Padepokan Witasem
geger, alas krapyak, api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 6 Geger Alas Krapyak

Geger Alas Krapyak 5

Tiba-tiba dari arah punggung Ki Bluluk Rambang, ketika tubuhnya masih melayang, Sukra muncul lalu mengayunkan pedang!

Dalam sekejap mata dan di luar dugaan orang-orang yang melihat peristiwa itu, termasuk Pangeran Purbaya, Ki Bluluk Rambang terhuyung lalu roboh tengkurap!

Sepertinya akhir perkelahian itu terlampau mudah bagi orang-orang yang mengira bahwa Sukra akan menemui kesulitan mempertahankan kecepatan. Seluruh kain yang membungkus tubuh Sukra sudah pasti basah dan itu menambah berat yang mampu merintangi kecepatannya. Muncul dari kedalaman pun mempunyai beban tersendiri. Cukup berat bagi seseorang apabila ia melompat dari air sedalam pinggang, meski harus mengambil ancang-ancang dengan berjongkok di bagian dasarnya. Namun Sukra dapat melakukannya. Memang Sukra bukan pengawal Menoreh yang hebat tetapi ia banyak berlatih di segala bagian sungai yang ada di Tanah Perdikan. Berawal dari kebiasaannya bermain air, berloncatan di antara bebatuan, terjun lalu menyelam, lalu semua itu memberi hasil yang tidak disangka-sangka.

Bagi Sukra, segala kesenangan yang didapatnya saat bermain air adalah jalan kebebasan. Ia tidak terikat oleh segala paugeran, tidak perlu rikuh bila terlihat oleh Sekar Mirah, tak juga perlu malu bila didengar oleh Ki Gede Menoreh. Saat itu, Sukra tidak berpikir tentang kekuatan wadag, kecepatan maupun kelenturan dalam menjaga keseimbangan. Intinya, Sukra sangat senang dengan segala yang diperbuatnya di sungai.

loading...

Ki Bluluk Rambang berusaha bangkit dengan tubuh gemetar. Sukra melompat, mendekat dengan sinar mata tenang. “Bagaimana perasaanmu? Bukankah engkau yang menyebutku sebagai anjing Mataram, nah, apakah seekor anjing mampu berbuat seperti itu padamu?”

Ki Bluluk Rambang mendelik. Napasnya terengah-engah, lalu ia menyahut, “Bila aku terbunuh malam ini dan sepertinya memang begitu yang akan terjadi…” Ki Bluluk Rambang tidak meneruskan ucapannya ketika sepasang matanya menangkap pergerakan Pangeran Purbaya yang melayang turun pula ke  badan sungai.

Kata Pangeran Purbaya pada Ki Bluluk Rambang, “Ki Sanak, sebaiknya engkau tahu bahwa pengikutmu terikat erat dan tak akan dapat melepaskan diri sebelum terendus serigala lapar.”

“Aku sudah menduga itu. Aku mengenalmu, Pangeran,” kata Ki Bluluk Rambang. “Bila benar yang engkau katakan, maka benar pula kabar yang beredar, bahwa anak-anak Danang Sutawijaya merupakan segolongan orang yang berdarah dingin dan bertangan keji.”

Tanpa menghiraukan Ki Bluluk Rambang yang sedang mengungkapkan kegeraman dan kegetiran yang dirasakannya sekaligus, Pangeran Purbaya mengalihkan pandangan pada Sukra, kemudian katanya, “Malam semakin mendekati wayah lingsir. Apakah engkau berketetapan hati untuk menyudahi perkelahian ini atau kau serahkan padaku?”

Sukra maklum bahwa Ki Bluluk Rambang masih hidup meski tak sanggup lagi melanjutkan pertarungan. Namun ketidaksanggupan lawan pun dibantahnya sendiri dalam hati. Tidak sanggup? Mungkin ia memilih menyerah karena kehadiran Pangeran Purbaya. Lantas ia menjawab, ”Ini bukan sebuah perang tanding, Pangeran. Ini lebih dekat pada pertarungan dua kelompok. Sebagai pengawal Menoreh dan bagian dari Mataram, saya serahkan urusan ini pada Pangeran.”

