Padepokan Witasem
KBA

Namaku Tobil (Katanya) 2

Pengakuan Tobil

Dia mengatakan bahwa aku benar, tetapi? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi? Aku termangu, bukan karena tidak mengerti maksudnya dengan kata “benar”, tetapi karena aku terlihat bodoh didepannya. Benar, aku melihat Tobil berada di sisi luar jangkauan nalarku.

Baiklah, aku duduk di luar. Lebih baik begitu, aku pikir dengan berada di sisi rembulan yang tak lagi berwarna kuning keemasan, maka segala kebodohan akan menjadi lebih gelap.
Baiklah, baik. Memang lebih baik duduk dan diam.

“Kamu benar karena diam. Aku pikir, dengan diam, maka segala yang memenuhi jalan pikiran akan mempunyai rambu.

“Sekarang, dengarkan, aku akan katakan sebab atau alasan mereka menuduhku bersekutu dengan setan.
Suatu ketika, mereka berkata tentang yang diakui sebagai sesuatu yang mutlak. Bukan, bukan, sesuatu tidak dapat ditempatkan untuk sifat yang tinggi dan sempurna. Sesuatu adalah kebendaan yang mempunyai kekurangan. Sementara mutlak adalah kesempurnaan.

“Kamu mengerti?”

Ah, menjadi patung adalah pilihanku saat ini. Ingin menjawabnya namun aku sedang enggan berbantahan dengan Tobil.

“Ya, engkau pasti mengetahui makna dari sesuatu. Tapi kita tidak bicarakan tentang sesuatu.
Lalu, saat itu, aku katakan pada mereka, ‘Omong kosong! Bagi kalian sebenarnya yang diakui sebagai kemutlakan adalah setiap yang kalian suka dan gemari. Kalian akan menjauhi segala yang menjadikan hati sakit sedangkan kemutlakan selalu memiliki alasan yang tidak terbantahkan.’

“Dan aku segera mendapat penolakan dari mereka. Mereka menganggap segala sesuatu yang mutlak adalah milik Tuhan. Namun mereka menolak, bahkan sering mengingkari kebenaran yang secara nyata dan benderang telah berjubah utuh sebagai perpanjangan yang mutlak.”

Dia tertawa lebih keras dari yang pertama sejak perjumpaan ini.

Dia berdendang senada derik dari seekor ular padang pasir. Dia bersenandung dengan nada nyanyian para nelayan. Dia bergumam dalam kidung pepohonan tua yang condong ke permukaan tanah. Dia tidak mengulang ucapan, karena setiap kalimat yang bergetar melalui bibirnya adalah penjabaran syair yang digoreskannya di atas tanah.

Related posts

Leave a Comment