Padepokan Witasem
Pajang, Gajahyana, majapahit, Lembu Sora, bara di borodubur, cerita silat jawa, padepokan witasem, tapak ngliman
Bab 5 Bentrokan di Lereng Gunung Wilis

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 11

Namun di balik serangannya yang tiada henti datang bergelombang, Ra Jumantara disergap marah. Ia menambah kekuatan dan tenaga pada tiap pukulan dan tendangan. Hentakan tenaganya mulai dapat mendesak Bondan.

“Orang ini memang luar biasa,” desis Bondan dalam hati sambil cepat memutar tubuh hingga gasing menghindari tendangan beruntun Ra Jumantara. Dalam waktu itu, Bondan sadar bahwa pertahanannya mulai tergerus. Namun, ia lebih cenderung untuk menunggu. Bondan menunggu saat yang tepat untuk mengambil kesempatan balas menyerang.

Tiba-tiba Bondan menyambut tendangan Ra Jumantara dengan jari tangan mengembang, menangkis sangat cepat. Meskipun terkejut karena Bondan ternyata tidak menghindar, tetapi Ra Jumantara tidak mengurangi daya gempurnya. Bondan merasakan telapak tangannya mulai menghangat setiap kali menangkis tendangan Ra Jumantara. Sekali lagi Bondan harus memuji kecakapan lawan.

Namun keadaan itu tidak menyurutkan niat Bondan untuk membalas dengan serangan cepat dan berbahaya. Sepasang lengan Bondan berayun, menusuk dan menyilang datar, mengarah bagian tubuh berbahaya. Olah gerak yang demikian itu memaksa Ra Jumantara menggeser langkah sambil memutar tangan, membuat dinding pertahanan karena serangan Bondan menerjangnya seperti air bah.

Bondan secara tiba-tiba meningkatkan kecepatan. Melalui serangan itu, ia memaksa Ra Jumantara bertarung dalam jarak jangkauan lengannya. Bondan memutari dan memotong setiap langkah lawannya dengan kecepatan yang mengagumkan. Meskipun Ra Jumantara mengetahui tingkat kecepatan dan tenaga Bondan, tetapi ia tidak mau kehilangan pengamatan. “Mungkin saja anak ini masih menyimpan bekal yang tidak dapat aku duga,” Ra Jumantara bergumam dalam hati.

Ketika perkelahian mereka meningkat sengit, lingkaran pertempuran yang lain telah usai. Semua mata memandang perang tanding yang terjadi antara Bondan dengan Ra Jumantara. Ki Rangga Ken Banawa diliputi kecemasan karena Bondan belum memperlihatkan kedudukan yang melegakan hatinya. Sementara Ki Swandanu dan Ki Hanggapati masih menebak setiap kemungkinan yang dapat terjadi, meskipun begitu mereka mengharapkan Bondan dapat melakukan keajaiban.

Nyi Kirana sendiri mempunyai harapan yang sama dengan dua orang Pajang. Dalam hati kecilnya, Nyi Kirana ingin menjauh dari kebisingan yang pernah dilaluinya. Ia berharap bahwa suatu saat akan dapat lepas dari cengkeraman tangan Ra Jumantara dan kelompoknya. Tetapi di sisi lain, Nyi Kirana mengandalkan ketinggian ilmu Ra Jumantara dapat membebaskannya. Kebingungan sedang melanda dirinya.

“Aku akan menghabisi Ra Jumantara jika ia dapat mengalahkan anak muda yang tangguh itu. Tetapi sebelum itu terjadi, Ra Jumantara tentu akan berupaya keras memeras tenaga untuk menghabisi orang-orang ini, terutama senapati Majapahit itu,” bisik Nyi Kirana dalam hati sambil menatap orang di sekelilingnya.

Bondan, yang tidak pernah menganggap perang tanding sebagai sebuah ujian, benar-benar mengerahkan segenap kemampuan. Ia memberikan perlawanan sangat hebat pada Ra Jumantara. Sehingga lawannya yang sangat tangguh itu harus berulang-ulang melompat mundur karena serangan Bondan yang membadai. Selangkah Bondan surut ke belakang, lalu melompat, menerjang lawan dengan sekuat tenaga. Ra Jumantara terpaksa mundur sambil menangkis sepasang kaki Bondan yang berkelebat memutar sangat cepat.