“Cerdas!” puji Pangeran Purbaya dalam hatinya. Baginya, kata-kata Sukra telah menunjukkan bahwa sesungguhnya anak muda Menoreh itu tahu tentang arti sebuah kedudukan. Ini adalah bagian kecil dari peperangan yang disebabkan oleh segelintir orang yang mengincar puncak kekuasaan Mataram. Keputusan Sukra dengan menyerahkan nasih Ki Bluluk Rambang, memberi kesan mendalam di dalam hati Pangeran Purbaya. Sukra dapat mengendalikan kehendak pribadi dan kemarahannya.

Pangeran Purbaya melangkah maju, menampar Ki Bluluk Rambang, lalu sebuah gerakan kilat dilakukannya. Pangeran Purbaya kemudian beranjak pergi dan diikuti oleh Sukra serta dua orang Sangkal Putung.

Di belakang Pangeran Purbaya, seorang pengawal bertanya pada Sukra mengenai jati diri orang yang dipanggil Sukra sebagai pangeran. “Oh, remuklah nasib! Mana aku tahu bahwa beliau adalah Pangeran Purbaya?” keluh seorang pengawal. Ia membayangkan akibat buruk yang akan menimpanya setelah mengingat perlakuan mereka pada Pangeran Purbaya yang jauh dari kata menghormati seorang putra Panembahan Senapati.

“Kalian akan baik-baik saja. Bukankah Pangeran Purbaya pun tidak mengenalkan diri pada kalian? Tentu saja beliau tidak gegabah berbuat sekehendak hati,” kata Sukra menenangkan.

Dua pengawal kademangan mendengar dengan sedikit kelegaan. Harap mereka, semoga ucapan Sukra menjadi kenyataan.

Sesampainya di tempat mereka bermalam, sambil menunjuk empat orang yang terikat, Pangeran Purbaya memberi perintah pada seorang pengawal Sangkal Putung, “Letakkan ini di depan mereka.”

Pengawal kademangan pun mengangguk sambil merendahkan tubuh. Ia merasa mulutnya terkunci untuk sekedar mengatakan ‘baik’. Sejenak kemudian ia kembali ke tempat Pangeran Purbaya dan Sukra. “Pangeran,” katanya singkat sambil memberi tanda dengan ibu jarinya bahwa kepala Ki Bluluk Rambang telah ditempatkan sesuai keinginan Pangeran Purbaya.

Pangeran Purbaya membalasnya dengan senyuman, lalu bertanya, “Apakah kalian mengenal wilayah ini?”

“Kami, Pangeran.”

“Apakah itu berarti kalian dapat membawa kami ke Gondang Wates?”

“Kami, Pangeran.”

“Secepat apa?”

Dua pengawal kademangan kemudian bertukar pandang. Lantas salah seorang dari mereka melihat wajah Sukra – barangkali ia merasa kurang nyaman bila mengatakan sejujurnya di depan Pangeran Purbaya. “Sukra, apa yang menjadi beban muatan di pedatimu?”

“Beberapa lembar pakaian dan jerami.”

“Pakaian…” gumam pengawal. Kemudian katanya sedikit lebih keras, “Jika demikian, pedati dapat engkau tinggalkan di pedukuhan yang terletak di balik bukit itu. Selanjutnya kita berjalan kaki.”

“Apakah berjalan kaki dapat mengantar kalian di Gondang Wates sebelum senja?”

“Sebelum malam hari, Pangeran. Kita berjalan wajar melalui jalur-jalur pintas.”

“Gambarkan keadaannya!”

Mereka berdua pun bergantian menerangkan jalanan yang akan dilalui. Mendaki dengan beberapa turunan terjal. Beberapa sungai juga harus dilewati. Buruknya, bagian sungai yang diterangkan mereka adalah yang berceruk dalam. Bila mencari bagian yang dangkal, maka mereka akan mudah bertemu dengan penduduk setempat atau pengintai dari pihak Raden Atmandaru.

