Padepokan Witasem
geger, alas krapyak, api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 6 Geger Alas Krapyak

Geger Alas Krapyak 85

Atas perkenan Raden Mas Rangsang, Agung Sedayu mengiringi langkah pangeran Mataram tersebut ke ruang yang biasa digunakan Panembahan Hanykrawati mengadakan pembicaraan tertutup. Sedikit pun tidak ada rasa khawatir yang terpancar dari wajah mereka. Raden Mas Rangsang terlihat yakin bahwa kehadiran Agung Sedayu masih belum diketahui oleh mata-mata Raden Atmandaru. Meski waswas silih berganti mengusik ketenangannya, Raden Mas Rangsang tegak melangkah bersama pikiran-pikiran tajam yang berkelebat di dalam benaknya.

Namun sebaliknya, Agung Sedayu masih dihinggapi kegamangan. Bagaimanapun, dinding-dinding istana mungkin sudah terpasang mata dan telinga musuh, pikirnya. Hingga waktu itu, pengalaman dan kemampuan Agung Sedayu untuk menyamarkan diri dalam keadaan terdesak belum dapat dianggap hilang. Ingatannya tergali kembali saat mengenali sedikit bagian dalam istana Panembahan Hanykrawati. “Tidak banyak perubahan,” gumamnya saat membandingkan bangunan dengan zaman Panembahan Senapati. Tiang-tiang dari balok masih tampak kokoh dan berkulit lapisan warna yang halus. Dinding-dinding masih mengesankan tidak mudah disusupi angin lembut yang mengalir dari lereng Merapi. Beberapa hiasan bambu – yang pernah dilihatnya pada masa lalu – ternyata masih belum bergeser tempat. Ini seakan menjadi tanda bahwa Panembahan Hanykrawati tidak melangkah jauh dari yang pernah ditinggalkan ayahnya, pikir Agung Sedayu.

Selama mereka melangkah menyusur lorong-lorong yang diapit taman-taman kecil, Agung Sedayu  tidak pernah berpapasan dengan peronda. Tidak pula ia melihat prajurit bersliweran di bagian dalam istana.  “Apakah Raden Mas Rangsang sedang menyiapkan perangkap? Jelas ini bukan ketidaksengajaan atau siasat lalai,” kata Agung Sedayu dalam hati. Pertanyaan lain muncul dalam hatinya namun ia tidak ingin menjawabnya. “Apakah karena Panembahan Hanykrawati sedang sakit keras lalu para pangeran meniadakan penjagaan agar tidak mengusik ketenangan beliau?”

Sepasang mata Raden Mas Rangsang melirik lalu memperhatikan gerak gerik Agung Sedayu. Putra Panembahan Hanykrawati itu seolah dapat membaca jalan pikiran senapati pasukan khusus Mataram tersebut. Namun ia tidak mengatakan sesuatu meski ingin menjelaskan siasat penjagaan pada Agung Sedayu. “Ia akan mengerti. Agung Sedayu pasti mengerti,” ucap Raden Mas Rangsang dalam hati.

loading...

Agung Sedayu membayangkan dalam pikirannya. Jarak waktu antar peronda serta waktu tempuh antar gardu seperti sudah terukur. Pola pelaporan atau gambaran gelar yang akan digunakan pun dapat dibayangkan oleh orang-orang yang mempunyai kelebihan khusus dalam gelar perang dan keprajuritan. Keadaan yang sangat jauh berbeda dengan lingkungan luar istana dan alun-alun, pikirnya. Apakah ia mengetahui ada orang-orang yang menempel pada dinding istana atau sedang menyatukan tubuh dengan tumbuh-tumbuhan yang ada di taman? Agung Sedayu tidak menggunakan Sapta Pangrungu atau Sapta Pandulu karena sikap itu akan membuatnya seperti tidak menghormati rancangan petinggi Mataram, terutama Raden Mas Rangsang.

Setelah melalui lorong remang yang tidak begitu panjang, mereka pun tiba pada kelokan kecil pada ujungnya. Mereka disambut usapan udara dingin masuk melalui lubang angin di bawah atap. Tidak sampai belasan langkah maju, mereka berada berdiri di depan pintu setinggi dada orang dewasa. Setiap orang yang ingin memasuki ruangan harus membungkukkan badan karena pintu cukup rendah. Keberadaan pintu itu cukup tersembunyi dari pandangan mata. Warna dan bentuk daunnya sama dengan dinding yang mengitarinya. Tidak ada tanda khusus atau yang bisa dikenali sebagai tanda bahwa ada pintu di dekat ujung lorong. Bila bukan orang-orang khusus yang mendapat izin Panembahan Hanykrawati atau pemangku keamanan, maka sudah pasti pintu tersebut tidak akan dapat dikenali.

