Padepokan Witasem
geger, alas krapyak, api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 6 Geger Alas Krapyak

Geger Alas Krapyak 27

Dari belakang garis depan pasukan yang setia pada perjuangan Raden Atmandaru masih terlihat puluhan anak panah terlontar busur, menghujani pertahanan Pedukuhan Gondang Wates. Walaupun demikian, serangan jarak jauh itu tidak membuat goyah pengawal pedukuhan. Bahkan, para pengawal terlihat kuat bahu membahu dan sepertinya garis pertahanan mereka tidak akan runtuh dalam setengah hari. Ini bukan main-main! Lembing dan tombak masih kuat berkelebat membelah udara bulak kering yang menjadi gelanggang pertempuran. Pedang dan golok di tangan mereka teguh memecah gelombang serangan dari gelar yang disusun oleh Ki Sor Dondong. Sungguh, kemampuan para pengawal pedukuhan sama sekali tidak menunjukkan perbedaan yang jauh dari pengikut Raden Atmandaru. Perbandingan orang per orang ataupun benturan antar kelompok. Perjuangan pengawal Gondang Wates sangat mengesankan!

Pangeran Purbaya – yang sempat cemas karena belum pernah menyaksikan langsung para pengawal menggelar latihan – terlihat begitu bangga dengan kegigihan dan keterampilan orang-orang Gondang Wates. “Para pengawal ini bukan sekelompok orang yang sering melakukan peperangan. Mereka tidak berada pada tingkatan yang sama dengan prajurit Mataram dari segi pengalaman tempur. Namun, sepertinya, pagi ini mereka bertarung sepenuh jiwa dan raga, dan barangkali itulah yang menipiskan perbedaan yang ada. Mereka bertarung pada puncak dari segala yang dikuasai dan dipahami. Menakjubkan!” gumam Pangeran Purbaya dalam hati.

Kenyataannya, memang, para pengawal Gondang Wates belum terlihat terdesak mundur. Mereka tegar dalam susunan gelar atau perintah para ketua regu. Maka, dalam waktu itu, orang-orang yang ingin menggantikan Panembahan Hanykrawati benar-benar seperti memukuli bagian tebing Merbabu yang sangat cadas!

Permukaan tubuh bagian atas mulai basah cairan berwarna merah, dan ketika melihat anak buahnya belum dapat merangsek maju, Ki Sor Dondong yang geram kemudian berseru, “Tidak perlu ada keraguan meski yang menjadi lawanmu adalah keluargamu sendiri. Hempaskan mereka! Patahkan seperti kalian mematahkan ranting-ranting kering! Injak kepala mereka, benamkan dalam-dalam!”

Maka dari itu, daya dobrak pengikut Raden Atmandaru semakin kuat mendesak pertahanan Gondang Wates. Tidak ada lagi kesempatan untuk berpikir mundur atau meloncat keluar dari gelanggang, memiih lawan lalu kabur. Tidak ada!

Semua orang yang terikat dalam pertempuran itu sudah merasa dan meyakini, bahwa tidak akan ada jalan pulang yang dapat terlihat. Perhatian mereka berpusat pada satu perkara ; lawan dengan cara berkelahi hingga langit enggan menundukkan wajah untuk melihat perkembangan di atas tanah Gondang Wates.

Pada lingkar perkelahian Sukra.

Pengawal Menoreh itu semakin tajam meningkatkan perkembangan tata geraknya. Dengan demikian, para pengeroyoknya seperti terbenam ke dalam lumpur hisap. Mereka tidak dapat memalingkan muka untuk melihat perkembangan sekeliling meski sepintas. Yang dapat mereka lakukan hanyalah melindungi diri dengan mengerahkan segenap kecepatan yang dimiliki. Bila tidak, Sukra akan mudah menggilas mereka selembut-lembutnya. Seseorang akan tiba-tiba kehilangan Sukra yang mungkin akan muncul mendadak dari belakangnya lalu menyabetkan pedang. Maka pengeroyol Sukra pun bertarung sambil mengikat diri dalam pertahanan yang cukup rapat. Mereka membentuk gelar sepasang demi sepasang dengan cara menempelkan punggung, lalu mengitari Sukra seperti putaran gelar Cakrabyuha. Itu adalah keadaan yang sangat membahayakan apabila Sukra tidak terbantu oleh salah seorang pengawal dari pedukuhan.

