Padepokan Witasem
senja langit mataram, cerita silat jawa
Bab 1 Senja Langit Mataram

Senja Langit Mataram 25

Dalam pada itu pada lingkar pertarungan dua orang pengikut Panembahan Pulangsara melawan dua orang senapati pilih tanding dari Mataram itu juga tidak kalah sengit pula, meskipun terlihat  Ki Lawe juga Ki Brantas cukup mengalami kesulitan melawan dua orang tumenggung pilih tanding tersebut.

Terlebih Ki Lawe yang kini terlihat begitu kepayahan menahan tekanan demi tekanan yang dilakukan Tumenggung Alap-Alap yang terlihat bagaikan elang yang memburui mangsanya.  Sepertinya tak ada lagi ruang bagi Ki Lawe untuk menutupi celah pertahanan dirinya oleh gempuran yang dilakukan Tumemggung Alap-Alap. Apa yang bisa dilakukan pengikut Panembahan Pulangsara itu hanyalah melakukan gerakan bertahan mundur dan mundur hingga tepian panggung.

Namun demikian sepertinya Ki Lawe juga tidak ingin menyerah begitu saja, orang itu mencoba meningkatkan ilmunya dengan mengubah  gerakannya dan berharap mampu membuat tekanan Tumenggung Alap-Alap menjadi sedikit renggang. Satu jeda waktu tidak disia-siakan oleh Ki Lawe untuk melakukan serangan balik, dan satu tiang pancang bambu di tepian panggung itu pun digunakannya sebagai sarana untuk melepaskan diri dari tekanan ganas yang dilakukan Tumenggung Alap-Alap tersebut.

Tumenggung Alap-Alap pun menjadi sedikit terkejut ketika melihat putaran kaki Ki Lawe itu justru bergerak tidak mengarah kepadanya, akan tetapi menggapai pancang bambu tersebut hingga patah, kemudian kembali menyambutnya dengan sebuah tendangan keras sehingga pancang bambu itu meluncur deras dan berputar ke arah dirinya. Mau tidak mau Tumenggung Alap-Alap itu harus melakukan gerakan menghindar, tapi jeda waktu tidak dimilikinya, sehingga apa yang dapat dilakukan hanyalah  menepis patahan pancang bambu itu dengan putaran kakinya pula hingga pancang bambu itu pun menjadi patah berkeping-keping.

Melihat satu celah itu,  dengan kekuatan penuh Ki Lawe mecoba untuk melakukan serangan langsung dengan sapuan-sapuan kedua kakinya. Tumenggung Alap-Alap sedikit terkesiap melihat gerak susulan yang tiba-tiba itu. Namun dengan kemampuannya Tumenggung Alap-Alap ternyata tidak menjadi kesulitan karenanya. Senapati Mataram itu memutar tubuhnya dan melenting mundur untuk mengambil jarak. Namun demikian ternyata Ki Lawe pun tidak memberinya kesempatan dan terus mencecar lawannya begitu rapat dengan tendangan-tendangan kakinya secara berantai. Dan bagi Tumenggung Alap-Alap hal itu ternyata tidak membuatnya menjadi sulit untuk menemukan satu cara melepaskan diri dari tekanan tiba-tiba tersebut. Dalam benaknya hanya dengan satu cara, yaitu melakukan benturan melaui kakinya pula untuk menahan tendangan berantai yang cukup ganas itu.

Dan apa yang terjadi kemudian cukup membuat orang-orang yang melihatnya menahan napasnya. Benturan itu telah membuat Tumenggung Alap-Alap terdorong beberapa langkah ke belakang, tubuhnya terlihat gontai meskipun masih mampu mempertahankan keseimbangan tubuhnya hingga masih mampu berdiri di kedua kakinya.

Namun apa yang terjadi dengan Ki Lawe itulah yang membuat orang-orang harus menahan napasnya. Pengikut Panembahan Pulangsara itu terlihat terpetal dengan keras hingga tubuhnya keluar dari panggung gelanggang. Orang-orang pun tanpa sadar menyibak sehingga Ki Lawe jatuh tersungkur di atas tanah dalam keadaan yang cukup payah. Sekuat tenaga dia mencoba untuk bangkit akan tetapi hanya mampu berdiri di kedua lututnya.

Tidak menyia-nyiakan waktu Tumenggung Alap-Alap memburunya. Lalu dengan beberapa sentuhan jari-jarinya telah menekan beberapa bagian tubuh Ki Lawe hingga menjadi tidak berkutik.

“Prajurit! Ikat dia!” perintah Tumenggung Alap-Alap kepada beberapa prajurit yang berada tidak jauh darinya.

Ternyata apa yang terjadi dengan Ki Lawe tidak lepas daripada perhatian Panembahan Pulangsara pula. Di sela-sela pertarungannya menghadapi Pangeran Purbaya orang tua itu mengumpat-umpat dalam hatinya, dan membuatnya menjadi semakin marah.