Pintu yang disamarkan lantas terbuka melalui usapan dan beberapa ketukan pelan Raden Mas Rangsang pada dinding yang membidangi pintu. Sejenak mereka berdua telah berada di dalam ruangan yang memiliki lebar dan panjang masing-masing sekitar dua belas atau empat belas langkah. Raden Mas Rangsang bergegas membuat api kecil seukuran kelingking dengan bahan minyak buah jarak dan sabut kelapa terpilin, lalu menempatkan tatakan api di atas lantai tepat di tengah ruangan.

Agung Sedayu menebar pandangan. Ia tidak melihat sesuatu pun selain kursi dan meja yang tertata rapi pada sudut ruangan. Tidak ada yang istimewa pada bagian dalamnya. Tidak ada gambar, ukiran atau senjata yang terpajang. Tidak ada hiasan yang menempel pada dinding. Bagian dalam ruangan mempunyai warna pertengahan antara gelap dan terang.

“Aku akan meninggalkanmu sendiri di sini,” ucap perlahan Raden Mas Rangsang pada Agung Sedayu. “Aku akan menghadap ayah dan meminta izin agar beliau berkenan membuka diri untuk bercakap denganmu.”

“Saya, Pangeran,” kata Agung Sedayu.

“Adakah kau mempunyai keberatan atau sesuatu yang ingin kau ungkapkan?”

“Tidak ada, Pangeran.”

“Baik.“

Sepeninggal Raden Mas Rangsang, Agung Sedayu sedikit menjadi gelisah. Dadanya terasa sesak ketika dugaannya – mengenai kesehatan yang memburuk Panembahan Hanykrawati – semakin kuat. Namun jika menyatakan itu di depan Raden Mas Rangsang, bisa jadi, jawaban yang diterima adalah angin surgawi yang membiusnya. Pada sisi lain, bila putra Panembahan Hanykrawati mendiamkan persoalan tersebut maka keadaan pun tidak akan menjadi semakin buruk. “Aku hanya dapat membuat perkiraan bila sudah bertatap muka dengan beliau,” ucap Agung Sedayu dalam hati. Pada waktu itu, suami Sekar Mirah sudah bersiap diri bila Panembahan Hanykrawati dan putranya sama sekali tidak menyentuh masalah kesehatan. “Mungkin beliau berdua sudah mengabaikan keadaan diri karena telah menempatkan Mataram di atas segalanya,” demikian yang dikatakan Agung Sedayu pada dirinya sendiri.

Keadaan di dalam ruangan, tiadanya suara yang terdengar dari dalam, dan juga warna dinding menjadikan semuanya seakan berhenti. Waktu mengambang pelan dan terasa cukup dapat dijadikan siksaan bagi Agung Sedayu. “Persoalan yang membelit Mataram bukan sebatas perebutan kekuasaan di antara keturunan Panembahan Senapati, tapi juga melibatkan orang-orang yang hidup sezaman dengan Sultan Pajang,” ucapan Agung Sedayu itu menggema di dalam ruang luas pikirannya. “Itu adalah persoalan yang tidak kalah berat dengan gunung-gunung yang ada di atas tanah Mataram. Tidak mudah memecahkan masalah ini. Pati, Madiun dan wilayah bawahan lain menyimpan cukup lama masalah yang terhubung dengan kekuasaan di kotaraja. Nyaris tidak ada jalan keluar yang dapat menyenangkan hati semua pihak. Keputusan Mataram sudah tentu tidak dapat diterima bulat-bulat oleh kerabat lainnya. Demikian juga tindakan-tindakan mereka yang berada di wilayah bawahan belum tentu mendapatkan perkenan dari kotaraja.”

Agung Sedayu tenggelam dalam kerumitan yang berkecamuk di dalam benaknya. Ini bukan sekedar menjinakkan atau meredam kebuasan pengikut Raden Atmandaru, pikirnya. “Jika hanya tentang permasalahan itu saja, Raden Mas Rangsang dan Pangeran Purbaya serta yang lainnya sudah dapat meredamnya dengan baik saat hari itu tiba,” ucap Agung Sedayu dalam hatinya. Ia menatap lekat pada dinding lalu berjalan semakin dekat hingga berjarak sejengkal saja.