Pangeran Purbaya dapat melihat perubahan yang terjadi pada lingkar perkelahian Sukra. Sekilas  terbersit keinginan dalam hatinya untuk memerintahkan gugus pengawal lain agar mendobrak barisan pengepung Sukra. Anak itu belum matang dalam pertempuran, tetapi kegesitan dan ketangkasannya seperti menjadi penutup yang hebat, pikirnya. Sekejap kemudian, Pangeran Purbaya menarik napas lega ketika Sukra terlihat mampu melepaskan diri dari himpitan lawan.

Petunjuk singkat yang diberikan Pangeran Purbaya dalam perjalanan menuju Gondang Wates ternyata mampu diterjemahkan dan dikembangkan Sukra dengan baik. “Ketika engkau berada di dalam kepungan yang sangat rapat dan ketat, maka, perhatikan baik-baik dan perkirakan jarak di antara mereka. Bila engkau yakin dengan kecepatanmu, maka belah kepungan itu seperti sinar matahari yang menyusup di cela-cela rimbun daun,” pesan Pangeran Purbaya pada malam mereka di hutan kecil sebelum mencapai Gondang Wates.

Tiba-tiba, orang-orang yang mengepung Sukra – sebenarnya merekalah yang dikepung Sukra – memandang Sukra dengan wajah pucat. Derap sepasang kaki Sukra terdengar seperti suara kaki-kaki kuda yang berderap sangat cepat dan kuat. “Ilmu setan?” tebak mereka dalam pikiran masing-masing. Sekejap waktu kemudian terdengar desir angin yang menggaung dari ujung senjata Sukra. Sukra menerjang dengan pengerahan kecepatan berlipat-lipat dari sebelumnya. Tata gerak yang dimatangkan oleh Nyi Ageng Banyak Patra telah sepenuhnya berlambar tenaga cadangan yang diperolehnya dari Ki Patih Mandaraka. Maka, Sukra menjadi sosok yang berbeda. Sukra menjadi senjata yang menggetarkan hati lawan-lawannya. Sepasang kaki Sukra berputar, menendang berantai sementara pedangnya terus berayun sambil mengeluarkan derik yang menyakiti pendengaran.

Seorang pengeroyok terpental keluar dari lingkar perkelahian. Sekejap kemudian, dua orang terjungkal roboh.  Sukra semakin menggila dengan serangan-serangan yang berbahaya. Tidak seorang pun tahu isi kepala Sukra ketika menggeser lingkar perkelahiannya mendekat baris utama pasukan lawan yang perlahan-lahan mengubah susunan gelar menjadi Jurang Grawah. Ini sangat berbahaya!

Tata gerak Sukra memang sulit ditandingi oleh anak buah Raden Atmandaru yang berada di sekitarnya. Olah gerak Sukra berbeda dengan gerakan dasar yang banyak diajarkan oleh perguruan-perguruan olah kanuraga. Bahkan, gerakan Sukra terhitung aneh namun sangat cepat dan terlalu kuat bagi mereka. Sukra terus berloncatan lincah, menyambar dan mematuk lawan-lawannya. Putaran pedang Sukra seakan berubah menjadi gulungan sinar perak yang ganas. Batang pedang menggelepar dan mengeluarkan bunyi getaran seperti ekor ular derik.

