Padepokan Witasem
senja langit mataram, cerita silat jawa
Bab 1 Senja Langit Mataram

Senja Langit Mataram 26

Apa yang terjadi ternyata Panembahan Pulangsara terlihat berlari menuju ke arah utara. Dengan kecepatan gerak  yang cukup tinggi tampaknya orang tua itu berhasrat untuk segera keluar dari wilayah Mataram, sehingga dalam waktu yang tidak begitu lama Panembahan Pulangsara telah menyeberangi Kali Opak. Hingga  setelah segala sesuatunya dirasa sudah cukup aman orang tua itu mengendorkan langkah kakinya, lalu berjalan menyusuri jalan yang terhampar melintasi beberapa bulak yang tidak terlalu panjang.

“Sepertinya aku sudah memasuki Prambanan,” desis Panembahan Pulangsara.  “Hari akan menuju senja, lebih baik aku mencari pedukuhan terdekat untuk sekedar beristirahan barang sejenak. Rupanya di sebrang hutan kecil itu ada hunian yang tidak begitu ramai…sebaiknya aku ke sana.”  Demikianlah Panembahan Pulangsara pun memotong keluar dari jalan utama menuju hutan yang tidak begitu lebat.

Matahari masih tampak jelas cahayanya dengan arah yang semakin bergeser ke barat. Sehingga arah jalan pun masih jelas pula terlihat olehnya. Akan tetapi belum lagi beberapa langkah memasuki hutan kecil itu, Panembahan Pulangsara terlihat termangu-mangu oleh karena tiba-tiba seseorang telah berdiri membelakanginya di beberapa tombak di depan jalan yang dilaluinya. Sosok orang itu terlihat diam tak bergerak dengan kedua tangan tertelangkup di pinggang belakangnya.

Dengan rasa penasaran Panembahan Pulangsara mendekatinya,  akan tetapi justru dirinya menjadi terkesiap ketika orang itu membalikkan badan lalu memandangnya.

“Pangeran?”dDesis Panembahan Pulangsara dengan suara bergetar.

“Kau kira kau akan dengan mudah lari dariku Ki Sanak?” jawab orang yang bukan lain adalah Pangeran Purbaya tersebut.

“Ilmu iblis!” kata Panembahan Pulangsara dalam hatinya.

Berbagai pertanyaan kini berkecamuk dalam hatinya. Orang tua itu seakan tidak percaya mendapati kenyataan kini Pangeran Purbaya tiba-tiba justru mendahului langkahnya. Sebagai seorang yang berilmu sangat tinggi sebenarnyalah Panembahan Pulangsara telah merasa mengungkapkan segenap kemampuannya untuk sesegera mungkin berlari menjauh dari kotaraja. Namun ternyata apa yang telah dilakukannya seakan tidak berarti bagi Pangeran Purbaya. Demikian hal itu membuat Panembahan Pulangsara menjadi termangu-mangu seakan tidak percaya dengan pengelihatannya.

“Kenapa kau melamun Ki Sanak? Apakah kau menjadi heran melihatku di sini?” tukas Pangeran Purbaya.

“Bukan main ! Ternyata kau mempunyai ilmu iblis,  Pangeran,” jawab Panembahan Pulangsara yang mulai menyadari keadaannya.

Sementara Pangeran Purbaya terlihat tersenyum mendengar ucapan itu,  lalu katanya, “Ilmu iblis? Kau terlalu mengada-ada, Ki Sanak.” Pangeran Purbaya tertawa kecil. “Aku bukanlah seorang pemuja iblis, lalu bagaimana bisa aku memiliki ilmu iblis?. Dan kalau pun aku bisa lebih cepat sampai di sini tentu bukanlah karena ilmu iblis, akan tetapi mungkin kau sendiri yang berjalan terlalu lamban”

“Sombong! Jangan kau menjadi bangga dengan semua itu. Ketahuilah, semua itu tidak akan membuatku bergetar.”

“Sudahlah, Ki Sanak” sahut Pangeran Purbaya kemudian, “aku tidak ingin mendengar ucapanmu yang berbelit-belit itu. Karena saat ini aku ingin kau menyerah secara baik-baik atau aku terpaksa memaksamu. Aku ingin kau menyerah dan ikut aku kembali ke kotaraja!”

“Kau mengigau, Pangeran! Tentu tidak ada seorang pun yang menyuruhku  kecuali memang niatku untuk melakukan ini.”

“Bukankah aku tidak bertanya siapa yang menyuruhmu? Lalu mengapa kau berkata demikian?” sahut Pangeran Purbaya.

Panembahan Pulangsara merasa terjebak dengan ucapannya sendiri,  sehingga hanya terdiam sebelum kembali mendengar Pangeran Purbaya itu berucap. “Kau tidak akan mampu berbohong di hadapanku, apa lagi aku melihat kau justru telah membungkam kedua orang pengikutmu dengan cara membunuhnya.”

“Itu bukan urusanmu!”  geram Panembahan Pulangsara semakin gusar.

“Memang mereka bukan urusanku sekarang, karena mereka sudah mati kau bunuh. Oleh karena itu kaulah satu-satunya yang kini menjadi urusanku.”

“Ternyata kau terlalu sombong, Pangeran. Tapi baiklah,  meski semula aku menunda untuk membinasakanmu, kini niatku aku ubah karena kau sendiri yang ingin mati.”

“Baiklah, jika demikian keinginanmu bersiaplah, Kau boleh berkehendak membunuhku akan tetapi kau harus aku ringkus!” sergah Pangeran Purbaya.

