Padepokan Witasem
Bab 5 Berhitung

Berhitung 2

“Baiklah. Kita akan menyerang mereka dalam waktu dekat. Sekarang, aku minta kalian kembali ke pasukan masing-masing untuk menata ulang agar sesuai dengan siasat yang telah aku putuskan. Kapal-kapal kecil berangkat terlebih dahulu untuk menjaga perairan yang akan kita lalui. Setiap kejanggalan akan diberitahukan melalui panah api atau lontaran meriam kosong.” Raden Trenggana berhenti sejenak lalu mengedarkan pandangannya. Terlihat garis ketegasan dan kemauan kuat yang memancar dari wajahnya. Lalu dengan tegas ia berkata lagi, ”Kita berangkat dua hari sejak kedatangan Adipati Hadiwijaya di Demak.”

Para senapati kemudian kembali ke pasukan masing-masing. Mereka mengulang pesan dan perintah-perintah yang sesuai dengan siasat Raden  Trenggana. Para pemimpin menjelaskan bahwa bantuan dari barat tidak akan disertakan dalam perjalanan menuju ke timur. Alasan-alasan yang masuk akal pun mereka katakan di depan pasukan masing-masing.

Oleh karena itu, ketegangan mulai merambat pelan di langit Demak dan Jepara. Meriam dan alat pelontar api mulai dipindahkan dan ditempatkan di geladak kapal. Memeriksa lambung kapal menjadi kegiatan wajib bagi para penjaga kapal. Bahan pangan pun diletakkan pada tempatnya setelah melalui perhitungan cermat tentang kebutuhan setiap prajurit yang berada di atas kapal. Sehingga kemudian pelabuhan semakin meningkatkan pengawasan dan penjagaan ketat dari segala bentuk penyusupan yang mungkin akan dilakukan oleh orang-orang dari wilayah timur.

Seiring dengan kegiatan di pelabuhan, para prajurit yang bertugas untuk menjaga perairan pun mulai melakukan perondaan lebih rutin. Bahkan beberapa di antara mereka menyempatkan diri untuk memberitahu para nelayan agar tidak melintas jalur pelayaran yang diperkirakan akan dilewati oleh pasukan Demak. Maka dengan demikian, orang-orang Demak mulai menunggu kedatangan Adipati Hadiwijaya dan menghitung hari keberangkatan mereka menuju Panarukan.

*****

Ilmu Ki Buyut Mimbasara yang sangat dahsyat benar-benar mampu disembunyikan dalam kehidupan setiap harinya. Pada malam ia meninggalkan kediaman Pangeran  Parikesit, Ki Buyut terlihat seperti berjalan kaki sebagaimana lumrahnya, namun sebenarnya ia seperti terbang di atas rumput. Bahwa setiap satu langkah kakinya setara dengan dua puluh hingga dua puluh lima langkah biasa. Selanjutnya dalam waktu singkat ia telah mencapai batas luar kotaraja.

Dalam waktu itu, ia mengendapkan kecepatan ketika dirasa olehnya ada seseorang yang mengikutinya sejak keluar dari rumah Pangeran Parikesit. Namun tiba-tiba ia menghentak kecepatannya lebih dahsyat dari sebelumnya. Maka yang terjadi adalah Ki Buyut Mimbasara atau Kebo Kenanga ini meluncur melebihi kecepatan anak panah. Setiap rumput yang tersentuh ujung kakinya nyaris tidak bergoyang. Ki Buyut mengambil jalan pintas yang sebenrnya sangat sulit dilewati karena harus melintasi beberapa sungai yang berdinding curam. Sekali-kali ia menggelengkan kepala saat berpaling ke belakang betapa orang yang mengikutinya mampu menjaga jarak dengannya.

Keduanya seperti tidak mempunyai batasan ketika melintasi malam yang pekat, tebing sungai yang curam pun seolah tidak menjadi penghalang bagi mereka yang seperti melakukan pertandingan lari cepat. Bahkan sesekali mereka menjejak kakinya diatas permukaan air sungai.

Demikianlah kemudian Ki Buyut telah mencapai jalanan yang cukup lebar dan dari kejauhan nampak beberapa obor menyala menerangi bagian depan padepokannya. Tak lama kemudian, orang yang mengikutinya telah berdiri di sisinya. Mereka kemudian saling melempar senyum dan melangkahkan kaki secara wajar.

“Ternyata Kakang belum berkurang sedikit pun,” berkata Ki Buyut Mimbasara.

“Saya masih kesulitan menyamai kecepatan Kakang,” sahut Ki Getas Pendawa. Sebuah bulak pendek yang kering telah mereka lewati dan keduanya harus melintasi dua parit yang memotong jalan sebelum tiba di regol padepokan.

Tetapi sebelum mereka melewati parit yang pertama, Ki Buyut tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia berpaling pada Ki Getas Pendawa lalu katanya, ”Aku merasakan sesuatu yang buruk sedang terjadi.” Ia memandang tajam arah padepokan.

Ki Getas Pendawa mengernyitkan dahi lalu mendesis, ”Angger Pangeran Benawa!” Seketika ia menghentak kaki, tubuhnya melesat dengan kecepatan yang sulit diperkirakan nalar sehat. Ki Getas Pendawa mendengar dengan jelas suara Jaka Wening memberi perintah pada para cantrik padepokan. Keduanya – Ki Buyut Mimbasara dan Ki Getas Pendawa – nyaris bersamaan saat meluncur deras menuju padepokan.

Ki Buyut Mimbasara mendengar lengking Pangeran Benawa, lengking suara yang biasa diteriakkan oleh putra Jaka Tingkir saat menghindari serangan ketika ia berlatih bersama cantrik padepokan.

Related posts

Leave a Comment