Tetapi, sebenarnya, Sukra tidak sadar bahwa gerakannya yang sangar dan beringas menyambar-nyambar justru membawanya semakin jauh dari gugus pengawal terdekat. Ia bertarung seperti orang yang kalap. Meski demikian, pergeseran itu terpantau baik oleh Pangeran Purbaya yang banyak mengamati pergerakan Sukra. “Tidak mungkin menarik pengawal yang lain, tetapi Sukra dapat terjebak dalam kepungan lebih banyak orang,” katanya dalam hati. Maka, ia perintahkan seorang penghubung agar melepas panah sendaren sebagai perintah mundur.

“Pangeran?”

“Kita akan menahan lalu mengurung mereka pada batas yang telah ditentukan oleh Nyi Pandan Wangi,” kata Pangeran Purbaya.

Petugas penghubung itu segera sadar bahwa mereka tidak mempunyai barisan pengawal cadangan. Pikirnya kemudian, kekuatan lawan juga belum berkurang, maka menghemat tenaga dan mengulur waktu dapat diterimanya sebagai siasat yang masuk akal.

Seketika panah sendaren dengan bentuk khusus menggaung nyaring. Perintah mundur telah dikumandangkan namun selangkah lagi, mereka akan memberi perlawanan yang lebih menggetarkan.

“Mundur?” Sukra mengerutkan alis tetapi ia tidak lagi berpikir panjang. Maka, Sukra berseru keras. Pada saat itu, pengeroyok yang menyerangnya pertama kali telah menjadi tipis jumlahnya. Kemudian datang satu atau dua orang turun menyerang Sukra namun mereka mengalami jerih dengan tandang anak muda yang begitu ganas dan beringas. Tetapi, ketika mereka mundur selangkah, tiba-tiba kedudukan mereka diganti oleh temannya yang lain. Sehingga Sukra seperti sebongkah daging empuk dengan lalat yang datang bergantian.

Setelah mendengar perintah mundur, Sukra melihat sekeliling.  Ia terkejut karena mendapati dirinya nyaris terperosok ke dalam mulut Jurang Grawah yang menganga. Sukra memiringkan tubuh. Menggerakkan pedangnya lebih kuat dan cepat, tangan kirinya juga berayun dengan sambaran-sambaran yang terukur. Hanya ada satu cara untuk selamat baginya ; bertahan melalui serangan-seragan yang tidak terpikirkan oleh lawan!

Senjata Sukra deras berkelebat, mengalihkan perhatian lawan. Ia mendadak  melenting tinggi, berputar-putar di udara pada arah kelompok pengawal yang paling mudah dicapainya.

Pemimpin kelompok yang terdekat dengan Sukra menyadari bahwa mereka harus mengeluarkan pengawal tangguh itu dari semua kemungkinan buruk. Mereka tidak bergeser mundur karena menyelamatkan Sukra jauh lebih penting daripada keselamatan diri sendiri. Pemimpin mereka berseru, “Ngalor! Ngalor!” Mereka  menerjunkan diri dalam perkelahian pada arah yang diperkirakan akan ditempuh Sukra sebagai jalan keluar.

Sukra berpaling. Dadanya sedikit lega. “Bantuan datang,” katanya dalam hati. Menurut penilaiannya, perkelahian mereka tidak seimbang dan belum memadai, maka secepatnya ia harus bergabung dengan para pengawal.

 

Related posts

Geger Alas Krapyak 9

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 8

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 7

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 6

kibanjarasman

2 comments

EDI 15/05/2022 at 02:21

Sdh 27 jilid msh geger di sangkalputung

Apakah geger alas krapyak hanya sekilas seperti scene penjemputan pangeran purbaya oleh sukra gatra bumi?

Reply
kibanjarasman 16/05/2022 at 14:17

pertemuan pangeran purbaya dengan sukra akan menjadikan kisah semakin lama selesai.. sangkal putung akan menjadi landasan petualangan sukra dalam tulisan yang direncanakan terbit setelah KKG selesai.

Reply

Leave a Comment