Mataram, pada awal berdiri yang masih berupa hamparan hutan liar yang dikenal dengan nama Alas Mentaok, mempunyai kesadaran untuk berbenah agar dapat mengejar ketinggalan dari Pati dan daerah pesisir lainnya. Panembahan Senapati telah mengungkapkan dasar-dasar pemikiran yang diharapkannya dapat dikembangkan oleh para penerusnya. Menyatukan wilayah-wilayah yang dahulu berada di bawah Majapahit, mengembangkan pertanian serta perdagangan menjadi impian yang hendak diwujudkan oleh Panembahan Hanykrawati sebagai langkah kelanjutan dari pemikiran ayahnya. Pertempuran demi pertempuran, peperangan dan peperangan terus berpindah-pindah tempat dengan alasan dan tujuan yang serupa. “Keadaan dan perkembangan yang pasti dan jelas menguras pikiran serta perasaan Panembahan Hanykrawati,” kata Agung Sedayu perlahan sambil mengerutkan kening. Dalam diri Agung Sedayu – yang diajak secara langsung oleh Panembahan Senapati untuk membentuk satuan pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh – berkembang pula pemikiran yang sejalan dengan kehendak Panembahan Senapati ; bahwa pencapaian yang telah menjadi raihan haruslah dapat dipertahankan sebaik mungkin.

Mataram, di bawah kepemimpinan Panembahan Hanykrawati, berhasil berbenah serta berkembang. Jalan-jalan sudah banyak yang terhubung. Suasana malam di dalam kota sudah jauh berbeda karena lentera-lentera banyak bertebaran di sepanjang jalan.

Segenap waktu berlalu saat Raden Mas Rangsang memasuki ruangan bersama ayahnya, Panembahan Hanykrawati. Agung Sedayu memberi salam dan hormat dengan segenap perasaan. Panembahan Hanykrawati menerima sepenuh hati sambil sedikit lama memandangi Agung Sedayu yang berjarak tiga langkah di depannya.

“Ia telah menemani ayahku dan tetap berdiri di sisiku sepanjang waktu,” ucap Panembahan Hanykrawati dalam hati. Setelah bertanya jawab dengan Agung Sedayu tentang keadaan keluarga serta perkembangan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan, Panembahan Hanykrawati menempatkan diri pada kursi dengan sikap agung. Wibawa serta kerendahan hati yang berpadu serasi segera memancar melalui sort mata serta wajah Panembahan Hanykrawati. Dalam waktu itu, Agung Sedayu sekilas memandang wajah pemimpin Mataram lalu dengan cepat membuat penilaian yang menyesakkan dadanya.

“Pemerintahan Mataram akan datang dan pergi. Para pemimpin Mataram akan terbit dan terbenam. Kekalahan Mataram dalam suatu peperangan bukan alasan kuat untuk melepaskan segala yang ada di dalamnya,” kata Panembahan Hanykrawati kemudian. “Aku tidak mengingkari atau menghindar dari pendapat yang mungkin sudah terbentuk di dalam pikiranmu, Agung Sedayu.”

Murid utama Kiai Gringsing tidak mengucapkan kata sebagai tanggapan. Ia hanya mengangguk pelan.

“Bersamaku, Mataram mungkin sudah terlalu lelah menghadapi dan mengatasi perang saudara yang nyaris selalu ada pada setiap tahun. Namun, keadaan atau kelelahan itu mungkin tidak terjadi pada diri orang-orang yang tetap menginginkan sebuah kekuasaan.” Ucapan Panembahan Hanykrawati seperti aliran air yang sedang berusaha melewati bebatuan yang menjadi rintangan. Penerus Panembahan Senapati tersebut lantas memalingkan wajah pada putranya, kemudian berkata, “Raden, keinginan untuk berkuasa, keinginan untuk memperbanyak pundi-pundi emas atau pelampiasan hasrat jasmani tidak pernah mengenal kata undur diri. Setiap orang, bahkan mungkin kebanyakan orang selalu merasa jauh lebih muda dan panjang usia bila berbicara mengenai keinginan-keinginan itu.” Lalu Panembahan Hanykrawati merendahkan suara, “Aku harap kau dapat menjaga diri lebih baik dari sekarang.”

“Saya mendengarkan, Ayah,” kata Raden Mas Rangsang yang duduk sedikit condong di depan Panembahan Hanykrawati.

Wedaran Terkait

Geger Alas Krapyak 90

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 9

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 89

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 88

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 87

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 86

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.