“Demit thekthekan! Kalian orang-orang Mataram telah berani melukai orangku. Aku bersumpah akan membantai kalian satu persatu!” dengus Panembahan Pilangsara.

“Jangan kau mengigau, Ki Sanak,” tukas Pangeran Purbaya,  “kau tidak punya pilihan lain kecuali menyerah. Sadarilah dengan kedudukanmu saat ini. Dan ingat, seberapa tinggi ilmu yang kau miliki kau tentu tidak akan mampu melawan ribuan pasukan Mataram yang pasti akan segera tiba.”

“Licik! Apakah kau tidak berani melanjutkan pertarungan ini hingga ingin membenturkan aku dengan pasukanmu?”

“Tentu saja, dan dengan senang hati aku akan melayanimu Ki Sanak. Akan tetapi aku hanya mengingatkan, sekalipun kau mampu mengalahkan aku, kau tentu tidak akan mampu lolos dari Mataram ini,” tukas Pangeran Purbaya.

Panembahan Pulangsara tertawa lantang, lalu katanya,  “Kau mencoba mempengaruhi nyaliku, Pangeran. Aku tahu aku tidak akan mampu untuk melawan ribuan pasukanmu, akan tetapi meskipun aku harus binasa, aku jamin separuh pasukanmu menemani kebinasaanku.”

“Hmm, ternyata kau keras kepala Ki Sanak,” kata Pangeran Purbaya seraya menarik napasnya,  “baiklah jika itu kemauanmu majulah, kita lanjutkan pertarungan ini. Aku akan meladenimu meskipun Aji Braja Geni begitu nggegirisi”.

“Sombong! Kini bersiaplah untuk mampus! Aku sudah muak dengan bermain lompat-lompatan yang tidak berarti itu. Aku ingin tahu apakah kau mampu menaham Aji Braja Geni pada tingkatan yang tertinggi.”

“Kau sudah kehilangan akal, Ki Sanak,” kata Pangeran Purbaya,  “apakah kau tidak melihat kedua pengikutmu itu kini sudah tidak berdaya?”

“Bagiku mereka tidak ada artinya sama sekali. Oleh karena itu tidak perlu Pangeran mencoba menggoyahkan tekadku dalam melakukan kehendak hatiku. Ada baiknya Pangeran bersiap diri. Karena aku tidak ingin melihat lawanku binasa tanpa perlawanan sama sekali!” geram Panembahan Pulangsara.

Orang tua itu pun terlihat semakin tajam memusatkan nalar dan budinya, hingga terlihat jelas bahwa dirinya memang  tidak sedang bermain-main.

Di sisi lain Pangeran Purbaya terlihat menarik napasnya panjang-panjang. Dalam benaknya kini sudah tidak menemukan cara lagi kecuali menghadapi segala kemungkinan yang harus dihadapinya. Apa yang ada dalam benak Pangeran Purbaya sebenarnya ingin menangkap orang itu hidup-hidup. Oleh karena apa yang sebenarnya menjadi tujuan orang itu mengacau di kotaraja dapat diketahui. Namun hal itu tampaknya semakin sulit. Pangeran Purbaya tentu tidak ingin bermain-main dalam menghadapi Aji Bajra Geni dari Panembahan Pulangsara tersebut. Karena itu putra mendiang Panembahan Senapati itu pun segera memusatkan nalar budinya pula.

Akan tetapi tampaknya Pangeran Purbaya tidak ingin menghadapi Panembahan Pulangsara dengan ilmu yang sama-sama bersifat menghancurkan. Oleh karena itu dirinya memcoba untuk bertahan saja dengan ilmunya.

“Apa boleh buat mudah-mudahan dengan Aji Lembu Sekilan aku mampu menahan keganasan ilmu orang tua itu,” desis Pangeran Purbaya.

Namun di sisi lain mendekati saat-saat akhir pengungkapan ilmunya, ada sesuatu yang berkecamuk dalam benak Panembahan Pulangsara. Dalam hati kecilnya sesungguhnya mengakui bahwa apa yang dikatakan Pangeran Purbaya itu benar adanya. Karena andai dirinya mampu mengalahkan sang pangeran tentu tidaklah mudah untuk menghindar dari sergapan pasukan Mataram yang tentu tidak akan tinggal diam. Apalagi Panembahan Pulangsara tahu pasti bahwa sekalipun mampu membinasakan Pangeran Purbaya tentu akan dibayarnya dengan luka dalam yang teramat berat,  maka mustahil baginya untuk dapat lolos dari jurang maut pula.

Maka oleh karena berbagai perhitungan itu kini dalam benak Panembahan Pulangsara lebih memikirkan cara bagaimana mampu keluar dari tempat itu dengan selamat. Apalagi dirinya merasakan bahwa perjuangan yang akan di lakukannya tidak boleh berhenti begitu saja sampai di situ. Baginya Mataram harus hilang, dan kekuasaan tanah Jawa harus kembali berada dalam genggaman sisa-sisa trah  Majapahit di masa lampau.

