki Sekar Tawang atau tetap pada kedudukannya sambil meladeni terjangan pamungkas musuhnya?

Detak jantung Agung Sedayu meningkat hebat. Ia bukan senapati yang takut kematian. Ia bukan pengecut dalam kehidupan. Namun kekuatan asing yang berasal dari Kiai Plered tiba-tiba lenyap! Segenap panca indra dan sumber tenaga cadangan yang berada di dalam diri Agung Sedayu seperti tersumbat. Peningkatan tajam yang dapat dianggap keajaiban tengah terjadi dalam diri senapati Mataram.

Hela napas keluar dan masuk bergantian begitu pelan.

Kurang dari sejengkal, kepal tangan Ki Sekar Tawang akan menyentuh dada Agung Sedayu.

Terdengar bentakan menggelegar dari arah perkelahian Kiai Bagaswara. Rupanya sesepuh itu sedang meluncur deras meninggalkan gelanggang perkelahiannya demi menyelamatkan nyawa Agung Sedayu!

Malam yang penuh kejadian-kejadian menakjubkan!

Udara seperti terbelah dan memberi jalan pada Kiai Bagaswara yang telah mengetrapkan ilmunya hingga puncak penguasaan. Kiai Santak menyala terang di tangannya, dan senjata itu akan memotong jalur serang Ki Sekar Tawang kurang dari sekejap.

Namun, tiba-tiba.

Udara berdentum sangat halus, dan selimut kabut sangat tebal muncul seperti kilat lalu menutup sekujur tubuh Agung Sedayu!

Agung Sedayu menghilang dari pandangan orang-orang. Dengan cara yang sangat sulit dinalar, cambuknya terlepas dari belitan senjata Ki Patak Ireng.

“Sedayu!” pekik Kiai Bagaswara ketika tubuh senapati itu tertutup rapat dengan kabut tebal. Namun ketenangan telah mapan dalam hatinya, dengan begitu, ia melabrak Ki Sekar Tawang dengan tandang yang tidak kalah hebat dari Agung Sedayu.

Sekali lagi, dan sepertinya kegeraman telah menjadi bagian yang melekat pada tiga pengikut Raden Atmandaru. Kali ini, mereka harus berjumpa dengan kenyataan lain, bahwa : terbungkusnya Agung Sedayu oleh kabut tebal adalah pertanda yang buruk.

Sangat buruk dalam pikiran mereka.

Pada jalan pikiran masing-masing, mereka dapat membayangkan ketinggian ilmu yang tertulis pada kitab Kiai Gringsing. Keinginan untuk mencari kitab peninggalan Kiai Gringsing muncul sesaat pada Ki Patak Ireng. Namun tidak bagi Ki Krembung Wantah yang bangga dengan kemampuannya. Sedangkan Ki Sekar Tawang justru melangkah ke arah yang berbeda. Ia membuat dugaan : pengaruh Kiai Plered tiba-tiba berkurang akibat pengerahan puncak ilmu yang diwariskan Kiai Gringsing pada Agung Sedayu, atau Agung Sedayu mati karena pengerahan tenaga yang berlebihan.

Namun pemikiran-pemikiran harus terputus karena Kiai Bagaswara mampu mengikat mereka dalam perkelahian yang tidak seimbang dari segi jumlah. Kemampuan pemangku padepokan itu sangat menggiriskan dengan penguasaan tata gerak serta ilmu yang nggrigisi!

Sepuluh atau lima belas gebrakan Kiai Bagaswara dengan Kiai Santak di tangan cukup mempengaruhi ketahanan jiwani tiga orang lawannya. Kengerian yang meliputi gelanggang perkelahian mulai berkurang. Pikiran lawan mulai bercabang. Berbagai pertimbangan datang dan pergi di dalam ruang pikir Ki Sekar Tawang. Dua kawannya pun mengurangi tekanan. Sepertinya mereka enggan mendekati tempat Agung Sedayu yang masih berselimut kabut. Selain merasa konyol bila mati di tangan Kiai Bagaswara, mereka juga menimbang kemungkinan yang lain. Maka mereka menjauh namun tetap melontarkan serangan balik sambil berharap keberuntungan. Mereka akan dihinggapi keberuntungan bila Kiai Bagaswara salah langkah atau ceroboh bergerak, tetapi semuanya berjalan secara semu.

Kiai Bagaswara berkelahi seperti induk ayam yang melindungi anak-anaknya dari sambaran alap-alap!

Mereka berempat bergeser semakin jauh dari Agung Sedayu. Kiai Bagaswara menyadari itu tetapi ia harus memastikan tiga lawannya harus terhalau lebih dulu.

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 70

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

Leave a Comment