Dalam keadaan seperti itu, Ra Jumantara berupaya memegang betis Bondan dengan cengkeraman sepenuh tenaga. Tetapi Bondan dapat memutar tubuh serta melepaskan pukulan secepat kilat, menusuk lambung Ra Jumantara. Meskipun pukulan itu tidak mengenai tubuhnya, namun Ra Jumantara dapat merasakan angin panas menggapai kulit yang menghadap lurus pukulan Bondan. Sekali lagi, Ra Jumantara melompat surut, menjauh dari jangkauan serangan Bondan.

“Hebat! Kau memang hebat, anak muda! Katakan, siapa gurumu?” Suara Ra Jumantara menggetar dilambari tenaga inti dengan tujuan memecah perhatian Bondan.

“Guruku adalah mereka yang mati karena ulah kalian!” Bondan balas membentak dengan cara yang sama ; suara yang diiringi tenaga sakti.

Ra Jumantara tertawa keras. Karena suaranya telah disertai tenaga inti, maka getarannya sanggup membentur dada dan mempercepat jantung yang berdentang. Jalutama dan Ki Swandanu merasakan sesak di dadanya. Mereka kesulitan bernapas untuk sementara karena suara Ra Jumantara mendenging tinggi di dalam gendang telinga. Mereka berdua merasakan pada bagian dalam telinga seperti disayat sebilah bambu yang tipis dan tajam.

Sementara Ken Banawa, Ki Hanggapati dan Nyi Kirana merasakan bahwa tubuh mereka seperti didorong mundur oleh kekuatan yang sangat besar. Kekuatan ini bahkan dapat mengunci kemampuan mereka bertiga yang akan membentengi diri dari himpitan tenaga sakti milik Ra Jumantara.

Dalam waktu itu, Ra Jumantara dapat berdiri tegak dengan pandangan tajam menatap Bondan. Mereka terpisah dalam jarak kurang dari sepuluh langkah.

Bondan dapat menilai keadaan yang terjadi. Ia dapat mengukur  tataran kekuatan dan ilmu Ra Jumantara. Ia berpikir cepat, bahwa pertarungan tidak dapat berlangsung lebih lama lagi. “Cukup! Cukup sudah orang-orang menerima derita akibat perkelahian ini!” tekadnya dalam hati. Sementara itu, ia sendiri mengalami serangan berupa getaran suara yang lebih hebat karena jarak yang begitu dekat dengan lawannya. Dada Bondan seakan digedor dengan pukulan bertubi-tubi saat Ra Jumantara menggandakan tenaga yang disalurkannya melalui suara.

Beli via WA

Tangan Bondan bergerak cepat, tiba-tiba, ikat kepalanya telah berada dalam genggaman dan terurai lepas. Satu lecutan dihentakkannya, terdengar bunyi ledakan, menghantam getar suara Ra Jumantara yang bergelombang. Inilah pengungkapan tenaga sakti tingkat tinggi ketika tidak terdengar suara ledakan yang keras meski dua kekuatan hebat sedang berbenturan! Namun, orang-orang di sekitar mereka dapat merasakan sedikit kelonggaran. Suara lecutan ikat kepala Bondan yang pertama kali ternyata mampu memberi sedikit keleluasaan orang-orang yang tidak terlibat pertarungannya. Ra Jumantara terkesiap, lalu mundur setapak. Dalam waktu yang sangat singkat, Bondan berkelebat secepat kilat sambil melecutkan ikat kepalanya ke arah Ra Jumantara.

Ra Jumantara sigap menyilangkan tangan kiri di depan dada, ujung ikat kepala Bondan tepat mematuk lengan kiri lawannya. Lengan Ra Jumantara tergetar hebat dan rasa ngilu segera menjalari tulang hingga ke pangkal bahu. Kemudian, ia mengamuk hebat karena di luar dugaan sebelumnya, ternyata Bondan sanggup memberikan sakit pada bagian dalam tangannya. Tubuh Ra Jumantara melayang dan melesat deras menerjang Bondan lalu tiba-tiba saja senjatanya telah terhunus dalam genggaman.

Wedaran Terkait

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 9

kibanjarasman

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 8

kibanjarasman

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 7

kibanjarasman

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 6

kibanjarasman

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 5

kibanjarasman

Bentrokan di Lereng Gunung Wilis 4

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.