Sebenarnyalah bagi Panembahan Pulangsara sungguh tak ada pilihan lagi kecuali harus melakukan pertarungan hidup dan mati. Baginya kini tidak ada lagi ruang untuk lepas dari jangkauan Pangeran Purbaya yang ternyata mempunyai ilmu melebihi dirinya dalam berlari, atau entah cara bagaimana dilakukan senapati agung  Mataram itu hingga dapat melampaui jarak kepergiannya. Oleh karena itu Panembahan Pulangsara telah memutuskan untuk bertarung pada tataran puncak ilmunya.

Kini, dari setiap pergerakan Panembahan Pulangsara dalam pembukaan unsur ilmunya terlihat demikian nggegirisi. Kedua tanganya sebatas siku itu pun terlihat seperti berpijar laksana bara yang memancarkan warna merah menganga kekuning-kuningan. Lalu seiring pergerakan kedua kakinya kedua tangannya itu pun seperti melakukan gerakan berputar-putar menggapai-gapai udara kosong di atasnya. Lambat namun pasti putaran-putaran tangan itu pun semakin bertambah cepat hingga entah bagaimana asal muasalnya kini muncul dua garis pusaran badai pijaran api tepat di sisi kedua tangan kanan dan kirinya yang kini terentang.

Gulungan dua api itu tampak berpijar-pijar hingga setiap jilatan lidah apinya mampu menimbulkan udara panas yang demikian luar biasa. Bahkan seketika daun-daun hijau disekitarnya pun tiba-tiba lunglai menguning gugur menjadi kering. Juga ranting dan dahannya pun kemudian menghitam lalu luruh dan hangus terbakar.

“Luar biasa ilmu orang ini,” desis Pangeran Purbaya dalam hatinya. “Apa boleh buat, sepertinya amatlah sulit untuk menangkapnya hidup-hidup. Aji Braja Geni orang ini ternyata telah mencapai tingkat yang demikian tinggi, bisa-bisa aku sendiri akan menjadi binasa jika memandang sebelah mata.”

Demikianlah memang Pangeran Purbaya telah merasakan sentuhan hawa panas yang demikian terasa meskipun jarak dirinya dengan Panembahan Pulangsara itu masih berada lebih dari sepuluh tombak. Sehingga sebelum segala sesuatunya terlambat senapati Mataram itu pun serta merta memusatkan nalar budinya. Beberapa kali Pangeran Purbaya terlihat menarik napasnya begitu dalam dengan kedua matanya yang mengatup rapat. Setelah kemudian dengan gerakan yang begitu tenang diangkatnyalah kedua tangannya tinggi-tinggi seiring kepalanya yang kini terlihat menengadah ke langit.

Dan sesuatu yang tidak kalah aneh dari apa yang dilakukan lawannya pun terjadi. Kedua ujung kedua  tangan Pangeran Purbaya itu pun seperti menarik sulur-sulur berwarna keputih-putihan bagaikan garis-garis kabut pekat bersilangan entah darimana datangnya. Dan jika apa yang diungkapkan Panembahan Pulangsara itu menimbulkan hawa panas luar biasa,  sebaliknya sulur-sulur kabut pekat itu terasa mengungkapkan hawa dingin yang sangat mencekat. Sesekali kedua jenis hawa yang berbeda itu saling bersentuhan di udara hingga menimbulkan suara mendesis-desis disertai asap mengepul seperti suara bara yang tersiram air.

Dalam pada itu ternyata  pertarungan ganas di tepian hutan kecil dan  jauh dari pemukiman itu ternyata masih saja ada orang yang kebetulan menyaksikannya dari tempat yang begitu tersembunyi.  Di mana ada dua pasang mata ternyata sedari awal telah mengamati apa yang sedang terjadi.

“Apakah kedua orang itu bukan manusia?” desis salah seorang dari mereka yang ternyata seorang anak laki-laki yang terlihat masih sangat belia.

“Mereka itu manusia, Ngger. Jika hantu tentu kau tidak akan bisa melihatnya,” jawab orang yang telah lanjut usianya.

“Tapi bagaimana mungkin manusia mampu melakukan pekerjaan seperti itu?”

“Layung. itulah yang aku katakan kekuatan manusia yang tersimpan dalam alam bawah sadarnya, siapa pun tentu bisa mengungkapkan kekuatan yang ada pada dirinya itu dengan melatih diri untuk mengungkapkannya lalu menyatukan dengan inti unsur alam yang ada di sekitar kita.”

“Maksud Kyai?” bertanya anak laki-laki yang tidak lain adalah Layungpati tersebut.

Sementara orang tua yang tidak lain adalah Syeh Winong itu terlihat menarik napasnya,  lalu kembali berucap,  “Bukankah kau melihat seperti pijar api yang sangat panas itu? Juga garis-garis kabut putih yang justru terasa sangat dingin itu? Itulah yang aku katakan unsur kekuatan yang ada di alam ini.”

“Tapi…”

“Tentu kau belum dapat mencerna dari sesuatu yang belum kau pahami, apa lagi sesuatu itu seakan tidak masuk akal,” Syech Winong menepuk-nepuk pundak Layungpati,  “dan kau akan memahaminya jika kau mau membuka diri untuk mempelajarinya.”

“Siapakah kedua orang itu, Kyai?” tukas Layungpati kemudian.

“Orang yang terlihat cukup umur itu, aku belum tau, akan tetapi yang hampir mendekati usia setengah abad itu adalah Pangeran Purbaya.”

“Pangeran Purbaya?”

“Ya, itulah Pangeran Purbaya, satu di antara putra mendiang Panembahan Senapati di Mataram.”

Related posts

Senja Langit Mataram 9

Ki Ras Haris Ph

Senja Langit Mataram 8

Ki Ras Haris Ph

Senja Langit Mataram 7

Ki Ras Haris Ph

Senja Langit Mataram 6

kibanjarasman

Leave a Comment