Akan tetapi Panembahan Pulangsara menjadi berdebar-debar ketika melihat kedua orang pengikutnya itu sudah tidak berdaya lagi dalam penguasaan prajurit Mataram. Baginya belum saatnya orang-orang Mataram itu tahu apa yang sesungguhnya menjadi alasan bagi kelompoknya membuat ontran-ontran langsung ke jantung kotaraja Mataram tersebut. Sehingga amatlah berbahaya jika kedua pengikutnya itu sampai dipaksa membuka suara. Maka demi tujuan yang lebih besar dalam benak Panembahan Pulangsara itu, kedua pengikutnya itu lebih baik mati.

Oleh karena pertimbangan-pertimbangan itu Panembahan Pulangsara berkeinginan mengubah rencananya. Sehingga ketika dirinya sudah dalam kesiapan puncak dalam melontarkan ilmunya yang nggegirisi itu. Dengan diawali satu teriakan panjang kedua tangannya bergerak menjulur ke depan namun condong menyasar kebawah sehingga tidak tepat menuju arah Pangeran Purbaya berdiri dalam kesiapannya. Satu dentuman bergemuruh disertai kepulan asap tebal dengan hawa panas luar biasa itu telah melabrak permukaan lantai panggung di antara mereka berhadapan, sehingga lantai itu pun jebol berderak menjadi berkeping-keping.

Melihat hal itu Pangeran Purbaya melakukan gerakan mundur beberapa langkah. Dia pun sempat mengerutkan wajahnya melihat apa yang dilakukan Panembahan Pulangsara itu tidak seperti apa yang dibayangkannya.

“Aneh! Kenapa dia tidak menyerang langsung ke arahku?” desis Pangeran Purbaya.

Apalagi kini Pangeran Purbaya tidak lagi  melihat sosok tubuh Panembahan Pulangsara oleh karena tempat itu kini telah tertutup kepulan asap putih pekat mengiringi benturan yang terjadi. Sampai selang beberapa saat telinga Pangeran Purbaya mendengar suara tertawa yang demikian lantang membahana di setiap penjuru arah. Suara tertawa itu tidak lain Panembahan Pulangsara yang kini entah di mana sosoknya tidak lagi terlihat di sekitar tempat itu. Namun suaranya jelas menggaung bagaikan memantul-mantul pada dinding tebing.

“Pangeran! mungkin belum saatnya kau binasa di tanganku, ada urusan yang lebih penting sehingga aku harus  menunda kematiamu hari ini. Kini cukup bagiku untuk melihat bahwa Mataram hanyalah omong kosong belaka… hahaha…Hanya aku seorang pun kalian tidak mampu menghentikannya hingga dengan mudah aku bisa datang dan pergi sekehendakku.”

Suara itu pun kemudian lenyap. Suasana menjadi sedikit hening. Di sisi lain Pangeran Purbaya terlihat menarik napasnya panjang-panjang. Lalu mengangguk-anggukkan kepala seperti ada sesuatu yag dipikirkannya,  sampai pada saatnya Pangeran Purbaya tersentak melihat Tumenggung Alap-Alap kini sudah berada di hadapannya.  “Ampun Pangeran,  kedua pengikut orang tua itu mati.”

“Bagaimana bisa?  Kenapa kalian membunuhnya?” jawab Pangeran Purbaya sedikit tegang.

“Kami tidak membunuhnya, Pangeran,  hanya saja ini keteledoran kami,  yang tidak menyangka ketika  dua leret cahaya keputih putihan yang tidak lain dua buah pisau kecil itu meluncur dan mengarah pada keduanya ketika terjadi hiruk pikuk itu,” desis Tumenggung Alap-Alap.  “Hamba siap menerima hukuman.”

Pangeran Purbaya menarik napasnya kemudian berkata,  “Sudahlah, aku tidak menyalahkan kalian. Kini kau benahi segala sesuatunya akibat kekacauan ini. Kita tunda acara pendadaran ini sampai besok” Pangeran Purbaya kemudian beranjak pergi.

“Sendika dawuh, Pangeran,  akan tetapi jika hamba boleh tahu Pangeran hendak ke mana?”

“Kau urusi semua yang ada di sini Tumenggung,  aku akan menghadap Ananda Panembahan Hanyakrakusuma.”

“Sendika dawuh,” desis Tumenggung Alap-alap.

Related posts

Senja Langit Mataram 9

Ki Ras Haris Ph

Senja Langit Mataram 8

Ki Ras Haris Ph

Senja Langit Mataram 7

Ki Ras Haris Ph

Senja Langit Mataram 6

kibanjarasman

Leave a Comment