Seusai menyimak keterangan rinci dari pengawal Sangkal Putung, Pangeran Purbaya mengerling pada Sukra lalu bertanya, “Bagaimana bila aku serahkan keputusan ini padamu?”

Wajah Sukra tegang dan sekujur tubuhnya mematung. Ini adalah ujian atau tantangan dari Pangeran Purbaya untuknya. Menyerahkan keputusan : tetap pada jalur yang direncanakan di kediaman Ki Patih Mandaraka atau mengikuti pengawal kademangan? Tentu bukan persoalan yang mudah dipecahkan seperti memecah cangkang telur.

“Apa yang sedang aku tunggu darimu, Sukra?”

“Apakah Pangeran juga memerlukan alasan?”

“Tidak. Aku serahkan sepenuh hati dengan selembar nyawa.”

Sukra lantas lekat menatap wajah pada dua pengawal Sangkal Putung,  katanya, “Kalian mengatakan kita akan tiba di Gondang Wates sebelum malam. Untuk pencapaian itu, apakah kita akan berjalan tanpa henti atau berhenti sekedar memberi makan kuda?“

“Kita berhenti seperlunya.”

“Dengan demikian…,” kata Sukra dengan tubuh menghadap Pangeran Purbaya, “Pangeran, kita akan mengikuti petunjuk pengawal kademangan dan berjalan tanpa henti. Saya akan mendorong pedati ke sungai, sedangkan dua ekor kuda itu, saya serahkan pada Pangeran.” Bahas tubuh dan pancaran wajah Sukra menunjukkan keyakinan dan kepercayaan diri bahwa keputusannya tidak keliru. Andaikan keliru? “Itu salah Pangeran Purbaya karena menunjukku,” ucap Sukra dengan senyum mengembang dalam hati.

“Mengapa tidak kau ambil seluruh pekerjaan itu?”

“Dua ekor kuda itu milik Ki Patih Mandaraka. Saya tidak berani membuat keputusan mengenai hal ini,” jawab Sukra dengan nada yang sangat mantap.

“Baiklah,” kata Pangeran Purbaya. “Untuk perhatian kalian semua. Sukra telah membuat keputusan. Dua ekor kuda ini tidak mempunyai tanda milik Kepatihan, maka aku akan lepaskan. Sangkal Putung, beri tanganmu untuk membuang pedati.”

“Kami, Pangeran,” sahut mereka bertiga serempak.

Dalam waktu singkat, mereka berempat mulai meniti jalan menuju Gondang Wates.  Hampir atau mungkin semua keadaan sesuai dengan yang digambarkan para pengawal kademangan. Mereka tidak menjumpai seorang pun dalam perjalanan senyap itu. Tidak ada percakapan di antara mereka. Segala perubahan atau perkembangan dilakukan dengan gerakan tangan atau bahasa tubuh yang lain.

Sunyi dan sangat senyap hingga salah seorang pengawal nyaris tidak tahan dengan keadaan itu. Ketika bibirnya akan bergetar, kawannya memberi tanda agar tetap diam. Meski gelisah karena kebisuan yang mendera, apa yang dapat mereka perbuat? Perlahan-lahan keadaan itu justru memberi pengajaran pada dua pengawal kademangan tentang persandian; keteguhan hati meski kaki-kaki menapak jalan berapi dan ranting yang menyala.

Bahwa mereka akan tiba di Gondang Wates menjelang senja atau tepat ketika matahari berada di kemiringan blandar rumah kayu, itu sesuai perkiraan Sukra. Seorang pengawal memberi isyarat pada Pangeran Purbaya bahwa Gondang Wates akan terlihat setelah mereka mendaki tanjakan yang tidak begitu panjang.

Wedaran Terkait

Geger Alas Krapyak 90

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 9

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 89

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 88

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 87

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 86

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.